SEJAK 28 Maret 1938, Sukarno dipindahkan pengasingannya dari Ende, Flores ke Bengkulu. Sukarno bersama istri dan mertuanya diasingkan di Ende Flores selama 4 tahun pada 1934. 

Mengetahui hal tersebut, awak redaksi majalah "Pedoman Masyarakat" yang digawangi Hamka mengirimkan majalah ini ke tempat pembuangan Sukarno yang ditempatkan di Bengkulu. 

Di antara tulisan-tulisan yang termuat di pelbagai edisi "Pedoman Masyarakat", buah pikiran Hamka menarik minat Sukarno. Sukarno sendiri tercatat sebagai salah satu kontributor di "Pandji Islam", media Islam yang lain dari Medan.

Januari 1941, Hamka datang di Yogyakarta dalam rangka menghadiri Kongres ke-30 Muhammadiyah. Di sana ia bertemu dengan Oei Tjeng Hien (Karim Oei) dari Bengkulu yang menyampaikan pesan dari kawannya agar Hamka singgah ke Bengkulu saat kembali ke Medan. Sebulan kemudian akhirnya Hamka dan Sukarno berjumpa untuk pertama kali.

Ketiganya adalah warga Muhammadiyah. Hamka, Soekarno, Karim Oey (Oey Tjeng Hien) seolah menggambarkan keterwakilan ideal. Hamka berkiprah membina kekuatan rohani, kekuatan spritual bangsa, Soekarno merekatkan seluruh komponen bangsa, Karim Oey membina dan membangun kekuatan ekonomi. Dimana mereka bersatu sebagai 3 serangkai, 3 orang sahabat, ketika belum ada konflik dan kepentingan apa apa mereka masih bersatu dalam mimpi dan perjuangan yang sama yakni berjuang meraih kemerdekaan.

Datangnya bala tentara Jepang membuat Hamka yang berada di Medan gundah. Sukar baginya untuk diam dan membenarkan ulah "saudara tua" tersebut. Sampai akhirnya terpikir pergi Jakarta menemui Sukarno. Mereka sepakat untuk berjuang secara kooperatif, demi maslahat bagi rakyat, apapun pandangan pandangan dan penilaian rakyat kebanyakan.

"Saya sudah ambil sikap untuk kooperatif dengan Jepang" kata Sukarno 

"Kalau mereka kalah?"

Jawab Sukarno, "Meski kalah, jiwa dan semangat rakyat kita bukan semangat yang dulu, karena yang kita tuju adalah kemerdekaan. Menyadarkan kemerdekaan itulah kewajiban kita sekarang."

"Dan kalau Jepang kalah kami menjadi korbannya, masih banyak lagi pemimpin yang lain yang akan menggantikan kami, di antaranya Bung sendiri yang akan tampil ke muka menggantikan kami dan mencapai kemerdekaan Indonesia menurut zamannya pula," jelas Sukarno.

Terjadi titik balik terhadap perkawanan mereka, saat Sukarno kian tertarik mensintesiskan Nasionalisme, Marxisme dan Islam.

Pada pertengahan 1950-an, saat pendulum ambisi Sukarno nyaman bersama eksponen partai komunis, cerita air mata dua sekawan pun berbelok.

Pidato Hamka pada sidang Konstituante yang menolak ide Sukamo, pasti sangat menyakitkan hati Sukarno

Satu kali Sukarno bicara, "Kapan kita mulai menggali Api Islam?"
Hamka dalam kesempatan Iain menjawab, "Tunggu tanggal mainnya!"

Tentang konsepsi Demokrasi Terpimpin, kabinet kaki empat yang menjadi gagasan Sukarno, Presiden itu berkata, "ltulah jalan lurus, as-sirathal mustaqim."

Hamka menjawab, "ltulah as-sirat ilal jahim." (jalan menuju ke neraka).

Beberapa saat sebelumnya, pada 3 Januari 1950, Hamka masih duduk semajelis dengan Sukarno. Sukarno menjadi pendengar ceramah kawannya itu dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan di Istana Negara, tepat lima hari setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada pemerintah Indonesia.

"Maka terbayanglah di hadapan saya di malam ini sebagai seorang seniman, kejayaan Islam akan timbul kembali! Indonesia akan memegang peranan penting dalam kebangunan itu. Dan engkaulah, Bung Karno, saya harap menjadi pandu dari kebangunan itu," gema Hamka dari atas mimbar.

27 Januari 1964, pemerintah melakukan penangkapan terhadap Hamka. Penangkapan itu berlangsung karena Hamka dianggap memiliki rencana jahat. Hamka dituduh melakukan kejahatan subversif dan mendirikan kembali Partai Masjumi yang bertentangan dengan PKI. Ia juga dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Sukarno.

Bukan hanya Hamka yang menderita di bawah kian berkuasanya Sukarno pada masa berkarib dengan kalangan komunis. Beberapa kawan seperjuangan Hamka di Masyumi pun banyak yang dibui rezim.

Meski dalam puncak kekuasaannya Sukarno memusuhinya, Hamka mampu memilahnya mana pertentangan pemikiran dan mana soal pribadi. Hal ini tampaknya yang membuatnya bisa mengelola emosi. Meski dimusuhi dan dirampas hak-haknya sebagai warga negara, Hamka justru menyikapi Sukarno dengan air mata persahabatan. Ini terjadi manakala ada wasiat dari Sukarno yang memohon pada Hamka untuk bersedia mengimami shalat jenazah sekira ia meninggal dunia lebih dulu.

Ahad, 21 Juni 1970, Mayjen Suryo, ajudan Presiden Soeharto menemui Hamka, mengabarkan berpulangnya Sukarno.

"Jadi beliau sudah wafat?" tanya Hamka.

"Iya Buya. Bapak Sukarno telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso," kata Mayjen Suryo.

Rupanya Mayjen Suryo menyampaikan pesan singkat dari Sukarno yang dititipkan keluarganya bahwa "Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku." 

Tanpa membuang waktu, Hamka berangkat ke Wisma Yaso, untuk selanjutnya tampil ke depan memenuhi amanah sang kawan lama, Sukarno, yakni menjadi imam shalat jenazahnya. Di belakang Hamka, Suharto turut sebagai makmum.

Setelah Sukarno dikebumikan, tidak ada upaya Hamka untuk mengungkit-ungkit rasa sakit akibat dizalimi kawannya itu. Dalam ungkapan Rusjdi (putera Hamka): "Seolah-olah dia benar-benar telah lupa bahwa Sukarnolah yang menangkapnya berdasarkan Undang-Undang Antisubversif yang terkenal dengan nama Penpres No. 11 itu."

Hamka vs M Yamin dan Pramudya Anata Toer
Tidak hanya dengan Sukarno, Hamka juga memiliki hubungan pasang surut dengan dua tokoh lain yakni Mohammad Yamin dan Pramoedya Ananta Toer.

Presiden Sukarno pernah 'menyerang' Buya Hamka. Bersama Mohammad Yamin, Soekarno melalui headline beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka. Namun tak sedikit pun fokus Hamka bergeser dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Sebab terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Sukarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan. 

Dua tahun empat bulan lamanya Hamka dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Sukarno padanya? 

Tidak! Hamka justru bersyukur bisa masuk penjara. Di dalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz Tafsir Alqur'an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar. 

Lantas, bagaimana dengan ketiga tokoh tadi? Pramoedya, Mohammad Yamin dan Sukarno?

Ternyata Allah masih sayang pada mereka, Pramoedya, Mohammad Yamin dan Sukarno. Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat. Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia. 

Di usia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri. Apakah Hamka menolak? Tidak! Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit kekejaman Pramoedya. Astuti, anak perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati ulama besar ini. Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya. 

Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka. Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada ulama besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya. Dalam kesempatan nafas terakhirnya, tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka. 

Begitu juga dengan Sukarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Alqur'an. Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah. Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua. Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Sukarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek; 

“Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Hamka langsung bertanya pada sang ajudan, "Di mana? Di mana beliau sekarang?" Dengan pelan dijawab, "Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso."

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca. Rasa rindunya ingin bertemu dengan tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara. Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Sukarno. Untaian doa yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia. 



Oce Satria
Muhammad Yani, Indonesia Tempo Doeloe
Sumber:
1.Buku "Buya Hamka" Ulama Umat Teladan Rakyat 
3. Facebook