Chairil Anwar, penyair pendobrak kata.
𝘈𝘳𝘴 𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢, 𝘷𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘳𝘦𝘷𝘪𝘴. Seni itu panjang, hidup itu singkat. Pepatah lama itu agaknya melekat kuat pada sosok penyair superstar Indonesia asal Payakumbuh ini: Chairil Anwar.
Nyaris semua orang di tanah air mengenal namanya. Tahu sepak terjangnya sebagai penyair paling ikonik, berpengaruh dan dibicarakan sepanjang masa. Ia maestro dan legenda, tentunya. Sejak kita SD, nama dan kiprahnya di dunia sastra Indonesia sudah dikenalkan. Puisi-puisinya akrab di telinga kita; 𝘈𝘬𝘶, 𝘒𝘳𝘢𝘸𝘢𝘯𝘨-𝘉𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪, 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘦𝘳𝘩𝘦𝘮𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘶𝘵𝘶𝘴, 𝘋𝘦𝘳𝘶 𝘊𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘋𝘦𝘣𝘶.
Kata-kata yang diusungnya sangat menusuk, menikam dan kuat kesan pemberontakan. Meski ia juga dengan amat puitis mengaku penghambaan dirinya di hadapan Tuhan.
Kalimat "Aku ini Binatang Jalang, dari kumpulan yang terbuang" begitu kuat melekat dalam ingatan kita. Kalimat yang bertenaga, ekspresif, individualis, dan dalam.
Siapa dia sesungguhnya?
Chairil Anwar dilahirkan tanggal 12 Juli 1922 di Medan (Deli), Sumatera Utara. Ayahnya Toeloes dan ibunya Saleha, keduanya berasal dari Payakumbuh, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sejarah mencatat, ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Sebagai anak tunggal, orangtuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala.
Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Ondwewijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun semangat pemberontakannya dimulai, ia tidak mau lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman. Pada usia 19 tahun.
Ketika orangtuanya bercerai, ia pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940. Di Jakarta ia mulai berkenalan dengan sastra, khususnya puisi.
Meskipun tidak menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.
Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Saat itu usianya 20 tahun. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Dia adalah pelopor angkatan 45.
Chairil juga mencemplungkan diri ke dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi Redaktur Majalah “Gema Suasana”, bulan Februari 1948 bersama dengan Ida Nasution. Lalu memimpin Majalah “Gelanggang”, lampiran kebudayaan Wartasepekan, dan di Majalah “Siasat”.
Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.
Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.
Puisi-puisinya banyak mencerminkan vitalitas puitis. Berkebalikan dengan kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya terutama tuberkulosis. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada 28 April 1949. Penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Menurut catatan rumah sakit, ia dirawat Karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbul lah penyakit usus yang membawa kematian dirinya - yakni ususnya pecah.
Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Chairil dirawat di CBZ (RSCM) dari 22-28 April 1949. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia bangun dia mengucap, "Tuhanku, Tuhanku..."
Dia meninggal pada sekitar pukul 14.30 WIB, 28 April 1949, dan dikuburkan keesokan harinya. Dari kamar mayat RSCM jenazahnya diantar ke kawasan Karet tempat pemakaman oleh banyak pemuda dan orang-orang Republikan termuka.
Tercatat dalam kiprahnya di dunia sastra, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi. Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudul Seru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terhempas dan Yang Putus (1949), danTiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin). Ia juga
menulis naskah terjemahan, antara lain, Pulanglah Dia Si Anak Hilang (Le Retour de I’Enfant Prodigue), penulis asli Andre Gide, terbitan Pustaka Rakyat 1948. Kena Gempur (Raid) penulis asli Jhon Steinbech. Terbitan Balai Pustaka 1951.
Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".
Dalam sebuah sajaknya, Chairil Anwar menyebut dirinya “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang”. Lalu Chairil juga menulis optimistis: “Aku mau hidup seribu tahun lagi!”. Namun, pada tahun terakhir menjelang kematiannya, dia sadar, hidup yang diinginkannya serba mustahil: “Hidup hanya menunda kekalahan… sebelum pada ahirnya kita menyerah.”
Ia meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta di usia relatif muda: 26 tahun 9 bulan. Ia menderita penuh paradoks, tapi dari kemiskinan penyair kurus berwajah tirus dengan mata merah ini lahir sajak-sajak yang memperkaya bahasa Indonesia. Tahun-tahun ketika Charil Anwar menciptakan sajak-sajaknya, bahasa Indonesia adalah bangunan yang belum lengkap. Bahasa Indonesia banyak mengalami pergantian ejaan serta berusaha melepaskan diri dari bahasa daerah yang mengepung dan menjadi bahasa utama hampir seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan peran sastra pun pada masa-masa itu kerap diragukan, disepelekan. Namun Chairil dengan gagah ada di lapangan yang masih berbahasa minoritas itu. Hal yang menakjubkan dalam puisinya adalah puisi itu mematangkan bahasa Indonesia yang belum matang dan belum cukup digerakan itu.Chairil menjadi sebuah ikon. Riwayat hidup dan puisi-puisinya memperkaya kita semua.
Sajak Chairil Anwar
𝘼𝙠𝙪 (Maret 1943)
𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘬𝘶
'𝘒𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 '𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘶
𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘶
𝘛𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶
𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨
𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨
𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘵𝘬𝘶
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨
𝘓𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪
𝘉𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪
𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘪
𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘶𝘭𝘪
𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪
𝙉𝙞𝙨𝙖𝙣 (Oktober 1942)
𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬𝘢𝘯𝘥𝘢
𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘣𝘶
𝘒𝘦𝘳𝘪𝘥𝘭𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢
𝘛𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘦𝘣𝘶
𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘩𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘬𝘩𝘵𝘢.
#UbahlakU
APA PENDAPAT ANDA TENTANG TOPIK INI?: