Di sebalik pintu,
kelas paling ujung
aku menceritakan mimpi basah pertamaku
singkat saja
tiga baris
di antara carut-marut tangen, sinus dan cosinus
kubuat rumus sendiri:
cinta tak= d / cos a.
lalu kuurai,
Kikan, aku sudah dewasa mulai jam 03.00 dini hari tadi.
Saatnya aku mengaku cinta
karena aku sudah mimpi basah
(1986)
TERKISAH
bulan bukanlah bulan
sebab setiap hati
telah meraup cahayanya,
Bulan adalah bulan
yang bukan punya siapa-siapa
kecuali kita berdua,
temaram atau benderang.
bulan khayali
gelap ini begitu rapat,
malam tercekat,
jarak begitu singkat,
sebentar lagi fajar semburat,
melumat pekat
lamat-lamat .
BUKAN TENTANG AKSARA, TAPI
Sekali waktu di lintasan masa
puisi lahir begitu saja
tatkala bening di matamu memesona,
lalu aku bertanya-tanya:
"ini aksara ataukah lukalara"
Sekali waktu, di pumpunan masa yang sama,
tanyaku tak berjawab,
sebab engkau hanya menuturkan embun
menuliskannya di lembar-lembar dedaunku:
cinta bukanlah aksara
sebabnya ia tak kan bernama lukalara,
cinta adalah tunai mimpi pada
tanah basah,
dan lalu kita menitipkan bunga padanya,
agar ia tumbuh.
puisiku, katamu,
adalah segenap cinta berwujud dua gadis manis,
di mana kelelahan bermanja-manja pada mereka
sekali waktu, di simpul sejarah,
wahai pemilik lirik dan baris,
aku ingin mengulangnya, memulangnya.
Medio Des 14