Facebook vs Twitter
Twitter itu tidak menarik sama sekali. 4 bulan lalu saya coba bergaul di situs jejaring Twitter, sekedar membuktikan prasangka saya. Saya heran kenapa berbagai berita mulai dari berita politik sampai selebritas selalu menyebut-nyebut microblogging itu. Kenapa para politisi, aktivis, selebritis dan orang-orang terkenal lainnya memilih bergaul di twitter ketimbang di facebook. Lalu saya bikin akun dan mendaftar.
Benar! Twitter tidak menarik sama sekali.

Twitter sangat sederhana dan pelit , fitur yang disediakan juga sedikit. Bahkan untuk apdet status pun kita hanya diperkenankan membubuhkan 140 karakter. Bandingkan dengan facebook yang bermurah hati menjatah 420 karakter. Jika anda buka di beranda maka segala macam tweet dan retweet yang pendek, aneh, tidak menarik mengalir seperti bah. Susah dikejar.

Sebuah penelitian psikologi oleh Dr Tracy Alloway dari University of Stirling di Skotlandia. Dia mengatakan Twitter dan Facebook sangat berbeda jika ditinjau dari segi pengaruh peningkatan daya ingat. Dalam istilah lain adalah working memory yang berhubungan dengan penyimpanan daya ingat sementara dan manipulasi informasi jangka pendek (bahasa psikolog).

Dr Alloway telah mengembangkan program pelatihan daya ingat lemah bagi anak-anak dalam usia 11-14 tahun di sebuah sekolah di Durham. Pada penelitiannya, dia mendapatkan kesimpulan bahwa bahwa Facebook sangat membantu daya ingat dan kecepatan berpikir. Di sisi lain, Twitter dan Youtube justru mengurangi daya ingat dan kecepatan berpikir.

Betul juga kalau dipikir-pikir. Permainan atau game di facebook seperti game yang berkaitan dengan perencanaan dan strategi sangat membantu peningkatan daya ingat dan kreasi berpikir. Pengguna facebook lebih leluasa mengembangkan kreatifitas, imajinasi dan kemampuan menulisnya.

facebook menyediakan banyak aplikasi yang memacu perkembangan daya ingat seperti chatting dengan teman-teman, melihat foto dan video, bahkan kita bisa ikut tes IQ.

Mengapa twitter justru mengurangi daya ingat dan berfipikir anda? Hasil analisa Dr Alloway mengklaim: "Di Twitter anda menerima informasi yang sangat ringkas dan datangnya pun tanpa henti. Anda tidak harus memproses informasi tersebut. Akibatnya, anda menjadi tidak terlalu memperhatikan informasi itu sehingga tidak melibatkan otak dan proses hubungan syaraf lainnya".

Lalu, apakah saya harus menghapus akun twitter saya?
Ah, ngapain juga dihapus. Buat iseng-iseng nggak apa-apalah (ide tulisan dan beberapa bagian berasal dari bangdel