TEL AVIV [SembarangKlik!]- Gara-gara seorang tentaranya mengumbar rencana penggrebekan satu wilayah di Tepi Barat, Pasukan Israel akhirnya membatalkan rencana tersebut. Hal itu pula yang memicu keluarnya peraturan bagi tentara yang melarang penggunaan facebook bagi tentara, demi mengurangi resiko pembajakan dan kebocoran informasi dari militer Israel.

Si Prajurit bengal tersebut rupanya tidak saja menginformasikan rencana operasi militer, tapi juga menyebutkan lokasi dan waktu serangan yang direncanakan. Ia akhirnya disidang oleh Mahkamah Militer setelah dilaporkan teman-temannya kepada petinggi militer Israel. Akibat perbuatannya itu, sang tentara dihukum 10 hari penjara, dimutasi dan tanpa fasilitas komputer apalagi koneksi internet.

Surat kabar Israel Yediot Aharonot, menyebut aturan baru tersebut agak menyiksa mereka yang sudah terlanjur kecanduan.

Apalagi, aparat keamanan internal Israel juga membentuk departemen baru pada bagian intelijen untuk mengawasi peristiwa bocornya informasi keamanan oleh pihak tentara dan perwira ke internet .

SPANYOL [SembarangKlik!]- Sementara di Spanyol, Suster Maria Jesus Galan, seorang biarawati senior di sebuah biara Santo Domingo el Real, Toledo diperintahkan out setelah dia diketahui sering mengakses Facebook. Biarawati ini memiliki 600 teman di facebook.

Sebenarnya biara tempatnya mengabdi sudah memperbolehkan penggunaan komputer dan akses internet sejak 10 tahun lalu. Tujuannya tidak lain adalah untuk membuat biarawati betah di dalam. Namun banyak suster lain yang tidak menyetujui.

Oleh Suster Maria, fasilitas internet itu dimanfaatkan untuk berbagi informasi tentang agama maupun biara ke dunia luar. Bahkan tahun 2008, dia mendapatkan penghargaan pemerintah berkat hasil kerjanya memindai teks-teks berharga dari perpustakaan biara. Penghargaan itu membuat Galan populer dan dia menjalin pertemanan dengan banyak orang melalui Facebook

ARAB SAUDI [SembarangKlik!]- Kabar lainnya, gara-gara ditengarai sebagai pemicu munculnya gerakan pembangkangan dan demo anak-anak muda di sejumlah negara seperti Mesir, Tunisia, Yaman, Suriah, Libya dan sebagainya, Raja Abdullah dari Arab Saudi berencana untuk membeli Facebook

Diberitakan Raja Abdullah menawarkan USD150 miliar untuk mengontrol jejaring sosial tersebut. menurut berita yang dilansir TG Daily, kesepakatan jual beli itu mensyaratkan Facebook diminta untuk tidak memuat konten yang berisi mengenai pemberontakan dan demo di Timur Tengah. Konon pemilik Facebook akhirnya membatalkan perjanjian tersebut.

Namun demikian, isu pembelian Facebook oleh raja Arab Saudi itu sebenarnya hanyalah berita parodi dari Situs bernama Dawn Wires. Whael Ghonim, pejabat Google di Timur Tengah yang terkenal karena perannya dalam revolusi Mesir, menulis tweet yang membenarkan sumber berita diketahui hanya sebuah situs parodi.