KUIS-KUISAN & APATISME
By Oce Satria
(Penghkayal & Tukang Ngopi)
TETIBA saya tertarik dengan istilah baru, namanya Indeks Kebahagiaan. Ini istilah yang dikenalkan Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Awalnya muncul di Negara Butan. Apa pula barangnya ini?
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil selalu menyebutkan kata "indeks kebahagiaan" tatkala ia meluncurkan taman, program, atau acara lain yang bertujuan untuk memberikan kesenangan kepada warga Kota Bandung. Apa yang dimaksudnya dengan indeks kebahagiaan?
Untuk mengukur kemajuan (sebuah kota) itu, kata RK, ada dari ekonomi, tapi ada yang dari kebahagiaan. Bisa saja dia hidup sederhana, tapi hidupnya happy lahir batin. Nah, bisa atau tidak kita menguantifikasi hal yang abstrak itu menjadi sebuah hal yang eksak.
Menurut Emil dari hasil penelitan, ada tiga unsur yang memengaruhi peningkatan indeks kebahagiaan.
"Jika orang sering tersenyum, sering disapa dan menemukan hal baru, itu masuk dalam kategori meningkatkan indeks kebahagiaan sehingga orang tidak hanya mengukur maju hanya dari ukuran ekonomi," begitu kata RK.
Medsos mungkin menjadi salah satu taman dimana orang bisa bebas berekspresi, melontarkan kritik, memaki orang bahkan memaki nasib. Lalu, jadilah, sekadar contoh Facebook ini, dimana ia sudah mirip celana dalam, semua orang punya dan pakai. Gak pakai celdam, rasanya gimanaaa gitu... Pokoknya ga enak, bikin resah. Celana dalam itu membuat kita bahagia.
Facebook, pokoknya dibutuhkan sebagai wadah menyalurkan apa yang tersumbat di kepala dan dada. Ia ibarat Salbutamol atau inhaler spray pelega sesak nafas.
Media sosial memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siapapun untuk berpendapat. Pengguna bebas menyatakan dan menulis apa saja yang mereka inginkan.
Eh, ternyata tak begitu juga gampang digunakan, bekakangan. Ada ancaman hukum terhadap aktivitas di internet. Keberadaan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 310 Ayat (1) juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pada dasarnya menjadi rambu-rambu dalam interaksi sosial melalui media internet.
Orang pun mulai nahan diri. Kebiasaan mengkritik dikurangi, memaki disetop. Terutama setahun belakangan. Ada ketakutan.
Banyak sebab yang melahirkan akibat. Persoalan-persoalan politik tanah air yang carut marut, perilaku dan omongan pejabat yang tak pada tempatnya, ancaman kebebasan, ekonomi yang berjalan macam siput, dan policy dibidang ekonomi yang mencekik rakyat, ancaman kebangkrutan dan segala tetek bengek kerumitan hidup.
(emang ada tetek yang bengek?)
Berbagai himpitan itulah yang membuat orang lalu mencari caranya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya. Istilah populernya NGILANGIN STRESS.
(kekira presiden konek gak ya kalau banyak orang stress? Mudah2n gak. Kalau pun konek, paling presiden bakal bikin kuis, lalu.... "ya udah...ambil sepedahnya sana..." Atau harapan kita presiden bakal prentahkan menterinya lebih forsir lagi mikirin gimana caranya ngurangi tingkat kesetresan rakyatnya. "kerja...kerja...kerja...")
Itu hanya contoh, bukan instruksi lho
Main Kuis.
Tapi rakyat ternyata punya caranya sediri untuk sekadar menepi dari bising stress itu. Dan untunglah, di medsos macam Facebook ini belakangan berserakan kuis-kuis lucu-lucuan yang bikin asyik diikuti. Fesbukiyah ramai ikut kuis2an sableng ini, dari anak SD sampai anggota DPR tertarik iseng ikut.
Persetan apa hasil tebakan, ramalan ecek2 atau terawangan kuis. Sing penting setelah diikuti dan dibagikan ke teman, kita bisa senyum dan ngakak bersama, saling ledek dan mencibir. Mayan.
Itulah salah satu contoh yang bisa dijadikan cara mengukur indeks kebahagiaan. Kayaknyaaaa sih..!
Lalu?
Udaaah, jangan nanya lagi. Main kuis2an lagi yuuuk?
Saya juga mau bikin kuis, topiknya: SIAPA GURU SMA YANG DULU PENGEN KAMU TEMBAK ?
Udah ah !
****
1 Agustus 2017