Apa yang ditulis Luna Maya
sebenarnya bagus-bagus saja. Lha, namanya juga orang kesal (apalagi bagi artis
setenar dia sudah keseringan mendapatkan situasi dimana darah sering naik ke
ubun-ubun), apapun bisa terlontar dari kedua bibir.
Barangkali jauh sebelumnya
Luna sudah acap kali diburu para jurnalis gossip yang kadang-kadang memang
bikin kesal. Selain tak mengenal tempat (nongkrongin rumah orang semalaman)
atau waktu (nggak peduli sang artis lagi mumet dan mau istirahat) para wartawan
pun mengepung sang artis hanya untuk sekedar mendapatkan sepatah dua patah kata
dari mulut artis bersangkutan.
Jadi, kalau ada pihak yang
coba memperkarakan Luna dengan alasan penghinaan, boleh jadi itu dianggap
keterlaluan. Disebut keterlaluan karena para wartawan sendiri sering
memperlakukan artis dengan cara-cara yang kurang baik. Coba kalau Luna balik
mengadukan para wartawan dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan,
bisa juga khan?
Wartawan mungkin berlindung
di balik senjata “tugas jurnalistik”. Tapi adilkah?
Bolehkah wartawan (profesi
ini sama saja dengan profesi lain, yakni sama-sama cari makan alias cari
nafkah) berlaku seenaknya dengan alas an tengah melaksanakan tugas
kewartawanannya? Mengapa wartawan boleh mencari makan dengan memberitakan
sesuatu tentang seorang artis yanag belum tentu kebenarannya alias gossip dengan
cara-cara yang oleh artis dianggap mengganggu pri v asi mereka? Benarkah karena artis tersebut seorang public figure
lantas public “berhak” menggerayangi perihal pribadinya melalui tugas
kewartawanan?
