ASMARAMAN S. Kho Ping Hoo adalah penulis cersil terkenal Indonosia. Sudah puluhan cersil beliau karang. Terbanyak adalah cersil-cersil berlatar belakang sejarah dari negeri asal leluhurnya yaitu Tiongkok atau Cina. Konon beliau belum pernah ke Cina (belakangan ada yang bilang kalau beliau pernah ke Cina). Juga tidak bisa berbahasa cina dan tidak bisa ilmu silat. Selain cersil-cersil berlatar belakang sejarah Cina, beliau juga menulis cersil-cersil berlatar belakang sejarah Indonesia. Mulai kerajaan Singosari, Daha-Kediri, Majapahit hingga Kesultanan Islam. Juga menulis beberapa novel non silat.

Kreativitas beliau tiada batas dalam menuangkan ide-idenya ke dalam cersilnya. Penuh variasi dan tidak monoton. Baik itu tokohnya, latar belakang tokohnya, karakternya, sukunya, jenis kelaminnya dan lain-lain. Ada pendekar kembar, pendekar pria, pendekar wanita bahkan tokoh banci. Ada yang kocak, serius, pemarah, alim dan sebagainya.

Meski dalam cersilnya yang berlatar belakang sejarah Cina, di dominasi oleh para pendekar yang bersuku Han yaitu suku  mayoritas dan dianggap pribumi Cina, namun beberapa dari pendekar tersebut ada juga  dari suku lainnya yang ada di daratan Cina yang luas itu. 

Misalnya para pendekar dari suku Mancu antara lain Putri Nirahai, Milana dan lain-lain. Dari suku khitan seperti Yalina, Talibu, Maya. Dari suku Bhutan ada Syanti Dewi. Dari para Lama Tibet. Dari kalangan tokoh -tokoh sesat Cina bagian Selatan Thailand ada Datuk Sesat suami istri Pek Hiat Mo Ko dan Hek Hiat Mo Li. Hek I Mo Ong (Raja Iblis Baju Hitam) dari suku Kazak asal Sin Kiang. Ada juga dari suku Mongol, Uigur, khazakstan dll. Meski dari latar belakang agama dan keyakinan tidak ditonjolkan secara jelas oleh Kho Ping Hoo, namun dalam prilaku mereka melalui cara hidup mereka pada zaman dulu di masyarakat sering berpedoman hidup seperti agama-agama lokal Cina yaitu Taoisme (To), Kong Hu Cu, dan Buddha. Kalau tokoh-tokoh tuanya dominan dari partai-partai persilatan besar seperti Siauwlim Pai, Khun Lun Pai, Bu Tong Pai, Hoa San Pai, dan lain-lain yang menganut Buddha dan Taoisme (To). 

Kalau pendekar-pendekar, mudanya tidak terlalu ditonjolkan prilaku beragamanya. Meski sesekali tersirat diperlihatkan sembahyang di kuil-kuil Buddha, Kwan Im Bio (rumah ibadah tempat menyembah Dewi Kwan Im), atau tempat ibadah agama To. Melalui mengucapkan ayat-ayat agama Buddha, Khong Hu Cu dan To (Taoisme).

Diantara para tokoh yang berlatar belakang suku dan agama yang sudah saya uraikan di atas, ada seorang tokoh persilatan yang bersuku bangsa Uigur. Ia adalah  seorang Datuk Sesat  bernama Se Jit Kong dan berjuluk Hwe Ciang Kwi (Iblis Tangan Api). Ia beragama Hindu. Tapi istrinya  beragama Islam. Ia bernama Ju Bi Ta. Seorang istri yang Soleha. Sungguh keluarga yang unik dan aneh. Suaminya beragama Hindu tapi menjadi Datuk Sesat yang jahat dan kejam. Mungkin Hindunya "Hindu KTP". Sedangkan istrinya yang usianya jauh sangat muda, sangat lembut, baik Budi dan halus sifatnya serta soleha.

Keluarga Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong ini mempunyai putra tunggal bernama Si Wan. Dari kecil ia diajari ilmu silat oleh ayahnya yang sakti dan terkenal sebagai salah satu Datuk Sesat yang menggemparkan daratan Tiongkok. Ia membuat nama besar di daratan Tiongkok dengan menaklukkan tokoh-tokoh persilatan para pendekar, ketua-ketua partai persilatan besar seperti Siauwlim Pai, Khun Lun Pai, Bu Tong Pai, Hoa San Pai dan lain-lain. 

Yang paling menggemparkan, ia masuk ke Istana Kaisar Thai Cu (Cu Goan Ciang) Kaisar pertama dan pendiri Dinasti Kerajaan Beng Tiauw.  Dan mencuri barang-barang pusaka kerajaan. Ia  menjadi buronan pemerintah dan para pendekar di daratan Cina. Dan akhirnya ia kembali ke daerah Cina bagian barat dan tinggal di Kota Yin Ning provinsi Yi Li sebelah barat laut Cina.

Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong boleh saja di luaran adalah seorang tokoh sesat yang sangat jahat dan kejam. Membunuh lawan-lawannya seperti membunuh lalat tidak berarti. Anehnya, terhadap istrinya ia sangat sayang. Bahkan saking sayangnya cenderung takut dan sangat tunduk. Seorang suami ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri. 

Meskipun ayahnya seorang Datuk Sesat yang jahat, Hwe Ciang Kwi sangat sayang kepada Sin Wan. Meski demikian, sifat ayahnya tidak menurun kepadanya. Ia cenderung mengikuti sifat ibunya. Hal ini tidak mengherankan karena Sin Wan lebih dekat dengan Ibunya. Sejak kecil ia dididik oleh Ibunya tentang etika, sopan santun, tata krama, baca Al Quran agar menjadi orang baik. Ju Bi Ta tidak rela anaknya dididik tentang moralitas oleh Hwe Ciang Kwi. Apa yang bisa diharapkan dari seorang tokoh sesat yang jahat seperti suaminya itu? Meski suaminya mengaku-ngaku beragama Hindu, itu hanya "Hindu KTP". Karena dalam kenyataan hidupnya ia tidak pernah menerapkan ajaran Hindu yang mengajarkan kebaikan itu. Bahkan sangat bertentangan seratus delapan puluh derajat. Lagian Hwe Ciang Kwi lebih sering merantau di dunia kangouw dan jarang di rumah. Sehingga semakin dekatlah ia kepada Ibunya. Sedari kecil Sin Wan sudah diajari membaca kitab suci Al Quran. 

Ju Bi Ta sudah sering menasihati suaminya agar cepat bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Meski di rumah ia bilang ya, namun sesekali ia pergi keluar rumah. Dan bila pulang ia akan membawa oleh-oleh berupa barang-barang mewah emas berlian perhiasan mahal, pakaian mahal, mainan untuk putranya. Tapi malah diomeli istrinya yang berprasangka dan yakin sekali barang-barang tersebut di dapat dengan cara yang tidak halal. Demikian gambaran tentang keluarga Datuk Sesat Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong.

Meski keluarganya boleh dibilang sekuler heterogen dimana sang ayah Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong beragama Hindu ("Hindu KTP") dan ibunya suku Uigur beragama Islam. Ia sedari kecil lebih banyak diasuh ibunya ketimbang ayahnya yang jarang di rumah dan suka merantau di dunia kangouw. Ia oleh ibunya semenjak kecil diajari membaca kitab suci Al Quran. Yang menuntunnya menjadi orang baik dan pendekar yang berhati mulia.

Karma adakah hukum alam. Hukum sebab-akibat. Apa yang ditanam itu yang dipetik. Berbuat baik akan berbuah baik. Berbuat jahat akan berbuah jahat. Begitu pula perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan oleh Datuk Sesat Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong. Perbuatan jahat yang bagaimana yang tidak pernah dilakukannya?  Berbagai jenis dan macam kejahatan sudah ia lakukan. Dengan kesaktiannya ia membunuh para pendekar penegak keadilan dan kebenaran. Membunuhi orang-orang biasa yang tidak bersalah dengan kejam. Merampas dan mencuri hak milik mereka dan sebagainya. 

Meskipun ia sakti, tetapi di atas langit masih ada langit. Kejahatan akan selalu kalah oleh kebenaran. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Akhirnya Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong dapat dikalahkan oleh tiga orang Tosu sakti yang berjuluk Huang Ho Sam Sian (Tiga Dewa Dari Sungai Kuning). Mereka terdiri dari Ciu Sian (Dewa Arak) Tong Kui, Kiam Sian (Dewa Pedang) Louw Sun dan Pek Mau Sian (Dewa Rambut Putih) Thio Ki.  

Sam Sian ini tidak mengeroyok karena mereka tokoh-tokoh sakti golongan putih. Tetapi mereka bertarung secara kesatria satu lawan satu. Mereka terpaksa turun gunung keluar dari tempat pertapaannya atas permintaan Kaisar Thai Cu untuk merampas kembali pusaka-pusaka Kerajaan Beng Tiauw yang dicuri Hwe Ciang Kwi. Juga menjadi utusan-utusan partai-partai persilatan besar di Tiongkok yaitu Siauwlim Pai, Khun Lun Pai, Bu Tong Pai, Hoa San Pai dan lain-lain yang pernah diobrak-abrik oleh Datuk Sesat ini. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan ketua-ketua partai tersebut.

Karena kalah dari Ciu Sian mengadu ilmu silat tangan kosong, kalah dari Kiam Sian mengadu ilmu pedang dan kalah dari Pek Mau Sian mengadu ilmu sihir, ia tidak mau diseret ke depan kaisar Thai Cu dan Ketua-ketua Partai Persilatan di Tiongkok, Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong kemudian bunuh diri dengan menusuk dadanya sampai tembus ke jantung! Bagi Datuk Sesat seperti Hwe Ciang Kwi ini, adalah merendahkan harga diri dan gengsi kalau sampai ditawan dan ditaklukkan musuhnya. Ia yang angkuh tidak pernah terkalahkan sebelum ini dan biasanya selalu menang. Lebih baik mati ditangan sendiri dari pada mati ditangan orang lain. Tamatlah riwayat hidup Sang Datuk Sesat dari Uigur yang sakti itu. 

Setelah Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong tewas, terungkaplah suatu rahasia keluarga yang selama ini tidak diketahui oleh Sin Wan. Di depan jenasah Hwe Ciang Kwi, istrinya atau Ibu Sin Wan bercerita bahwa Sin Wan bukanlah anak kandung Hwe Ciang Kwi. Ibunya ternyata bernama Jubaidah dan ayah kandungnya bernama Abdullah. 

Ketika Jubaidah baru hamil empat bulan, datanglah Hwe Ciang Kwi. Dia tertarik oleh kecantikan Jubaidah. Ia kemudian membunuh sang suami dan menculik Jubaidah. Jubaidah dipaksa menjadi istrinya. Sebenarnya Jubaidah adalah istri yang setia. Kalau saja ia belum hamil, ia akan bunuh diri menyusul suaminya ketimbang menjadi istri lelaki jahat seperti Hwe Ciang Kwi ini. Namun karena ia lagi hamil, ia tidak jadi bunuh diri dan memelihara kandungannya sampai si janin lahir. Lagian bunuh diri saat hamil tidak sesuai dengan ajaran agamanya. 

Setelah menceritakan riwayatnya mengapa ia menjadi suami Hwe Ciang Kwi Se Jit Kong dan kini melihat Sin Wan sudah remaja berumur sepuluh tahun, dan Jubaidah yakin puteranya akan mampu menjaga dirinya, Jubaidah kemudian menusuk pisau yang dicabut dari jenasah Hwe Ciang Kwi. Ia hujamkan ke dadanya hingga tembus ke jantung. Ia roboh dengan dada berlepotan darah! Sin Wan tidak menduga Ibunya akan bunuh diri dan terlambat mencegahnya.

"Ibuuuu..... Ibuuuuu! Ya Allah, tolonglah ibu....", Sin Wan meratap dan menangis.

Ibunya membuka mata menatap Sin Wan. Jubaidah menghapus air mata anaknya. 

"Sin Wan.....anakku.....biarkan Ibumu menebus dosa..... Engkau berjanjilah.....akan menjadi manusia yang baik.....taat kepada Allah dan tidak berwatak jahat, jangan seperti Se Jit Kong.....", suaranya semakin lemah dan berbisik-bisik.

"Aku.... berjanji....Ibu....Innalillahi wa inna ilaihi rojiun",  Sin Wan menjerit kemudian pingsan di atas dada ibunya ....

Setelah mengungkap rahasia keluarganya dan anak kandungnya Sin Wan sudah remaja berumur sepuluh tahun dirasa mampu menjaga dirinya, Jubaidah membunuh diri dengan menusuk pisau yang dicabut dari jenasah Hwe Ciang Kwi. Ia pun tewas menyusul almarhum suaminya tercinta Abdullah. Sin Wan kini tinggal sendiri menjadi anak yatim-piatu.

Demikianlah rahasia Sin Wan setelah ayah tirinya tewas bunuh diri karena malu dikalahkan oleh Sam Sian. Sekarang terungkaplah sudah bahwa Si Wan lahir dari keluarga beragama Islam dari Suku Uigur.

Sam Sian kasihan melihat Sin Wan yang sudah yatim piatu dan hidup seorang diri di dunia ini tidak punya sanak keluarga lagi. Sam Sian pun mengangkat Sin Wan menjadi murid mereka. Sin Wan mulai belajar ilmu-ilmu silat tingkat tinggi dari tiga Tosu Pertapa Sakti itu.

Selain Sin Wan, Sam Sian juga mengangkat lagi seorang murid perempuan. Seorang gadis keturunan bangsawan dari Kota Raja Nan King. Cara pengangkatan  murid perempuan ini sangat unik. Setelah menyerahkan pusaka yang dicuri oleh Hwe Ciang Kwi ke Kota Raja, di pintu gerbang istana, tiba-tiba seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun minta diangkat menjadi murid Sam Sian. Tentu saja Sam Sian tidak mau karena sudah punya murid Sin Wan. Tapi si gadis kecil ngotot dan akan tetap berlutut sampai mati bila tidak diterima jadi murid mereka.

Sam Sian tidak yakin kalau gadis bangsawan itu akan nekad seperti yang diucapkannya. Sam Sian berpikiran bahwa putri bangsawan biasanya manja dan cengeng. Namun karena Sin Wan kasihan kepada gadis cilik itu, ia meminta agar ketiga suhunya mengangkat gadis bangsawan itu sebagai muridnya.

Sam Sian akan menguji mental putri bangsawan itu. Apa betul ia tetap bersujud di tempat itu sampai mati kalau tidak diangkat menjadi murid? Sam Sian menunda kepergiannya sehari dari Kota Raja. Mereka besok pagi akan datang lagi ke tempat gadis itu berlutut. Gadis itu benar-benar berlutut sampai besok pagi ditunggui oleh seorang pelayan wanita. Si pelayan sudah berusaha membujuk agar siocia (nona) majikannya pulang ke rumah. Apalagi semalaman turun hujan deras. Ia dipayungi oleh pelayannya. Bahkan paman si gadis yang memanjakannya datang dengan kereta mewahnya ikut membujuk, tapi si putri tetap berlutut kukuh tidak mau pulang sebelum diangkat menjadi murid oleh Sam Sian. Bahkan Sin Wan diam-diam meninggalkan kuil tempat ia dan ketiga suhunya menginap. Pergi menemui putri bangsawan itu dan membujuknya untuk balik pulang. Tapi gadis itu tetap tak bergeming. 

Pada keesokan harinya Sam Sian mendatangi tempat gadis itu berlutut. Mereka terbelalak kagum. Anak itu masih berlutut dalam keadaan pakaian dan tubuh basah kuyup. Dalam keadaan menggigil pucat pasi. Begitu dipegang hampir roboh pinsan karena kelelahan.

Gadis kecil itu bernama Lim Kui Siang berusia sembilan tahun. Putri bangsawan dan pejabat tinggi Kerajaan Beng. Ayahnya pejabat bagian pengurus gudang istana. Ternyata gadis itu sudah yatim piatu. Ayahnya meninggal dibunuh pencuri yang masuk ke gudang istana tempat menyimpan pusaka-pusaka milik kerajaan. Ketika ketahuan si bangsawan Lim, si pencuri membunuh di bangsawan itu. Istri si bangsawan stress dan sakit kemudian meninggal dunia menyusul suaminya.

Sam Sian kagum dengan kekerasan dan keteguhan hati Lim Kui Siang. Tak mereka sangka  bahwa gadis bangsawan ini memiliki tekad yang sangat teguh. Mereka mengira bahwa gadis bangsawan pada umumnya cengeng dan manja. Karena itu, Sam Sian menerima Lim Kui Siang menjadi murid mereka. 
Sam Sian mendidik kedua muridnya di Pek In Kok (Lembah Awan Putih) di pegunungan Ho Lan San tepi Barat Sungai Huang Ho. Ciu Sian juga merangkai ilmu silat gabungan dari inti dari ilmu-ilmu silat Sam Sian. Ilmu baru ini sangat dahsyat dan diberi nama Sam Sian Sin Ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa). 
Ilmu ini sangat sulit dipelajari. Namun karena ketekunan mereka, Sin Wan dan Kui Siang berhasil menguasai ilmu sakti ini dengan sempurna. 

Tentu juga keduanya menguasai ilmu-ilmu lain dari Sam Sian. Seperti Ciu Sian Pek Ciang (Tangan Putih Dewa Arak), Thian Te Sin Kang (Tenaga Sakti Langit Bumi), dan Hui Nio Poan Soan (Langkah Berputar Burung Terbang) dari Ciu Sian. 

Dari Kiam Sian mereka diajari Jit Kong Kiam Sut (Ilmu Pedang Cahaya Matahari) dan Ilmu menotok jalan darah Kiam Ci (Jari Pedang). Dari Pek Mau Sian mereka mendapatkan ilmu Pek In Hoat Sut (Sihir Tangan Putih) dan Sin Siauw Kun Hoat (Silat Suling Sakti). Itulah ilmu-ilmu yang dikuasai dan diwarisi dari Sam Sian. Dengan menguasai ilmu-ilmu silat hebat itu, mereka telah menjadi sepasang pendekar yang tangguh dan sakti.

Sudah sepuluh tahun Sin Wan dan Lim Kui Siang belajar ilmu silat dari Sam Sian. Dari usia sepuluh tahun dan kini usia mereka sudah dua puluh tahun. Mereka bukan anak-anak lagi, tapi kini telah menjadi sepasang pemuda dan pemudi yang tampan dan cantik jelita serta gagah. Sin Wan menjadi pemuda yang jantan dengan tubuh yang kekar. Begitu pula sumoinya Kui Siang menjadi gadis cantik jelita dengan tubuh yang seksi. Mereka miliki ilmu-ilmu silat yang hebat gabungan dari tiga suhunya. Meski masih sangat muda, mereka sekarang sudah menjadi sepasang pendekar yang sakti!

Setelah tidak ada lagi ilmu-ilmu silat yang lain dari Sam Sian karena semua ilmu silat andalan mereka sudah diberikan kepada kedua muridnya, Sam Sian menyuruh murid-muridnya turun gunung. Untuk merantau mencari pengalaman hidup di dunia kangouw. Menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas menumpas kejahatan sebagai seorang pendekar. Selain diajari ilmu silat, Sin Wan dan Lim Kui Siang juga digembleng ilmu kerohanian, moralitas, etika, sopan santun. Banyak nasihat dan wejangan-wejangan yang diberikan oleh ketiga orang suhunya itu. 

Sin Wan juga diberikan sebilah pedang yaitu Pedang Tumpul. Meskipun tumpul dan buruk rupa, namun pedang itu adalah pedang pusaka yang bahannya terbuat dari Batu Bintang Hijau. Sebuah pedang yang berbahan dari bahan yang langka! Pedang ini merupakan anugerah dari Kaisar Thian Cu atau Cu Goan Ciang Kaisar Kerajaan Beng Tiauw. Dari pedang inilah ia mendapat julukan "Si Pedang Tumpul". 

Sementara itu, Kiam Sian memberi Pedang Jit Kong Kiam (Pedang Sinar Matahari) kepada Lim Kui Siang. Dengan menguasai ilmu-ilmu silat itu, mereka turun gunung menjadi pendekar-pendekar yang menegakkan keadilan, menumpas kejahatan, membela yang lemah tertindas. Nama mereka menjadi harum disegani kawan ditakuti lawan yakni para penjahat.

Demikianlah pembahasan saya kali ini tentang Si Pendekar "Pedang Tumpul" Sin Wan dan sumoinya Lim Kui Siang. Seperti saya tulis dalam prolog tulisan ini bahwa suhu Kho Ping Hoo tidak  menonjolkan sisi dan latar belakang keagamaan. Seorang Pendekar  yang lahir dari keluarga suku Uigur beragama Islam yang taat. Suku yang hidup di daerah se cuan bagian barat Cina. Masyarakat yang mayoritas memeluk agama Islam. 

Saya akhiri tulisan ini dan tidak lupa memohon maaf apabila ada yang kurang berkenaan dihati para pembaca. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan dilindungi Tuhan Yang Maha Esa. 

Apapun makanan dan minuman Anda, ..... Bacaannya Kho Ping Hoo. 
Salam 1 Hoby.

Denpasar,  Selasa 9 Juli 2024,  13.00 WITA.