SETIAP hari ada pertengkaran. Sepanjang masa. Apalagi dalam urusan agama. Selalu muncul rivalitas dan saling kritik antara satu golongan dengan golongan lain yang berbeda cara memahami satu ajaran yang sama-sama mereka anut. Umumnya debat panas itu ada antara sesama penganut kekristenan dan sesama penganut Islam. Artinya ini debat internal, buka debat antar agama. Tapi membuat miris.
Perdebatan pertengkaran itu terpampang tiap hari di media sosial. Saya terpancing juga untuk berciloteh, menyampaikan uneg-uneg.
Di kekristenan sejak dulu debat tak berkesudahan antara Protestan dengan Katolik. Kita lihat saja di tanah air misalnya, yang viral tentu saja saling serang antara pihak Katolik yang dimotori Pastor Patris Allegro dari NTT yang tiada henti menyerang paham protestanisme (kata dia). Misalnya, ia selalu mempersoalkan Sola Scriptura (prinsip teologis fundamental Protestan yang menegaskan bahwa Bibel adalah satu-satunya otoritas tertinggi, mutlak, dan tidak dapat salah dalam segala hal yang berkaitan dengan iman dan praktik keagamaan). Lalu ada debat soal liturgi dan purgatory (api penyucian) dan lain-lain. Masing-masing pihak sekuat tenaga membela keyakinan mereka (apologetika).
Belum lagi debat yang tak kalah panasnya antara 3 penganut paham: Tritunggal (Trinitarian), Oneness (Keesaan/Jesus Only), dan Unitarian. Tritunggal percaya Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi (Bapa, Putra, Roh Kudus), Oneness percaya Allah adalah satu pribadi yang bermanifestasi sebagai Yesus, sedangkan Unitarian menolak keallahan Yesus/Roh Kudus dan menganggap Allah hanya satu pribadi (Bapa).
Seterusnya juga debat antar berbagai denominasi karena beda penafsiran teologis. Kalau debatnya santun tak apa-apa. Kadang karena ego, emosi tak tertahankan, lalu berubah jadi debat kasar. Yang kasihan jemaat ikut-ikutan emosi.
Sebagai seorang muslim, saya sebenarnya "menikmati" perdebatan dua kelompok ini. Dalam arti, dengan mengikuti perdebatan itu, pengetahuan saya nambah tentang kekristenan.
Cuma mirisnya, dalam arena perdebatan itu, meski sama-sama sebagai pemimpin agama dan rohani, akibat debat panas, akhirnya saling maki dan kata-kata kasar tak terelakkan, meski mereka membantahnya. Debat panas yang berlangsung di hadapan netizen itu mau tak mau memancing jemaat masing-masimg untuk mendukung pendeta dan pastor mereka. Apa boleh buat, mereka juga ikut-ikutan caci maki, bahkan sering terlihat sangat kasar dan tak patut dilakukan orang beragama. Berkebalikan dengan keyakinan mereka bahwa Yesus adalah contoh kasih terbaik.
Itu di kekristenan. Di kalangan umat Islam juga setali tiga uang. Lantara berbeda cara memahami dan menafsirkan nash (Quran dan hadist) maka muncul kelompok, mazhab, aliran, atau apa pun istilahnya. Walaupun perbedaan itu fitrah dan sebenarnya wajar, namun karena terlalu merasa diri dan kelompok mereka paling benar, saling serang tak terelakkan juga. Dulu yang paling dikenal adalah perdebatan antara jamaah NU dengan jemaah Muhammadiyah. Dua ormas keislaman terbesar di tanah air ini masing-masing menggunakan pemahaman berbeda dalam beberapa hal aktivitas keagamaan atau ibadah. Tahun-tahun 50-70an terkenal istilah TBC (Tahahyul - Bid'ah - Churafat) yang muncul dalam perselisihan paham itu. Misalnya yang paling dikenal adalah soal menggunakan qunut atau tidak menggunakan qunut. Selalu terjadi pertentangan (debat) bahkan sampai keluar dari areal debat (pertengakran fisik). Alhamdulillah soal qunut dalam sejumlah perbedaaan antara NU dan Muhammadiyah itu kini jarang terdengar lagi lantaran kiam hari kian bagus cara mendamaikan ini oleh pemuka agama kedua ormas ini.
Selesai NU dan Muhammadiyah, lalu muncul perdebatan baru yang tak kalah seru dan panasnya. Apalagi kalau bukan debat antara kelompok yang menyebut diri sebagai ahlul sunnah waljamaah (aswaja) dengan kelompok yang disebut dengan Salafi- Wahabi.
Kelompok yang disebut terakhir ini getol mendakwahkan agar ummat Islam kembali berislam dengan cara berislamnya Rasulullah SAW, tanpa harus ditambah-tambahkan dengan hal-hal lain yang dianggap sebagai bid'ah. Mereka berpatokan pada hadist:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
yang umumnya diterjemahkan dengan "setiap bid'ah adalah sesat". Padahal oleh sebagian ulama makna Kullu dalam hadist tersebut tidak melulu artinya "setiap" atau "semuanya". Maknanya bisa juga "Sebagian besar".
Sebuah kajian yang pernah saya dengar, mengatakan begini:
Kata kullu (كلّ) dalam cerita Nabi Khidir di Al-Qur'an terdapat dalam Surat Al-Kahfi ayat 79.
Konteks ayat ini menjelaskan alasan Nabi Khidir merusak perahu milik orang miskin agar tidak dirampas oleh raja yang zalim.
Teks ayat (Al-Kahfi: 79): "...وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا"
Arti: "...Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap (kulla) perahu."
Makna Kullu di sini: Meskipun kullu secara bahasa berarti "semua/setiap" tanpa kecuali, dalam konteks ayat ini, mayoritas ahli tafsir dan bahasa (ahli ushul fikih) memaknainya sebagai 'ammun makhsusul ba'd (kalimat umum yang maknanya khusus).
Analisis Konteks: Raja tersebut tidak merampas semua perahu tanpa kecuali, melainkan merampas semua perahu yang bagus atau layak pakai (safinatin shihatin). Oleh karena itu, Nabi Khidir melubangi perahu tersebut agar menjadi rusak/cacat, sehingga raja merampasnya dan perahu tersebut kembali ke tangan pemiliknya yang miskin.
Sebagai jamaah Muhammadiyah, saya juga mulai paham dikit-dikit. Bahwa yang terjadi sebenarnya perbedaan cara menafsirkan. Urusan khilafiyah pada perkara cabang (furu'), bukan perkara pokok (ushul).
Perkara pokok berkaitan dengan akidah, tauhid, dan rukun iman yang bersifat mendasar serta disepakati ulama, sementara perkara cabang berkaitan dengan fiqih, muamalah, dan rincian ibadah yang memungkinkan perbedaan pendapat (ijtihad). Mendahulukan yang pokok adalah prioritas utama.
Oleh salah satu kelompok menilai, banyak aktivitas ibadah ummat Islam yang dianggap sebagai bid'ah, alias tak pernah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah secara tegas.
Debat dua kelompok ini makin menjadi-jadi karena tak hanya soal bid'ah yang jadi bahan bakar pertengkaran, tapi juga masalah perbedaan pemahaman dan penafsiran teks-teks Alquran dan Hadist. Satu pihak memahami nash secara literal, tekstual, apa adanya. Pihak lain, dengan argumen keilmuan yang lengkap memahami dengan hasil berbeda.
Sebenarnya, perbedaan dan debat itu biasa dan wajar saja. Hanya saja - ini yang bikin miris - mereka berdebat dengan dibumbui saling menjelekkan, menyerang personal, caci maki, dan mengkafirkan. Dan di media sosial, di mana perdebatan ini berlangsung, semakin kehilangan nilai-nilai agama lantaran dibumbui kata-kata kasar, membuat meme cemooh, mencoret (silang merah) gambar-gambar para ulama yang tidak mereka sukai. Cek saja postingan tentang Salafi/Wahani versus Aswaja si media sosial. Bacalah komen komen yang tak beradab. Menyedihkan.
Konon katanya, mereka sedang berjihad memperjuangan agama Allah, tapi kelakuan mereka bertolak belakang dengan teladan Rasulullah. Dan mereka merasa sok hebat. Sok paling alim, sok paling Qur'ani, sok paling pengikut sunnah Rasulullah. Paradoks.
Begitu di kalangan umat Kristiani, setali tiga uang dengan umat Islam yang terlihat di media sosial. Sehingga tersimpulkan, bahwa ada sebagian orang yang beragama tidak semata-mata ingin menjadi lebih baik, tapi sebenarnya ingin TERLIHAT lebih baik. Saling pamer sebagai yang paling benar sambil mencemooh pihak lain.
Mungkin ini yang disebut egoisme itu. (Oce)
Kopi sore☕
penikmat debat.
Foto ilustrasi, IG Abdel Achrian
APA PENDAPAT ANDA TENTANG TOPIK INI?: