Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
Itu kalimat menunjukkan kebijaksanaan. 

Apa itu dewasa? Dan mengapa ia dikatakan sebagai pilihan? Apakah semacam pilihan dalam mengkonsumsi bacaan, obrolan atau tontonan khusus dewasa? 

Kemarin saya ke tukang cukur. Rupanya gegara  harga bensin naik tak terkira-kira, tarif baru tertera: Anak-anak 12 ribu, Dewasa 18 ribu. Naik pula dua-tiga ribu dari yang taralah.

Soalnya bukan di harga itu, tapi pembedaan anak-anak dengan dewasa jika kita kembali ke kalimat bijak di atas.  Apa sebenarnya makna dewasa itu? Jelas, bagi tukang cukur dewasa adalah soal umur, bukan soal pilihan.

Jadi, definisi dewasa itu beragam. Misalnya ada kalimat:

"Dewasalah dalam berorganisasi"

"Kata Mahfud MD motif pembunuhan itu hanya bisa didengar orang dewasa"

"Dewasa ini konten-konten dewasa bebas bersileweran di menu Reels dan video pendek Facebook"

Jadi dewasa dan tua itu sebenarnya berbeda atau setali tiga uang?. Praktiknya tergantung konteks yang mengiringinya, mungkin.

Dulu waktu usia SMP kita melihat orang yang berusia 40 tahun terlihat sudah tua, apalagi yang sudah 50 atau 60 tahun, sudah tua sekali. Kita mungkin melihatnya sebagai kakek-kakek atau nenek-nenek. Teman SMP saya dulu kehilangan ayahnya yang berusia 40. Pikiran kanak-kanak kami waktu itu menganggap beliau wafat memang karena usianya sudah tua.

Sebelas tahun lalu, ketika saya mencapai usia segitu, justru tidak terasa ada perubahan secara fisik. Rasanya waktu itu masih muda saja. Hanya saja, tanpa saya sadari mereka yang usia anak-anak atau remaja melihat saya pasti menyimpulkan bahwa saya sudah tua. Buktinya, seringkali saya dongkol kalau ada orang (yang tidak aaya kenal) menegur dengan sapaan "Pak" atau "Om".

Anak SMP yang sok-sok an merokok pinjam korek api, "Pak pinjam mancis, Pak..."

Atau mahasiswi cantik di jalanan menegur, "Pak, standarnya, Pak!" ketika saya lupa menaikkan standar motor.

Di situ kadang saya jengkel. Apa saya sudah kayak bapak-bapak beneran, ya? 

Panggil abang kek!.

Begitulah. Itu salah satu contoh bagaimana manusia tidak tahu diri. Sudah bangkotan masih saja merasa diri muda. Mungkinkah itu yang disebut tidak dewasa? Tidak menyadari siapa diri? Hmmm...kalau begitu, dewasa itu, rupanya kemampuan menyadari diri dan tidak memaksakan diri. Simpelnya begitu kali, ya?

Tahun ini pada salah satu tanggal di salah satu bulan, nominal usia saya bertambah melewati paruh baya. Kendati usia saya hakikatnya berkurang walau angkanya bertambah.  Ketika usai salat subuh hari itu saya tercenung: "Ya Rabb.... usia hamba sudah sebanyak ini...."

Bayangkan, bagaimana anak-anak usia SD SMP, SMA bahkan si mahasiswi cantik tadi, memandang saya di usia sekarang. Ditambah perubahan yang benar-benar kasat mata:  rambut memutih di sana sini, atau kulit tangan yang mulai menampakkan kerut. Tentulah, di mata mereka saya ini sudah out of date. Itu fakta zahir. Belum lagi ada gigi geraham yang sudah wasalam. (eh, sepertinya soal gigi bukan soal usia ya?  Itu murni soal ketelatenan menjaga dan merawat gigi. Makanya adek-adek yang masih remaja rajin-rajinlah gosok gigi, datangi dokter gigi dan bersihkan karang gigi. Karena karang gigi tak sekokoh karang di pantai, tapi justru membuat gigi lapuk)

Ya, saya sudah tua. Meski secara perasaan, rasanya baru kemarin  kejar-kejaran bola main "Ciek Piak Cup" di belakang sekolah. Rasanya baru kemarin mendaki gunung rame-rame dengan kawan. Bahkan rasanya baru kemarin ikut didikan subuh bersama kawan-kawan TPA di masjid.

Maka tak ada cara lain memahami kenyataan selain bersyukur dan selalu berusaha istighfar. Apalagi sebagian teman seleting sudah pada berminantu bahkan sudah pada punya cucu. Apatah lagi, sahabat sekolah, kawan selapik seketiduran satu persatu sudah berpulang diambil Sang Maha Pemilik Hidup. Itu makin menguatkan kesadaran dan kedewasaan bahwa kita hanya menunggu giliran, sembari "berkemas-kemas".

Makanya di usia sekarang memang ada semacam keengganan menonjolkan emosi, menghindari bertindak ugal-ugalan, mengurangi begadang, mengurangi debat tak penting, atau mencari-cari musuh. 

Makamya saya agak jarang nonton debat di televisi atau yutup. Apalagi kalau narsumnya keras nafas ndak berkeruncingan. Bikin kita terbit sugar menontonnya.  Saya juga malas buka twitter yang isinya bikin sakit kepala.

Hanya saja kalau misuh-misuh pada kelakuan pejabat dan kebijakan mereka yang tak masuk akal, saya sesekali ngomelin juga. Walau kata teman, percuma gak akan mengubah keadaan, tapi lumayanlah, untuk menyalurkan kedongkolan. 

Nah. Itulah sekadar refleksi saya dalam memasuki usia dewasa (atau tua?) ini. Mudah-mudahan Allah Swt memberi berkah umur dan tetap melimpahkan kesehatan lahir batin pada saya.  Aamiin...🤲