Ta’lim Bakda Subuh KH Didin Hafidhuddin
Tafsir Al-Quran Surat Asy-Syura ayat 39-43
Ahad, 20 Februari 2022
Sikap Sosial Mukmin yang Bertawakkal
Disarikan oleh
Bustanul Arifin
1. Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Pada Ahad pagi ini, tanggal 19 Rajab 1443 H bertepatan dengan tanggal 20 Februari 2022, kembali kita dapat berkumpul berasama, walaupun secara virtual, dalam rangka meneruskan kajian kita, mendalami ayat-ayat Allah. Insya Allah kita akan membahas Surat Asy-Syura ayat 39-43.
Kita mulai dengan membaca Ummul Kitab Surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan Surat Asy-Syura ayat 39-43, yang artinya, “..dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizhalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih. Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”
2. Ayat-ayat ini meneruskan penjelasan tentang penjelasan perilaku orang beriman, disertasi ketawakkalan, meningkatkan hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia. Hablun minallah wa hablun minannas.
Ada hadist Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam. Barangsiapa berimana kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangga dan memuliakan tamu-tamunya.”
Hablun minannas akan mempunyai arti yang kuat jika dilandasari hablun minallah yang baik. Hablun minallah akan terimplementasikan ke dalam kehidupan sosial, hablum minannas, yang lebih baik lagi.
3. Orang beriman akan memiliki sikap yang baik, jika harta dan jabatan dipergunakan untuk beribadah kepada Allah, menuju kebahagiaan di akhirat. Nikmat harta, kesehatan, jabatan dan fasilitas lain di dunia akan terus dicari untuk mencapai kebahagiaannya di dunia, menuju kebahagiaan di akhirat tersebut.
Ada hadist Rasulullah SAW, “Bukan termasuk orang baik di antara kalian, jika meninggalkan kehidupan dunia, untuk kepentingan akhirat saja. Dan bukan termasuk orang baik di antara kalian, jika hanya mengerjakan kehidupan dunia terus menerus, dan melupakan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia dan kehidupan akhirat perlu diperoleh keduanya. Dunia adalah sarana bagi kehidupan akhirat. Janganlah kalian menjadi beban bagi kehidupan orang lain”.
Ini adalah prinsip keseimbangan dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan akan kekal selama-selamanya.
4. Para sahabat Rasulullah SAW sangat baik dalam mengkombinasikan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Mereka sibuk di pasar (jual-beli) dan juga sibuk di masjid (berdzikir, shalat, membayar zakat). Dunia tidak boleh dilupakan, mencari rizki yang halal juga merupakan kewajiban, memberi nafkah kepada keluarga.
Perhatikan Surat An-Nur ayat 37-38, yang artinya “orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas”.
Suatu ketika Rasulullah SAW berjumpa dua pemuda dan bersalaman, dan tangannya terasa kasar, karena pekerjaannya memecah batu di padang pasir. Rasululah SAW kemudian mencium tangan kedua pemuda tersebut, sambil bersabda “Ini tangan yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tangan ini yang diharamkan ke dalam api neraka”.
Terjadi perpaduan yang harmonis antara kehidupan dunia dan akhriat. Kepribadiannya akan terjaga dari perbuatan dosa-dosa besar yang dilarang dan dosa keji, syirik, faisyah (perzinahan), sihir, perbuatan riba dll
5. Perbuatan riba itu sangat bahaya dan membahayakan, sehingga digabarkan sangat jelas di dalam Al-Quran, seperti pada Surat Al-Baqarah 275-278 tentang bagaimana bahayanya riba.
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa. Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman”.
Ayat-ayat di atas jelas bahwa orang yang makan riba tidak mampu berdiri di akhirat kelak, karena orang tersebut menyamakan jual-beli dengan riba. Sementara Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Kemudian, Allah menghancurkan riba dan mengembangkan shadaqah. Bahkan Allah menyandingkan riba dan zakat. Riba seakan menambah hara kita, tapi sebenarnya berkurang karena tidak berkah. Sebaliknya, zakat seakan mengurangi harta kita, tapi sebenarnya bertambah di hadapan Allah. Konsep keberkahan di sini sangat berbeda. Sedangkan orang dzalim tidak memiliki konsep dan visi hidupnya, karena cenderung membuat kerusakan di muka bumi. Kedzaliman akan membuat kegelapan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Jika kita memafkan orang dzalim, itu akan menjadi lebih baik.
6. Menjawab pertanyaan tentang riba yang terlanjur diterima dari bank konvesnional, sebaiknya diapakan?
Jika berasal dari ikhitiar sendiri, kita upayakan untuk menghindari riba tersebut.
Jika yang sudah terlanjur given, seperti gaji yang dibayarkan melalui bank konversional dan lain-lain, kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Jika terdapat unsur riba di sana, dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan umum, sambil terus beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Dilanjutkan dengan berusaha untuk meninggalkan riba tersebut, sekecil apa pun. Apalagi, jika kita usaha sendiri, usahakan simpan di bank yang menggunakan sistem syariah, yang tidak ada bunganya, dan diijabkan dengan jual-beli, berusaha, bukan mengandalkan riba, insya Allah hal itu lebih berkah.
Di negara kita sekarang sudah tidak terjadi masalah tentang keleluasaan untuk memanfaatkan bank syariah, melaksanakan ekonomi syariah, asuransi syariah dan lain-lain, walaupun di sana-sini masih terdapat kekurangan. Kita ummat islam tidak harus terus-menerus melihat dan membicarakan kekurangan-kekurangan itu, tapi melihat kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam sistem syariah. Kita berusaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut dan kita sempurnakan bersama.
7. Menjawab pertanyaan tentang tanda-tanda kebahagiaan hidup dan kehidupan berkah itu bagaimana ciri-cirinya apa saja?
Cirinya sebenarnya mudah dilihat, misalnya:
(1) memiliki pasangan hidup (suami atau isteri) yang baik, suami yang shalih dan bertanggung jawab dan isteri yang shalihah.
(2) memiliki anak-anak baik, yang terdidik dengan baik, memiliki ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk kemasalahatan orang banyak. anak shalih dan shalihah.
(3) memiliki sahabat yang baik, teman kerja di kantor dan di kampus atau di mana saja, dan.
(4) memilik sumber rizki yang “dekat”, mudah diperoleh sehingga masih dapat membina keluarganya, berhubungan baik dengan tetangganya dan lain-lain.
Ciri-ciri lain sebenarnya mash banyak. Hal yang paling penting adalah bahwa keberkahan itu hanya akan didapat dengan kehidupan taqwa kepada Allah SWT, mengerjakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya.
Perhatikan Surat Al-A’raf ayat 96. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”
8. Menjawab pertanyaan tentang bentuk membela diri dari kedzaliman, pada intinya adalah jika kita difitnah melakukan sesuatu, kita membela diri kita, kita berikan klarifikasi, kita usahakan bertabayyun, serta mengecek sebaik-baiknya. Jangan sampai kita menjadi bulan-bulanan. Kita tidak boleh berlaku dzalim kepada orang lain dan tidak boleh didzalimi.
Perhatikan Surat Al-Hujurat ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.
9. Menjawab pertanyaan tentang berapa sebenarnya usia anak yatim yang perlu kita santuni? Prinsipnya sampai berusia dewasa atau sampai disebut pantas untuk melakukan nikah (balaghun nikah) dan dapat dipercaya untuk melakukan pekerjaan sendiri. Kalau di kita ya, sampai usia SMA.
Di dalam Al-Quran disebutkan Surat An-Nisa ayat 6, “Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas”.
10. Mari kita doakan teman-teman dan jamaah kita yang sedang sakit, semoga Allah SWT segera mengangkat penyakitnya, sehingga beliau-beliau dapat sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala. Mari juga kita mendoakan para sahabat dan jamaah kita yang telah meninggal dunia dan kembali ke rahmatullah, agar beliau diterima di sisi Allah dan diampuni semua dosanya.
Mari kita tutup pengajian kita dengan doa kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaika”. Demikian catatan ringkas ini. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh hadirin yang sempat mengikuti Ta’lim Bakda Subuh Professor Didin Hafidhuddin tadi.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam. Bustanul Arifin
Sumber WAG Nalar Konstitusi
Catatan: Judul oleh oce