.
OceJournalNews -- Siapa yang menyangka jika dulunya andong hanya boleh digunakan oleh priyayi dan keluarga kraton saja.
Andong kali pertama diciptakan oleh seorang insinyur Belanda yang bernama Charles Theodore Deelman. Ia merupakan seorang ahli irigasi Belanda yang bertugas untuk membangun sejumlah objek strategis di Jakarta.
Pada masa penjajahan, andong merupakan salah satu transportasi penting dan mewah yang hanya dapat digunakan oleh bangsawan dan tuan tanah. Tercatat pada tahun 1885, andong pernah disewa oleh Forbes untuk melakukan perjalanan dari Bogor menuju Bandung.
Biasanya, masyarakat kalangan biasa hanya bisa berjalan kaki atau menggunakan gerobak yang ditarik sapi atau kerbau, dimana harga sapi atau kerbau jauh lebih murah dibandingkan dengan kuda.
.
Di Yogyakarta sendiri, keberadaan andong dimulai dari berdirinya Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Kala itu para Raja Mataram menggunakan alat transportasi andong sebagai kendaraan pribadinya.
Pada awal abad ke 19 hingga abad 20, andong menjadi salah satu penanda sebagai status sosial priyayi keraton yang dimulai ketika kraton dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono VII.
Saat itu, rakyat biasa tidak boleh menggunakan andong dan hanya bisa menggunakan gerobak sapi atau dokar yang hanya terdiri dari dua roda saja.
Kemudian, pada masa kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono VIII, andong mulai digunakan oleh masyarakat umum, meskipun masih terbatas dan diperuntukkan pada para pedagang saja.
Di era modern andong lebih banyak digunakan sebagai transportasi penunjang pariwisata kota Jogja.
Dinas Pariwisata Yogya memberikan pengelolaan khusus untuk andong, para pemilik andong diberikan uang perawatan kuda, juga diberikan semacam surat kepemilikan andong. Puluhan andong yang beroperasi di Kota Yogyakarta, mulai tahun 2010 resmi mendapatkan plat nomor kendaraan tidak bermotor dan Surat Ijin Operasi Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB) dari Dishub kota Yogyakarta.
Source : GNFI.
Foto : andong jogja tahun 70an.