HARI kelahiran dr. Mohammad Amir, tepat hari ini 122 tahun yang lalu, di Talawi, Sumatra Barat, 27 Januari 1900.
Mungkin masih banyak yang tak mengenalnya, dr. Amir termasuk tokoh pergerakan nasional, dia adalah ahli medis yang sangat tertarik dengan isu-isu kebudayaan. Seorang penulis prolifik. Tulisan-tulisannya mengenai dunia medis dan isu-isu kebudayaan hampir sama banyaknya. Dia bersaudara sepupu dengan pahlawan nasional Mohammad Yamin dan wartawan kawakan Djalamaloedin Adinegoro.
dr. Amir menempuh studi kedokteran di STOVIA (1913-1923). Beliau merupakan salah satu pendiri Jong Sumatranen Bond (JSB) saat di STOVIA. Pada awal 1924, Amir memperoleh beasiswa dari perkumpulan Teosofi untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya di Universitas Utrecht, Belanda, dalam bidang psikiatri (ilmu penyakit jiwa).
Semasa di Belanda dr. Amir aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) dan tahun 1925 beliau terpilih sebagai komisaris organisasi. Bung Hatta saat itu menjadi sekretaris. Pada tahun 1928, dr. Amir akhirnya tamat belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Utrecht.
Setelah kembali ke Batavia, dr. Amir menikah dengan seorang perempuan Belanda, C.M. (Lien) Fournier. Mereka dikaruniai anak laki-laki dan perempuan, yakni Anton dan Anneke. Istrinya tersebut adalah keponakan dari Ir. F.L.P.G. Fournier, bukan sembarang orang, dia adalah Kepala (Hoofdingenieur) Pos, Telegraf dan Telepon, Ketua Gerakan Teosofi di Hindia Belanda, dan anggota Volksraad untuk delegasi Bandung.
Tahun 1937 dr. Amir diangkat menjadi dokter pribadi Sultan Langkat, Tunku Mahmud Abdul Jalil Rahmat Shah (1893-1948). Ketika masih bertugas di Langkat, pada 14 Agustus 1945, bersama Teuku Mohammad Hasan, dr. Amir menghadiri Sidang PPKI mewakili rakyat Sumatra. Dia kemudian diangkat menjadi salah seorang menteri dalam Kabinet Presidensial (1 Sept. – 14 Nov. 1945). Pada bulan Desember 1945 Amir diangkat menjadi wakil gubernur Sumatra mendampingi Teuku Mohammad Hasan.
Adanya Revolusi Sosial 1946 di Sumatra membuat banyak kekacauan di luar kendali dan dr. Amir yang di pihak Republik pun ikut terancam jiwanya. Karena memikirkan keselamatan istri dan anak-anaknya, dr. Amir akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke Belanda. Beliau sekeluarga menetap di Utrecht, tempat dia pernah menimba ilmu kedokteran.
dr. Amir masih sempat pulang ke Indonesia dan bekerja di rumah sakit di Gorontalo, lalu pindah ke Palu dan ke Makassar. Tetapi akhirnya dia kembali ke Belanda di mana keluarganya berada. Dalam usia yang belum begitu tua, dr. Amir meninggal di Amsterdam tahun 1949.
Kedua anaknya, Anton dan Anneke, juga menjadi dokter pada akhir 1950-an, mengikuti jejak sang ayah, dan tinggal di kota Utrecht, Belanda. Sekian.
27 Januari 2022
Dari Yoga Dariswan di Masa Hindia Belanda (Nederlands Indie)