Orang Gila di Teras Masjid



/cerpen: Oce Satria

"Mas, jadi juga resuffle ternyata! Empat menteri, Mas. Empat!" sebuah pesan Whatsapp masuk. Dari Muklis, kawannya yang kini bekerja sebagai PNS kantor Camat, sesama jemaah masjid di komplek tempat mereka tinggal. Darmin membaca pesan itu dengan hambar. Pesan yang mungkin dikirim dengan perasaaan seolah sedang membocorkan info terbaru langsung dari Ring-1.

Darmin mengetik hambar, "Ora urus!"

Dan seketika itu pula emotikon ngakak muncul berjejeran dari chat balasan Mukhlis.

Percuma saja mengomentari hal hal yang sudah sangat template dalam kehidupan bernegara masa kini. Tak ada lagi yang istimewa. Darmin yang dulu hobi bicara perpolitikan mutakhir, belakangan mulai muak dan memilih mempersetankan segala hal yang muncul di layar berita. Dirinya dan juga orang-orang gigih mengkritik tak lebih hanya anjing bagi kafilah. Gonggongannya tak mengubah apa-apa. Pertunjukan jalan terus.

"Tapi kalau orang gila di teras masjid itu, kamu sudah tau?" WA Muklis lagi.

Darmin mengernyitkan kening. "Orang gila? Di teras masjid? Masjid mana?" tanyanya.

"Masjid Nurul Ilmi, masjid kita."

"Jamaah kita?"

"Sepertinya orang jauh. Entah dari mana. Dengar dengar dari Lampung."

"Trus?"

"Ya, Mas coba pikirkan bagaimana cara mengusirnya. Tak elok ada orang gila ngejogrok di pojok teras masjid. Mana tentengannya banyak banget. Kayak orang pindahan rumah!"

Darmin tak lagi membalas WA. Lalu kembali menghadapi komputer, mengedit sejumlah berita hari ini. Komputer yang membuat Darmin jengkel luar biasa. Kamu tahu? Komputer di kantor Darmin seperti barang rongsokan yang dipaksa bekerja. Tampilan layar monitornya melompat semau-maunya padahal hanya sekali lurus saja telunjuk Darmin menekan mouse. Daya ingat komputer pun sudah melamban, responnya teramat lama terhadap perintah, seperti menyuruh kura-kura membeli rokok ke warung.

Hari ini sudah puluhan kali keberapa komputer desktop ini itu bertingkah. Pikiran Darmin sudah tak beraturan pula. Hatinya palak bekerja dengan komputer yang seumuran dengan usia koran mereka. Sudah tak makan servis lagi. Tapi tetap disiksa bekerja oleh orang-orang di kantor. Ia mengingat-ingat, mungkin komputer mulai bertingkah sejak Darmin dan orang-orang di kantor lebih sering mengedit berita di handphone dan bisa di mana saja untuk media online mereka. Komputer meja tampaknya merajuk pada perubahan budaya itu, lalu mulai bertingkah macam-macam. Dari mouse, kibod, monitor dan - yang paling sering - CPU. Kantor ogah mengganti dengan yang baru. Tukang servis sudah bolak balik ke kantor di ruko usang itu, datang memperbaiki. Orang-orang di kantor redaksi pun sudah bosan melihat wajah tukang servis itu. Namanya Wibowo, kerjanya lamban dan banyak menghabiskan anggaran. Dan kantor tetap saja memilih dia sebagai jurus selamat IT. Darmin pun sudah muak padanya. Pasalnya, Wibowo pria aneh. Ditanya ini itu dia gampang tersinggung. Akhirnya setiap kali dia dipanggil datang memperbaiki komputer, Darmin sengaja meninggalkannya sendiri, dan memilih merokok di belakang. 

Sore ini koran harus cetak lagi, setelah seminggu absen. Statusnya koran harian. Tapi kini, ia hanya naik cetak kalau ada pesanan advertorial beberapa halaman dari pelanggan. Kalau tidak, Darmin tidak ke kantor. Korannya sudah serupa ayam gadis bertelor, hari ini bertelor dua hari tidak. Kantor itu kini sepantun ciloteh lama: bak kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Darmin menyambar jaket di sandaran kursi, meraup kunci motor. Ada baiknya kelelahan di masa sakratul maut ini ditinggalkan. Setelah tugas mengedit selesai, pulang adalah obat lelah. Tapi di tengah jalan pikirannya kacau lagi. Galau lagi. Pulang dengan beban kecemasan esok hari, bukan lagi obat pereda lelah. Darmin justru lelah hati karena masa depan kantornya makin tak pasti.  Atau sebenarnya sudah pasti. Pasti mati. Merekalah yang mungkin tak siap. Kekalahan demi kekalahan hari ke hari oleh terjangan teknologi. Dan kini datang pula kecerdasan buatan. Serasa sudah terkapar tak berdarah dikepung pula oleh bejibun hantu baru. Dan ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kenyataan ini kepada istrinya. Karena jadwal gajiannya sudah tak beraturan, apatah lagi nominalnya. 

Darmin memutuskan membelokkan setang motor ke kedai kopi sebelum lampu merah. Bagi manusia dengan kualifikasi faktual seperti Darmin kini, kedai kopi pinggir jalan, itu sudah mewah sebagai tempat nongkrong. Memesan segelas kopi lalu menyulut rokok. Obat hati berbagai perkara. Ia sebenarnya sudah tak berselera dengan rokok. Apalagi sekarang merek rokok sudah bertimbun-timbun banyaknya. Tanpa cukai. Menteri Keuangan menaikkan cukai rokok gila-gilaan. Katanya atas desakan  kelompok anti rokok juga. Tapi ia lupa, rokok tak mati-mati. Yang mati adalah buruh-buruh dan petani tembakau. Rokok mahal dan rakyat macam Darmin tak sanggup mengeluarkan uang untuk harga yang gila itu. Maka, bertumbuhanlah merek-merek ajaib tadi, dengan harga sangat murah. Pilihan baru khalayak pinggiran.

Bagi Darmin dan orang-orang segolongan dia, merek bukan perkara pokok. Merokok juga tak terlalu baik bagi kesehatan, dia tahu. Tapi buat dia hanya itulah satu-satunya cerobong asap untuk saluran kepengapan hidup yang kian hari sangat meneror ini. Dan segelas kopi. Tanpa gula. 

Jadi kalau kamu melihat ada pria pria paruh baya duduk sendirian termenung di depan rumah, di halte, di bangku trotoar, di atas motor parkir, dengan rokok di jarinya, itu bukan untuk gaya-gayaan. Itu karena di kepalanya sedang bertarung api kecamuk yang ia sendiri tak mengerti bagaimana melerainya. Jadi, maklumi saja. Jangan kamu petuahi dengan segala macam ungkapan nasehat bijak. Kalau kamu sempat menjumpai pria seperti Darmin. Kamu doakan saja supaya negara kesatuan republik ini punya daya memajukan kesejahteraan umum. 

Ia duduk di bangku panjang kedai kopi itu sekadar mempercepat malam datang. Melongok media sosial sebentar, lalu mematikan HP. 

Diseruputnya sisa kopi nyaris di dasar gelas. Pahitnya makin berasa. Darmin menikmatinya. Kemudian menindih rasa pahit dengan isapan batang rokok terakhir. Pikirannya berputar terus. Tapi tak kemana-mana. Di dalam kepalanya tak ada jalan keluar. Satu-satu jalan adalah berjalan dalam kebingungan yang sempit.

Lima menit kemudian Darmin sudah berada di antara kerumunan ribuan sepeda motor. Pemandangan jalan di jam pulang dari hari ke hari di kota ini tak pernah berubah. Bus transportasi massal yang disediakan pemerintah tak diminati. Semua orang ingin serba cepat serba langsung dan tak mau menunggu. Makanya finance motor cicilan laku keras.

Dan benar, ketika Darmin datang beberapa saat begitu adzan magrib berkumandang, di teras pojok masjid dilihatnya sosok yang diceritakan Mukhlis tadi. Laki-laki, mungkin berumur 40an. Rambutnya gimbal awut-awutan. Bajunya, kaos hitam berlapis kemeja putih yang sudah menguning dan kumal dan banyak sobekan. Celananya selutut, dan sudah robek, menganga sampai ke pangkal paha. Kulitnya sudah pasti kumal coklat pekat oleh daki yang tebal. Jari tangan kanannya menjepit puntung rokok dengan abu panjang yang tak kunjung patah. Tak dihisapnya. Asapnya merambati sebagian rambut.

"Sejak abis subuh tadi ada," ujar marbot.

Darmin beralih ke kamar wudhu. Shalat magrib sudah akan dimulai. 

Kehadiran orang gila di teras masjid menjadi pembicaraan warga. Pengurus masjid pun mulai membahasnya dalam rapat darurat, mengingat ternyata sudah berlalu sepekan, orang gila itu tak beranjak pergi. Jangankan pergi, posisinya dari pertama datang sampai detik ini masih di titik yang sama. Ia makan minum di situ. Merokok di situ. Tidur di situ. Bahkan, menurut cerita marbot, kadang orang gila tersebut melakukan gerakan seperti orang salat. Tata urutannya teratur, kata marbot. Rukuknya, sujudnya, duduk tahiyatnya sesuai dengan petunjuk yang diajarkan para ustad. "Ada juga dia membaca potongan beberapa ayat Qur'an. Bagus pula!" cerita Marbot.

Jamaah lain bercerita pula kesaksiannya. Bahwa si lelaki gila itu sering bicara sendiri. Seperti mengobrol dengan lawan bicara imajinernya. Topiknya pun tak kaleng-kaleng. Ia bicara politik, seluk beluk hukum dan banyak hal seolah-olah sedang memberikan kuliah kepada lawan bicara imajinernya. Tempo-tempo suaranya meninggi ketika ia bicara soal mafia tanah. Tercetus dari mulutnya bahwa ia menjadi korban permainan oknum pejabat instansi pertanahan, aparat dan entah siapa lagi. Ia menceritakan kalau tanah warisan miliknya dikapling-kapling orang dan ia malah dijebloskan ke dalam sel aparat. Meski ceritanya melompat lompat ke sana ke mari, tapi bisa ditangkap, bahwa ia sedang mengisahkan pengalaman buruknya menjadi korban permainan oknum pejabat. Imajiner atau beneran, entahlah. Mengapa harus percaya pada orang gila. Kadang emosinya meledak-ledak saat bercerita, lalu sekonyong-konyong terkekeh tanpa sebab.

Ada warga yang iseng mengajaknya mengobrol. Lalu keluarlah dari mulutnya aneka topik. Mula-mula bicara dengan nada datar, tentang pekerjaan yang pernah ia jalani. Ia mengaku  ditipu ratusan juta gara-gara ikut ajakan seseorang untuk menanamkan modal dalam bisnis yang ditawarkan. Uangnya lenyap, kawan bisnisnya raib. Setelah itu datang pula kasus tanah warisan yang ia aku telah dirampok pula. Tawanya lebar setelah menceritakan kisah antah barantah itu. Tapi kemudian ia tersedu-sedu. Warga tak bisa berbuat apa-apa. Namanya juga cerita orang gila, bagaimana menanggapinya?

Takmir masjid rupa-rupanya kewalahan dan tak sanggup mengusir lelaki gila itu. Takmir tak sampai hati pula mengusir. Ini sudah sebulan lebih ia berdiam di sana. Jemaah masjid yang kasihan, sesekali mengantarkan nasi bungkus untuknya. Di teras pojok itu kini sudah bertambah puluhan  botol mineral kosong tersusun. Minuman mineral itu pemberian orang-orang yang iba melihat keadaannya. Kerjanya hanya makan, minum, merokok, dan mengobrol dengan teman imajinernya. Berbagai-bagai hal ia kupas. Bahkan menurut cerita Wak Dairul, si lelaki gila itu asik berdebat perkara agama dengan lawan debat gaibnya. Anehnya, ia tampak paham perkara-perkara yang sering jadi bahan perdebatan orang di media sosial, soal bid'ah, perkara isbal, perkara qunut, perkara macam-macam furu'iyah yang sering dipertengkarkan umat Islam. 

"Dia pro mana? Pro anti bid'ah atau sebaliknya?" tanya Darmin.

Wak Dairul menggeleng. "Tak jelas."

Bulan ketiga sudah. Si lelaki gila serba tahu itu masih di area pengungsiannya, teras pojok masjid. Dan kini ia sudah mulai iku membantu mengepel lantai teras, menyapu. Sesekali ia inisiatif menyalakan tape recorder murotal, sepuluh menit menjelang masuk waktu shalat. Marbot tak bisa berbuat apa-apa. Soalnya marbot kalah cepat. Tugasnya disalib si lelaki gila. 

Pihak takmir sudah berkali-kali memcoba menyuruhnya mandi sembari memberikan satu stel pakaian pengganti. Lelaki itu mengambil pakaian bersih pemberian takmir. Ia ke kamar mandi. Tapi ia tak mandi. Hanya bersalin pakaian saja. Marbot dan takmir masjid geleng-geleng kepala. 

Darmin pernah mengusulkan agar pihak takmir masjid menghubungi dinas sosial agar si lelaki itu diurus saja pihak dinas sosial. Setelah petugas dinsos datang hendak mengevakuasi, si lelaki gila itu meronta-ronta dan mengamuk. Ia berteriak dan tersedu-sedu. Akhirnya pihak takmir meminta petugas dinsos balik ke kantor saja. "Biar di sini saja dulu. Insyaallah kami akan coba mengurusnya," ucap takmir.

Dan kini, sudah di bulan kelima pula. Si lelaki gila itu tak juga pergi. Penampilannya masih seperti dulu. Hanya pakaiannya saja yang sudah berubah, celana bahan dan baju koko pemberian takmir. Gimbalnya masih sama, awut-awutannya masih sama, kumalnya masih sama, baunya masih sama. Dan ia tetap rajin berdebat.

Puncak ketika dini hari pukul lima kurang lima belas menit ia mengumandangkan adzan subuh. Suaranya merdu, mendayu. Sehingga tergeraklah hati warga di seputaran masjid untuk datang menunaikan kewajiban shalat subuh. Pagi itu jamaah shalat subuh penuh, padahal biasanya hanya dua shaf saja. Jamaah kontan saja terkejut begitu tahu yang adzan tadi ternyata orang gila, lelaki gimbal di teras pojok masjid. Entah bagaimana ia bisa-bisanya ambil inisiatif mengumandangkan adzan. Akibatnya, takmir memutuskan adzan diulang dan dikumandangkan oleh muazin yang biasa adzan. Mana bisa sah adzan orang yang terganggu jiwanya. 

Cerita adzan teraneh itu jadi pembicaraan di mana-mana. Banyak yang heran, kenapa adzan yang dikumandangkan orang gila mampu membuat banyak orang datang ke masjid? Mereka datang benar-benar untuk shalat atau hanya shalat karena penasaran ingin tahu siapa muazinnya?

Darmin pusing. Kecamuk di kepalanya belum selesai datang pula perkara baru!

Pekanbaru 29 April 2026
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Below Post Ad