Kampungku
Dalam termangu, tanpa sangu
Aku masih menyebut namamu
Biar di sini susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh
bila bercahaya di malam suci
ramai kerdip lilin dan mercon di kelam sunyi
Kampungku
aku bilang tunggu
di simpang
Kampungku
aku mengembara di negeri asing
Kampungku
di pintumu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
~ (dr puisi Chairil Anwar,DOA,13 Nov 43
) Mudik adalah ritual terbesar bangsa kita. Saat di mana para perantau dan orang-orang jauh dari kampung halaman, kembali pulang, merayakan lebaran bersama keluarga dekat, orang tua, sanak saudara dan sahabat-sahabat masa kecil di kampung. Kebahagiaan yang susah dilukiskan bagaimana rasanya.
Ada plesetan "Mudico Ergo Sum" yang dipaksakan bermakna "aku mudik makanya aku ada". Ya, eksistensi seseorang yang tenggelam dalam hiruk-pikuk kota besar, akhirnya bisa dirasakan dadanya di kampung halaman.
Hey...., apakah Anda termasuk pemudik teguh itu? Bagaimana perjalanan mudiknya. Asyik banget ya?.
Aku menikmati lebaran tahun ini di sini, bersama sahabat-sahabat Betawiku. Minal Aidin walfaidzin, Selamat Hari Raya Idul Fitri, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN..
Foto: urbanliner.net