cikarau: Oce Satria (jurnalis)

APA boleh buat, deru pilpres kali ini menimbulkan gelombang histeria massa di mana-mana. Di titik-titik ajang kampanye, di warung-warung kopi, wa bilkhusus di linimasa media sosial. Riuhnya menderu, dendangnya bertalu-talu, sahut menyahut. Sekubu tentu saling mengangguk, dan antar kubu saling mengejek, memanasi, dan mentertawakan.

Dalam sosiologi dan psikologi, histeria massa (juga dikenal sebagai histeria kolektif, histeria grup atau perilaku obsesional kolektif) adalah sebuah fenomena penyebaran ilusi ancaman kolektif, entah nyata atau khayalan, kepada sekelompok orang dalam masyarakat sebagai akibat dari rumor dan ketakutan, dan juga mimpi. Begitu wikipedia menerangkan.

Dalam kedokteran, istilah tersebut dipakai untuk menyebut manifestasi spontan (produksi kimia dalam tubuh) dari gejala fisik histeria yang mirip atau sama dari lebih dari satu orang.

Kenapa spontanitas itu makin terlihat hari-hari belakangan? Jawabnya, tentu saja karena jadwal pertandingan tarung ulang Prabowo - Jokowi makin dekat. Dan dalam rentang yang semakin mengecil ini justru gelombang perubahan permainan makin membesar. 

Kita melihat ball possession yang sebelumnya dikuasai juara bertahan, kini membalik: Kubu 02 berhasil menguasai permainan. Memanfaatkan lebar lapangan, Sandiaga Uno, sebagai jenderal lapangan tengah mampu membagi bola ke kiri dan kanan. Sehingga terlihat seluruh permainan disusun dari dirinya. Pesona personalnya mampu membius seluruh penonton, memberikan applaus. 

Histeria massa yang dipicu gelombang pesona Sandi, membuat semua orang terpancing untuk ikut memainkan peran pada titik titik yang dipunyai, baik yang pro 02 maupun pro 01. Bahkan, yang semula mencoba menjadi penonton tanpa ikut bersorak, kini sudah terang2an ikut berdiri berteriak menyemangati. 

Meski ada yang mencoba atau mengaku netral, tapi tindakan Anda di media sosial tak bisa disembunyikan. Status Anda, link-link berita yang Anda share, status yang Anda like, dan komentar2 Anda berkait dengan pilpres ini mudah saja diketahui, Anda pendukung 01 atau 02. Siapapun, tak terkecuali para jurnalis (termasuk saya) tak bisa menyembunyikan keberpihakan di ruang-ruang privat masing-masing, meski di ruang tanggung jawab profesional, netralitas tetap bisa dijaga.

Permainan ini makin terbuka. Apalagi prahara elektabilitas petahana yang kian tergerus dan kini berada di bawah 50 persen (zona cemas) pola permainan berubah menjadi lebih hidup. Deklarasi alumni kampus adalah contoh bagaimana kedua kubu menyikapi perubahanan elektabilitas. Semua kapital sosial harus dieksploitasi sebisa2nya.

Histeria massa pilpres ini, sekali lagi, apa boleh buat, masuk juga ke grup2 WhatsApp (WAG). Saat ini orang sudah tak peduli lagi, apakah postingannya cocok di satu WAG atau tidak. Meski sudah diingatkan adminnya bahwa jangan posting soal politik di grup yang ini, kalau mau posting politik di grup satu lagi. Tapi anjuran itu tetap tak diindahkan. Penyebabnya, karena histeria massa tadi. Orang merasa semua potensi untuk menyatakan sikap politiknya harus dimanfaatkan. Sekali lagi, apa boleh buat, tuan tuan admin harus bersabar menjelang 17 April ini. Ekstase ini tak bisa dipadamkan. 😀

Pojok Pekanbaru 
28 Januari 2019