Oce Satria
RUANG PUBLIK tapi dikuasai secara tidak mutlak oleh pribadi. Namanya media sosial. Tahun-tahun belakangan manusia dimanjakan oleh berbagai media sosial yang bisa diakses dan digunakan sesuka hati. Syukurlah.
Jadi, bergembiralah dengan dunia yang semakin bebas dan semakin membuat kita cerdas dan (bisa jadi) membuat kita semakin bodoh, karena media sosial. kemampuan kita untuk bijak menggunakannya memang sebuah keniscayaan. Karena kalau tidak, kita tidak tahu kita sedang ngapain berwkwkwkwk, berteriak, bergunjing atau berdiskusi di medsos ini.
Satu hal, dewasa ini semua orang semakin pandai mengutarakan apa yang ada di hati dan kepalanya di timeline alias linimasa, beranda atau lapak, lapau, kedai dan apapun namanya. Dari Facebook, Twitter, Blog, WhatsApp, Telegram dst dst. Itu bagus, karena menulis adalah sebuah kemewahan.
Mengutip Imam Al Ghazali : "Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah". Itu artinya dengan menulis kita sedkit punya kemewahan, atau katakanlah senjata untuk sekadar tak berdiam diri melihat dunia, agar kita tak cuma bengong lalu merutuk dalam hati.
Sorry, saya terlalu bertele-tele untuk sampai kepada maksud dan tujuan tulisan ini.
Begini.
Hari-hari terakhir ini saya agak terganggu dengan saran, atau anjuran atau nasehat sebagian orang agar jangan terlalu mengumbar kata-kata dan gambar di medsos. Misalnya, tidak terlalu nyinyir soal keadaan negara, soal hukum, keadilan sampai masalah beragama.
Namun, kembali menyitir Al Ghazali, orang-orang marjinal, kaum kebanyakan, masyarakat awam, akar rumput, si "bukan siapa-siapa" tidak harus diam saja ketika banyak hal yang membuat kening berkerut melihat kenyataan.
Saya atau teman-teman saya tak punya kuasa, bukan anak raja, bukan anggota dewan yang punya wewenang memanggil penguasa untuk dipersoalkan kebijakannya. Kaum awam juga bukan pengamat yang berpengaruh, dan juga bukan pemilik media mainstream untuk mempengaruhi kebijakan penguasa.
Jadi, pebiarkan sajalah orang-orang macam kami ini mengomel, menggerutu, mempergunjingkan, dan berkeluh kesah di media sosial ini. Jangan, kemewahan yang secuil ini dipersoalkan pula, disuruh diam pula.
Memuji alangkah bagusnya, tapi mentertawakan hal-hal yang tak masuk akal pun jangan dilarang-larang. Kita tidak sedang mempurukkan mereka yang berbuat semau-maunya di tengah masyarakat, tapi kita sekadar bersorak-sorai di medsos. Didengar syukur, tak dipedulikan pun tak ajan.
Dus, Anda pemilik akun di media sosial teruslah berteriak, berkeluh kesah, curhat kata anak-anak muda. Soal rambu-rambu, tentu anda lebih mahfum.
Segitu saja dari saya hari ini.
Seruput Kopi Siang
Wassalam
Oce Satria, Tukang Ngopi, dan Tukang Kabar