Oleh Oce Satria |
Blogger


ASAP sialan! Umpatan yang berulang seumuran orde reformasi. Pengulangan yang membuat kita geram. Dan sialnya, Riau selalu menjadi pesakitan akibat jerebu yang datang dari berhektar-hektar lahan milik juragan-juragan kapitalistik yang sengaja dibakar. Tak ada kebahagiaan. Sampai kini. Dan tidak juga tertangani tuntas. Yang mengemuka di publik justru foto-foto Jokowi dalan pose alone di areal lahan yang terbakar. Persis foto-foto Jokowi di berbagai lokasi bencana pra pilpres lalu. Foto bisu yang justru memancing ragu.

Lalu, di 2019 ini "kebahagiaan" itu sejenak kita dapatkan, semacam blessing in disguisse, berkah tersembunyi. Hiburan yang menjadi kemewahan bagi rakyat yang saban waktu dipengap asap. 

Persis detik-detik Jokowi dan para perangkat istana melawat bencana,  kebahagiaan itu datang. Kebahagiaan itu bernama Salemo.

Salemo mendadak jadi viral dan mengocok perut  karena kata  itu diucapkan oleh seorang warga Pekanbaru yang diwawancarai reporter TVOne yang tengah meliput berita kabut asap, Minggu 15 September 2019.


Pria gagah dan tinggi besar yang diwawancarai tersebut menjawab pertanyaan reporter hal ikhwal dampak kabut asap bagi kesehatan. Begini jawaban si pria macho  yang memakai masker tersebut:

"Sesak nafas, gitu kan. Batuk-batuk. Mungkin  (sambil menunjuk hidung sendiri) salemo sudah mulai sering keluar....bla..bla......" 

Kameramen men-syut, redaksi di studio TVOne menyiarkannya, dan penonton di Riau merekam siaran televisi tersebut soal kabut asap tersebut.

Apa boleh buat, Riau daratan dan kepulauan, seluruh Ranah Minang "Dari Sikilang Aia Bangih sampai Taratak Aia Hitam, dari Durian Ditakuak Rajo sampai Sialang Balantak Basi"  dan menyeberang nun ke perantauan diguncang oleh jawaban  'salemo' pria tersebut. 

Memang, bagi kalangan pengguna bahasa Minang,  percakapan menggunakan bahasa campur aduk Indonesia dan Minang akan terdengar lucu. Persis cara bicara Sutan Rajo Angek, tokoh dalam drama Minang besutan Yus Dt Perpatih yang populer sejak 80an itu.

Si pria gagah di TVOne itu terlihat natural  atau boleh jadi innocence saat menjawab.  Ia menjawab pertanyaan reporter apa adanya, tanpa kesan dibuat-buat. 

Video hasil rekam siaran TVOne itu sudah ditonton berpuluh ribu pasang mata, ratusan kali dibagikan dan jadikan status di medsos.  Tuhan Maha Baik, anak muda yang konon masih jomblo itu diviralkan. Jangan-jangan  salemo telah mendapuknya menjelma menjadi news maker.

Menyoal ini, sebagian pegiat bahasa Indonesia memang sedikit menyimpan kecemasan futuristik bahwa bahasa dalam media sosial, termasuk yang diviralkan dari percakapan sehari-hari, akan mengambil alih tahta aturan-aturan berbahasa yang baik dan benar. Ada kekhawatiran bahwa bahasa media sosial dilihat sebagai sesuatu yang wajar, dan selanjutnya diterima sebagai kebenaran umum. Orang lalu juga menduga-duga, apakah ada daya rusak media sosial  terhadap kebakuan bahasa, karena kebebasannya dalam menggunakan bahasa Indonesia? Tapi apakah justru sebaliknya, penggunaan campur aduk itu memperkaya khazanah bahasa?

Salemo hanya satu contoh saja. Media di Padang sejak tahun 90an bahkan sudah terbiasa menggunakan bahasa Minang yang diindonesiakan pada judul berita atau artikel yang mereka muat. Misalnya kata "menggalas" yang sebenarnya adalah "manggaleh" dan padanan bahasa Indonesia seharusnya adalah berdagang. Ada banyak contoh lainnya.

Tapi, menurut saya, keniscayaan penggunaan bahasa yang makin kreatif yang difasilitasi oleh viralisasi media sosial harus kita terima. Setidaknya didiskusikan pada tataran kupasan atas fenomena yang muncul. Terlebih, ke depan media sosial dan media massa akan terus berseteru sekaligus berselingkuh demi merebut hati warganet dan pembaca.

Oh ya, selain salemo, sebelumnya juga telah viral sejumlah kata, ungkapan, dan idiom di media sosial. Ini contohnya:

"Masoookk Pak Eko!" 
Kalimat tersebut mendadak akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia, khususnya para pengguna media sosial. 

Kalimat lucu itu lahir dari mulut seorang polisi, AKP Eko Hari Cahyono. Eko menjabat sebagai Paur Binsuhsis Pusdik Sabhara Polri. Markas Pusdik itu berada di Porong, Sidoarjo.

Warganet akrab mengenalnya dengan Pak Eko. Sosok Eko dikenal karena ketangkasannya melempar benda sekaligus tingkahnya yang jenaka.

Di dalam video yang viral itu, Eko melempar beragam benda. Mulai sangkur, gunting rumput, obeng, gergaji, hingga sumpit yang terbuat dari besi. Eko merekam video itu dibantu oleh sekawanan anak-anak. Suara anak-anak itulah yang menjadi ciri khas dan mempopulerkan kata: "Masoook Pak Eko".

Lain lagi dengan lagu "Sayur Kol" yang juga wira-wiri di linimasa medsos dan percakapan sehari-hari. Lagu ini karya band Punxgoaran, dari Pematang Siantar, Sumatera Utara. 

“Sayur kooooooolll, sayur koooooolll. Makan daging anjing dengan sayur kolll”.

Lirik yang terasa amat punk, penuh perlawanan. Saat banyak dunia kuliner memakai toping keju, coklat, mayonaise, matcha, oreo, milo, dan saus asam manis, justru lagu ini mencoba mendobrak kebiasaan saat ini dengan makan daging anjing dengan teman sayur kol. Tidak dengan toping kekinian ataupun dengan miras. Tentu saja khusus di kalangan masyarakat yang tidak mengharamkannya.

Saking viralnya lagu ini, konon penjualan sayur kol dan kol goreng di Warung Mas Kobis Jogja ikut menjadi pesanan yang top trending. Hanya saja dimakan dengan daging ayam geprek cabe. Liriknya bisa diganti sesuai selera.  Ganti daging dengan buah-buahan, daging buah blewah, misalnya.

Nah, kata ini juga viral setahun belakangan: tuman. Tuman sejatinya adalah sebuah ungkapan dalam perbincangan sehari-hari dalam bahasa Jawa dan Sunda. Makna dan artinya juga terdapat di Kamus Lengkap Bahasa Jawa-Indonesia.

Tuman menurut arti dalam Kamus Bahasa Jawa-Indonesia, adalah terbiasa, atau senang mengulangi lagi karena pernah merasakan enaknya.

Dalam pengertian paska viral, maknanya lebih menjadi semacam umpatan yang kalau diterjemahkan akan menjadi, "Dasar! Kebiasaan....!" Orang yang tabiat buruknya tak berubah, diomeli dengan: Tumaaaan....!

Begitulah. Mudah-mudahan rakyat terhindar dari salemo akibat asap karhutla.