Oleh Eko Prasetyo
SAYA masih menjumpai orang yang menyamakan cerpen dengan tulisan nonfiksi. Padahal, cerpen memiliki tiga ciri yang esensial, yaitu pendek serta sifatnya yang naratif dan fiktif. Ini karena cerpen memiliki makna ciptaan atau rekaan.
Memang meskipun ukurannya pendek, toh saya pernah membaca cerpen Bawuk karya Umar Kayam yang begitu panjang untuk ukuran cerpen Indonesia. Panjangnya mirip cerpen Barat seperti karya Joseph Conrad atau Pearl S. Buck.
Panjang atau pendeknya cerpen memang bisa menuai perdebatan. Namun, saya pernah mendapati penjelasan yang lugas tentang batasan cerpen ini dari Prof. Jacob Sumardjo, seorang pengajar sastra. Dia menjelaskan bahwa cerita pendek (cerpen) setidaknya terdiri atas 900–5.000 kata. Sementara pendek di sini berarti bisa dibaca selama sepuluh menit atau setengah jam. Jika dipahami lebih sederhana, cerpen itu dapat dibaca sekali duduk.
Nah, sekarang kita sudah tahu batasan cerpen. Kalau cerpen yang dibuat itu bisa dibaca selama 12 jam, ini bukan cerpen, melainkan cerpan (cerita panjang). Kalau kita harus membacanya selama seminggu, ini bukan cerpen atau cerpan lagi, melainkan novel. Nah, kalau butuh waktu sembilan bulan, ini ibu hamil namanya.
Oke, back to laptop, saya akan berbagi pengalaman menulis cerpen. Salah satu poin penting dalam cerpen adalah point of view. Hal ini menyangkut bagaimana sebuah kisah itu diceritakan. Dalam dunia sastra, masalah siapa atau apa dianggap tidak begitu penting. Yang terpenting ialah bagaimana.
Namun, ketentuan yang dipilih oleh pengarang akan sangat menentukan gaya dan corak cerita. Sebab, watak dan kepribadian pengarang akan banyak menentukan cerita yang dituturkan kepada pembaca (Sumardjo, 2004: 28).
Baik, point of view secara sederhana dapat dimaknai sebagai sudut pandang pengarang untuk menuturkan sebuah kisah. Dalam teorinya, ada empat point of view yang bisa kita kembangkan di cerpen.
Pertama, omniscient point of view alias sudut pandang yang berkuasa. Di sini si pengarang bertindak sebagai orang yang benar-benar tahu segalanya. Dia bisa bercerita apa saja yang diperlukan untuk melengkapi ceritanya. Teknik yang cocok untuk jenis ini adalah cerita yang bersifat sejarah, edukatif, dan humor.
Kedua, objective point of view. Di sini si pengarang bekerja seperti dalam teknik omniscient. Namun, pengarang sama sekali tidak memberikan komentar apa pun. Pembaca hanya disuguhi cerita ”pandangan mata”. Tak ada petunjuk atau tuntunan bagi pembaca. Pembaca hanya bisa menafsirkan cerita berdasarkan kejadian dan perbuatan pelaku-pelaku dalam cerita.
Ketiga, point of view orang pertama. Teknik ini sangat akrab dengan cerpen-cerpen di Indonesia. Gaya ini bercerita dengan sudut pandang ”aku”. Beberapa pengamat sastra sepakat bahwa teknik jenis ini sering dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan protagonis si pengarang.
Keempat, point of view peninjau. Di sini pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian cerita kita ikuti bersama tokoh tersebut. Jadi, teknik ini berupa penuturan pengalaman seseorang, si dia. Pelaku utama dalam point of view peninjau ini sering disebut teknik orang ketiga.
Oke, sekarang saya akan memberikan contoh potongan cerpen yang memakai point of view peninjau. Tolong simak baik-baik.
PADA SEBUAH CINTA
Oleh: Eko Prasetyo
……
……
Pundak Bejo diraih oleh Zsa-Zsa. Tetiba air mata perempuan cantik itu jatuh satu satu. Ia memohon-mohon. Suaranya lirih, tapi masih terdengar tegas. ”Mas, kalau kamu memang suami yang baik, izinkan aku untuk mencarikan kamu istri lagi,” ucap Zsa-Zsa. Hujan di balik jendela masih menunjukkan keakuannya. Sementara pelangi muncul dengan terangnya. Mulut Bejo kaku. Tak tahu harus berkata apa. (tamat)
Sidoarjo,20 Februari 2020
Eko Prasetyo
Sumber: Media Guru Indonesia