DENGAN tas ransel di punggung dan notebook di jinjingan tangan, ia melangkah pasti menuju Jakarta dan terbang ke Padang meninggalkan Bandung. Sayonara Bandung, Havis melambai.....

Badannya berisi. Kulitnya putih. Bicaranya lembut. Tampil cerdas, hingga diidolakan oleh teman-teman mahasiswa  di kampus, pada salah satu fakultas di Unisba Bandung. Ia jauh-jauh dari Tobek Panjang Koto Baru Simalanggang Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh ke Bandung dengan niat menimba ilmu.

Tapi masuk semester tiga perkuliahan, Havis, pria muda itu menghilang. Ia tak ada di kampus dan tak ada di rumah kost nya. “Kawan-kawan menelpon tapi tak saya angkat,” ujar Havis.

Benar, tidak seorang pun tahu. Juga tak ada surat ke rektorat, semisal berhenti kuliah sementara.

Diam-diam ia mudik. Kembali ke kampung halamannya di Kotobaru Simalanggang, di jorong Tobek Panjang, etan di Luhak nan Bonsu.

Yang menjadi pertanyaan, alasan apa yang membuat Havis meninggalkan bangku kuliah? Persoalan ekonomi kah?

“Tak juga, bahkan orang tua saya tidak terbilang susah amat, kami punya warung dan tanah pertanian yang lumayan luas. Ini hanya karena semata pilihan, saya ingin buktikan bahwa di kampung, kita juga bisa sukses walaupun tanpoa titel sarjana,” katanya seraya melayani pembeli di kios Saprodi miliknya.

Orang tuanya bisa menerima alasan Havis. Maka Mak dan Apak nya membiarkan saja ketika Havis melelang seluruh isi warung, mesin fotokopi dan sebagainya. Biasanya sehari warung itu menghasilkan juga barang Rp95 ribu. Warung itu dia kosongkan, lalu digantinya dengan aneka racun hama, pestisida, aneka obat-obatanan beragam tanaman sayur-palawija. Beragam jenis pupuk kimia dan non-kimia. Jadilah warungalat tulis-fotokopi berganti nama: Kios Pupuk Pestidida Tobek Panjang.

Mak dan Apak di umur senja,keduanya membantu melayani pembeli. Sedang Havis  mengantar belanjaan para petani dengan becaklangsung ke sawah-sawah dan porak (ladang). Layannnya adalah layanandelivery order. Petani tentu saja senang, tinggal tunggu di saawah atau di porak.

Pabila petang datang, para petani malah betah berlama-lamamengota dengan Havis. Ia adalah anak yang cerdas dan suka membaca. Waktu kuliah katanya lebih banyak dihabiskan di perpustakaan kampus. Banyak pengetahuan praktis ia peroleh dari membaca. Nah, itu yang ia bagi kepada petani. Ia memberi saran-saran tentang pertanian budidaya kepada pengunjung kiosnya.

Petani dan buruh tani  senantiasa dapat arahan, racun-pestidida yang cocok untuk jenis sayuran-palawija tertentu. Juga arahan, bagaimana mengolah tanah terbaik, hasilnya berlipat. Tapi biaya produksi minimal. Kurang lebih, ia sudah jadi PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) mandiri.

Maju berkembang. Havis tak cuma berdagang pupuk-pestisida, sejak setahun lalu Havis mulai mencoba peruntungan jadi produsen tani. Ia pun bertanam jeruk, jahe danterung toco serta kacang tanah.

“Alhamdulillah hasilnya bagus, dan itu lebih banyak saya gunakan untuk lahan percontohan bagi pupuk dan pestisida yang saya jual,” katanya.

Ia terus mencari dan mencari apa lagi yang bisa dilakukan untuk membuat usaha pertaniannya berkembang, Maka Havis pun melirik persewaaan traktor tangan. Ia membeli traktor tangan seharga Rp38 juta. Traktor itu disewakan ke petani. Menariknya, ia tidak mau terjerumus menjadi kapitalis. Maka sewa menyewa alat dengan petani  didasari kepercayaan belaka. Bila ada duit, bayarlah, bila belum ada duit maka bayarnya nanti saja saat panen. Jika panen merugi, ya, pada panen berikutnya. “Prinsipnya ini tolong menolong agar petani tidak dibebani terlalu berat,” katanya.

Tentu saja traktor tangannya jadi rebutan petani lantaran traktor yang sama yang dipersewakan oleh Pemkab Lima Puluh Kota tarifnya Rp2,5 juta per satu hektar lahan. Sedang Havis hanya mematok tarif separuh dari itu. “Kalau yang punya Pemda panjang urusannya, mendaftar dulu, setor ke bank, bukti setor diantar ke operator. Kalau ini jika ada waktu kosong, langsung bisa dipakai,” kata seorang petani pengguna jasa traktor milik Havis.

Rezeki terus menghampiri anak muda ini. Kini usaha kios pupuk plus ini sudah dilengkapi dengan dua mobil. Satu untuk alat angkut aneka barang kios. Satu lagi diperuntuk kepada kedua orang tua. Di kampung,Apaknya dipanggil   Buyuang Gambuang. Mungkin karena berbadan gempal. Sama dengan Havis, putranya.

Menjelang berpisah dengan Havis, penulis melontarkan pertanyaan:

“Kenapa kampus Bandung kau tinggalkan, Havis?”

"Di sini. Saat ini. Di nagari kita. Ambo lebih berarti  untuk orang banyak, pak. Jadi sarjana itu terhormat, jadi petani itu mulia, "ujarnya. Ia mengajak anak-anak muda di kampung halaman masing-masing, yang masih punya lahan pertanian tidak usahlah merantau lagi. Jadilah petani saja, itu tak kalah dengan kerja kantoran.

Di usianya yang menapak 29tahun, pemuda gagah, santun, cepat tanggap membaca-mencari peluang usaha itu  masih sendiri, belum berkeluarga. 


Artikel ini telah di muat di Khazminang dengan judul Petani Itu Terhormat, Petani Itu Mulia