Suporter Lokomotive Leipzig sebelum pertandingan melawan Dynamo Schwerin dalam FDGB-Pokal di Jerman Timur pada 1990. [wikipedia]

/OceSatria (blogger) Menurut Kamus Bahasa Inggris Terjemahan Indonesia, arti kata amok adalah amuk. Arti lainnya dari amok adalah mata gelap. Dari mana asal kata Amok itu didapat orang Eropa? Boleh jadi dari Indonesia. Menurut wikipedia, amuk berasal dari bahasa Melayu. Dalam khazanah bahasa, kata yang asli yakni; Amuk. Dalam kamus bahasa Kawi karangan Poerwadarminta tahun 1939, Amuk berarti nempuh ngawut tanpa peduli apa-apa. Sementara pada kamus University of Cambride. Amok dimaknai sebagai: to be out of control and act in a wild or dangerous manner atau kondisi benar-benar di luar kontrol, liar, dan berbahaya. Kata amok juga dipopulerkan oleh kisah-kisah dalam karya Rudyard Kipling, Rektor dari Universitas St Andrews di Skotlandia. Amuk lalu digunakan di India selama saat kolonial Inggris, awalnya untuk menggambarkan seekor gajah gila yang terpisah dari kawanannya dan berlari liar dan menyebabkan kehancuran. Dalam perjalanannya menjelajahi Nusantara pada 1854 hingga 1862, Alfred Russel Wallace menceritakan, suatu pagi di Lombok saat sarapan, dia dikejutkan oleh pekik amok penduduk desa. Meski terdengar sederhana, rupanya nyalinya nyahok juga mendengar kata-kata itu. Rupanya, kata Wallace, di tempat itu kata amok berarti, ada orang sedang mengamuk dan bisa berujung maut. Tuan rumah memerintahkan kepada orang-orang untuk menutup dan mengunci rapat gerbang pagar. Setelah sekian lama sunyi, Wallace diiring tuan rumahnya beranjak pergi keluar. Rupanya amok itu hanya kesalahpahaman belaka. Orang yang berteriak-teriak itu adalah budak yang melarikan diri dan bersumpah melakukan amok karena sang tuan ingin menjualnya. Melanjutkan ceritanya dalam "Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam", Wallace menulis, beberapa waktu sebelumnya seorang laki-laki terbunuh di meja judi karena setelah kalah dan tidak mampu membayar, ia mengatakan akan melakukan amok. Ia juga menyebut di daerah yang sama ada orang yang melakukan amok dengan membunuh atau melukai 17 orang, namun akhirnya dapat dihentikan. Ia juga menulis, di masa-masa sebelumnya amok tak semata-mata dilakukan oleh individu. Namun dilakukan sepasukan tentara yang nekat meng-amok dengan menyerang lawan habis-habisan. Orang-orang semacam ini dipandang sebagai seorang pahlawan atau setengah dewa yang mengorbankan diri untuk negerinya. Wallace menyayangkan, kepatriotan model itu kini dikenal dengan istilah sederhana, hanya amok. Menurut catatannya, Makasar adalah tempat di kawasan timur yang paling banyak terjadi amok. Dalam sebulan, rata-rata terjadi satu atau dua kali amok dengan lima sampai duapuluh orang terbunuh karena peristiwa itu. Dalam tulisannya di tirto.id Agustus 2017, penulis Arif Abdurahman menyebutkan istilah kemarahan kultural menyangkut amuk massa ini. Di Korea amuk massa ini disebut 'hwabyeong'. Jika Anda orang Indonesia, kata Arif, ada kemungkinan Anda bakal dirasuki amarah dan disusupi harimau siluman. Lalu dibikin gelap mata dan berubah menjadi penjagal kesetanan ringan tangan. Begitu pun jika Anda dilahirkan sebagai orang Korea, Anda bakal diwarisi semacam kemarahan campur melankolia terpendam tak terjelaskan. Kemarahan yang mengakar ini, kalau kadarnya kelewat batas, bakal mendatangkan maut. Secara etimologis dan patofisiologis, hal ini bukan mengada-ada. Tapi kasusnya nyata. Kemarahan kultural tadi bahkan masuk dalam daftar edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Kedua kemarahan itu, yakni "amuk" dan "hwabyeong", dikategorikan sebagai culture-bound syndrome oleh American Psychiatric Association. Culture-bound syndrome, atau sindrom budaya-terikat, merupakan kombinasi gejala psikiatrik dan somatik yang dianggap sebagai penyakit yang dapat dikenali hanya di dalam masyarakat atau budaya tertentu Kembali ke soal di atas, dari mana istilah amok itu didapat orang bule? Deskripsi dari barat paling awal soal gejala ini muncul dalam jurnal Kapten James Cook. Cook adalah seorang penjelajah asal Inggris, yang mengaku melihat amuk secara langsung pada 1770. Cook menulis tentang orang-orang yang berperilaku tidak waras dan brutal, tanpa alasan dan "membunuhi dan membuntungi penduduk desa dan hewan-hewan secara serampangan" tulisnya. Tak lama setelah laporan Cook, peneliti-peneliti antropologis dan psikiatris mengamati amuk pada suku primitif yang berada di Filipina, Laos, Papua Nugini, dan Puerto Rico. Pengamatan ini memperkuat keyakinan bahwa faktor budaya yang unik pada suku primitif menyebabkan amuk, membuat budaya menjadi penjelas yang diterima sebagai patogenesisnya. Namun kalau mengingat tragedi Heysel di putaran final Piala Champion 1985 Juve vs Liverrpol di Brusel, Belgia, juga terjadi amuk massa..Hooligans, suporter garis keras Inggris usai tragedi itu dilarang nonton bola di luar Inggris. Apakah mereka primitif? Literatur menyebutkan, pada 1849, amuk secara resmi diklasifikasikan sebagai kondisi kejiwaan. Sebuah penjelasan yang diterima secara luas berkaitan dengan amuk adalah keterkaitannya dengan kehormatan laki-laki. Amuk menjadi cara melarikan diri dari dunia, karena pelaku biasanya sudah berencana untuk terbunuh. Tujuan menjadi beringas dan membunuhi orang adalah untuk membangun kembali reputasi seseorang sebagai orang yang harus ditakuti dan dihormati. Dalam perspektif keilmuan kontemporer, DSM-IV memecah amuk menjadi dua kategori resmi. Pertama, amuk yang tercipta dari depresi dan kesedihan akibat kehilangan sesuatu; kematian pasangan atau orang yang dicintai, perceraian, kehilangan pekerjaan, uang, jabatan, dan sebagainya. Kategori pertama ini yang umum terjadi: mengamuk. Berarti tak hanya kaum Adam, perempuan bisa ngamuk juga dong. Buktinya, gegara lupa dikasih selamat ultah, seorang perempuan bisa saja ngamuk-ngamuk. Hehe. Amuk bentuk kedua lebih jarang, dihubungkan dengan masalah mental berupa depresi berat atau gangguan mood lainnya. Amuk diyakini berasal dari kemarahan, penghinaan, atau dendam terhadap seseorang, masyarakat, atau objek karena berbagai alasan. Amuk sering dikaitkan dengan psikosis, gangguan kepribadian, gangguan bipolar, dan delusi. Sosiolog dari FISIP UI, Dr. Ida Ruwaida, menilai peristiwa seperti ini sering terjadi lantaran massa tidak punya kepercayaan terhadap penegakan hukum, jadi mereka memilih bertindak sendiri, katanya seperti ditulis di fisip.ui.ac.id. Di Jawa, yang orang-orangnya digambarkan oleh Thomas Standford Raffles sebagai masyarakat yang dermawan dan ramah ternyata juga menyimpan potensi serupa. Khusus di mana keadilan tidak berjalan, biasanya kemarahaan disimpan mirip kepundan yang menunggu waktu untuk meledak. Raffles menyebut amok terjadi bila masyarakat atau individu berhadapan dengan ketidakadilan yang laten dan terus menerus. Dalam ketidakadilan, pikiran-pikiran rasional menemui jalan buntu. Apalagi jika ketidakadilan justru bersumber dari penguasa seperti yang ditengarai banyak terjadi di era sekarang. Di antara penyebab orang-orang Jawa melakukan tindakan amuk menurut Raffles adalah dendam berkepanjangan. Kondisi ketidakadilan itu seringkali memicu tindakan barbar tanpa nalar. Amuk massa sejak dulu memang banyak terjadi di berbagai tempat di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Hanya saja istilahnya mungkin disumbangkan Indonesia. (*)
PKU 2 Oktober 2022 (Sumber penulisan, KBBI, wikipedia, tirto.id, fisip.ui.ac.id, dll.)