Diktator Itu
Tripoli - The Guardian edisi Selasa (22/2/2011) melansir sejumlah diplomat Libya di luar negeri membelot dari kepemimpinan Moammar Khadafi. Di antaranya adalah Dubes Libya di Jakarta. Dubes di China, India dan Polandia, Dubes Libya di India, Ali al-Essawi , diplomat di Liga Arab dan misi Libya di PBB. Dubes Libya di AS juga dikabarkan mundur.Mereka membelot sebagai bentuk protes atas kekerasan rezim Khadafi kepada pendemo.
Selain para diplomat, dua pilot jet tempur Libya juga membelot. Mereka kabur dan mendarat di Malta karena tidak mau disuruh menembaki demonstrans anti-Khadafi.
Aksi-aksi demo menuntut mundurnya Khadafi tengah marak di Libya. Namun Khadafi meresponnya dengan menembaki para pendemo dengan jet-jet tempur. Menurut organisasi HAM internasional, Human Rights Watch, diperkirakan 200-an orang pendemo tewas. Komisi HAM mengatakan, pada Minggu (20/2) kemarin, mengumumkan setidaknya sudah 233 rakyat Libya terbunuh sejak demonstrasi besar-besaran yang terjadi sejak Kamis lalu, yang terinspirasi gejolak politik dalam negeri di Tunisia dan Mesir, yang menumbangkan presidennya masing-masing. Yakni, almarhum Zine El Abidine Ben Ali dan Hosni Mubarak.
Dalam aksi hari Senin (21/2/2011), rezim Kadhafi menembaki pawai pendemo dengan mengerahkan jet tempur dan peluru tajam.

"Apa yang kami saksikan hari ini sungguh tak terbayangkan. Pesawat tempur dan helikopter tanpa pandang bulu memborbardir satu area ke area lainnya. Banyak, banyak yang tewas," kata saksi Adel Mohamed Saleh dalam siaran langsung televsi Al Jazeera..
Khadafi memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan setiap pemberontak yang mencoba menggoyang pemerintahannya selama 41 tahun. Dia juga memperingatkan, mereka akan dieksekusi dan berjanji memeranginya sampai akhir. Mantan kolonel angkatan darat yang kini berusia 68 tahun itu mengatakan, "Moamar Khadafi adalah pemimpin revolusi; Moamer Kadhafi tidak memiliki posisi resmi untuk mundur. Dia adalah pemimpin revolusi selamanya."
Khadafi mengatakan bahwa ia akan menyuruh orang agar melakukan "pembersihan" dari rumah ke rumah di Libya bila pengunjuk rasa yang turun ke jalan tidak menyerah. "Kami belum menggunakan kekerasan, namun jika kami rasa perlu untuk melakukannya, maka kami akan melakukan hal itu," katanya dalam pidato bernada tegas namun bertele-tele di televisi nasional Libya.

"Jika kalian tidak menurunkan senjata ... kami akan meluncurkan aksi Tuhan, saya akan meminta satu juta orang untuk melakukan pembersihan di Libya dari rumah ke rumah," tegasnya. Khadafi juga berikrar tetap berada di Libya sebagai pemimpin revolusi, dengan mengatakan akan mati sebagai "syuhada" di tanah leluhurnya itu dan bertarung hingga titik darah penghabisan.

Dubes Libya di India, Ali al-Essawi, menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk turun tangan "Saya serukan pada lima anggota Dewan Keamanan PBB. Sekarang adalah waktu untuk melindungi rakyat Libya,"

Namun GD Muhammad, mahasiswa Indonesia di Libya, berkabar, seperti ditulis Abdul Hadi WMdi status fb-nya; Ternyata muncul begitu banyak Saksi Mata bayaran negara asing untuk membuat berita bias tentang kerusuhan di Libya, serta begitu didramatisir dan dilebih-lebihan. Tujuannya untuk memburuk-burukkan Qadhafi.Tak benar pula yang melempar bom ke arah demonstran adalahjet-jet pesawat tempur rezim Libya
(dihimpun dari berbagai sumber/ekast)