Oleh: Fitra Wilis Masril
DULU, awal memakai jilbab, aku tetap bercelana panjang dengan atasan pas badan sehingga lekuk tubuh tetap terbentuk. Plus jilbab mungil terlilit ke leher. Adalah penting "pokoknya jangan sampai terlihat kayak emak-emak banget".
Begitulah kala itu.
Sekitar 4 tahun yang lalu, aku memutuskan resign dari kantor, dan Alhamdulillah dapat kesempatan work at home. Jadi tetap mengerjakan kerja kantoran, tapi full dari rumah. Waktuku jadi lebih leluasa (karena gak ada waktu terpakai buat PP ke kantor). Dan aku bisa ikut pengajian sana-sini. Lebih banyak mengalokasikan waktu untuk kegiatan sosial. Dari sana juga aku memutuskan total bergamis dengan sehari-hari pakai khimar panjang. Pokoknya dada harus tertutup, gamis harus longgar. Gak pernah lagi pakai atasan dipadu celana panjang.
"Tapi please ya Fit, kamu jangan berubah jadi temen yang nyebelin yaa," kata beberapa teman padaku, kala tau aku total bergamis.
"Jangan ngerasa udah pegang duplikat kunci sorga ya Fitra sayaaaaang," kata sahabat yang lain pakai emot melet-melet. Dan beberapa ketakutan lain yang mereka utarakan. Khawatir aku yang kata mereka adalah temen yang asyik berubah menjadi orang yang nyebelin, berisik dan penuh kritik.
Aku tertawa saja kala itu.
Tapi nyatanya, dalam keseharian, aku juga mendapatkan banyak kisah serupa.
"Aku tuh sejak kakakku berhijrah, gak mau lagi main ke rumah dia. Gimana yaa....semuaaaa yang kami lakukan salah. Semuaaa katanya dosa. Gak boleh sedikitpun happy-happy. Pedes banget ngomongnya," kata ibu A.
"Sama.... iparku juga gitu sejak hijrah, kita ajak ngerujak bareng, katanya sayang diumur, ngabisin waktu untuk yang unfaedah, mending ngaji atau denger tausiyah. Terus kemarin di grup keluarga kita curhat soal masker susah didapat, dia jawab "sama corona aja takut, sibuk cari masker, tapi rambut anak gadis masih kebuka gak takut sama api neraka,".
Dihh...gitu amat yaaa.... bener sih yang dia bilang kalo anakku yang SMP hanya berjilbab saat sekolah aja, tapi itu yang ngomong juga mulai pakai jilbab setelah umurnya 40 tahun, dulu mah seksi banget," kata ibu B.
"Anakku malah gak mau lagi dititip di budenya saat aku keluar kota, anakku milih di rumah sama pembantu. Alasan anakku dia kesel sama budenya, diomelin mulu soal sorga neraka, kayak hidup di dunia ini gak boleh dinikmatin sedikitpun," bersahutan ibu yang lain bicara.
"Iya....judes banget nasehatinnya. Pedes banget deh mulutnya sejak berhijrah. Kirain makin sholeha makin lemah lembut yaa,..ini malah jadi nyebelin," kata yang lain
Terlepas dari nasehat yang disampaikan oleh yang udah merasa berhijrah adalah nasehat yang baik, tapi yang harus selalu diingat, menasehati itu ada adabnya. Dan yang lebih utama, hidayah itu memang gak bisa dipaksa.
Cara menasehati yang keliru, alih-alih saudara atau sahabat ikutan berhijrah, yang ada malah mereka makin menjauh, lalu tercipta musuh baru.
Maka, yang terbaik adalah dengan tindakan memberi contoh. Hijrah seharusnya membawa perbaikan dan peningkatan kualitas diri, yang tadinya pedes kalo ngomong sekarang jadi halus tatanan kata saat bicara.
Yang dulu cerewet, sekarang belajar ngerem mulut.
Yang dulu nyelekit kalo bicara, sekarang santun dalam berkata.
Dan berikan contoh tindakan nyata...sehingga diam-diam orang jadi ingin meniru kita.. diam-diam orang mengakui keteduhan kita. Diam-diam orang mengakui bahwa hijrah itu memang membuat seseorang lebih mulia akhlaknya, lebih santun bicaranya, lebih lembut hatinya.
Hijrah itu untuk diri sendiri. Harusnya semakin hijrah, semakin kita sadar betapa banyak dosa diri ini.
Hijrah itu untuk diri sendiri, bukan malah jadi sibuk mengurusi dosa orang lain.
Jangan malah, semenjak hijrah, semakin pinter mengulik dosa orang lain, semenjak hijrah semakin hebat menelisik kesalahan-kesalahan orang lain, semakin merasa orang lain banyak dosa.
Setan itu, saat gagal membujuk manusia menjadi orang jahat, maka setan berusaha membuat manusia merasa lebih baik.
'MERASA PALING BAIK DIBANDING ORANG LAIN, MERASA LEBIH BAIK DIBANDING SIAPAPUN, ITULAH PUNCAK KESOMBONGAN'
Tentunya gak semua yang berhijrah seperti yang kutulis ini. Ada banyaaaaaaaaak yang semakin berhijrah semakin baik, semakin lembut, semakin santun, semakin banyak sedekahnya, semakin rajin baca qurannya, semakin baik sama suaminya, semakin mulia memperlakukan tetangga, semakin menjaga sholat dan wudhunya. Dan mereka inilah yang telah berhijrah sebenarnya. (*)
Cek di Fitra Wilis Masril