Liga Primer Indonesia yang bakal launching 8 Januari 2011 nanti meniupkan dugaan bercampurnya urusan pribadi dan politik dalam sepakbola Indonesia. Setidaknya itu tercium dari membelotnya PSM Makasar dari Djarum ISL ke LPI.

Sudah bukan rahasia lagi hubungan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dengan Ketua Umum PSM Makassar yang juga Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajudin tidak terlalu baik karena urusan pribadi dan politik. Perseteruan itu seperti bertemu ruas dengan buku ketika Arifin Panigoro menggagas LPI, dan Arief membawa PSM bergabung. Nurdin Halid jadi musuh bersama dengan menjadikan LPI sebagai ajang perlawanan.

Memang, masuknya pengaruh politik dalam sepakbola tak dapat dipungkiri. Mungkin inilah akibat yang harus ditanggung bila sepakbola ikut diurus pejabat, gubernur, bupati dan walikota. Mereka bukan tulus mengurusi sepakbola tapi memiliki agenda dan ambisi pribadi: pencitraan dan - siapa tahu - kepentinan bisnis.

Saat ini ada 19 kontestan LPI. Mereka berasal dari klub bentukan baru dari klub induk semisal Persema FC yang dibentuk ketua umum Persema Malang, Peni Suparto yang juga walikota Malang. Ada juga klub yang berasal dari ISL seperti PSM. Bahkan Persibo Bojonegoro, klub promosi Djarum ISL pun membelot ke LPI.

Arifin Panigoro pun tak terlepas dari kecurigaan mengusung ambisi pribadi. Bagaimanapun, bila sepakbola masih diurus oleh pejabat, mimpi membawa sepakbola ke pentas dunia tetaplah tinggal mimpi