Welcome to Blog Jurnalis! Oce Satria Read and relish!

Konco Erat Lawan Keras: Hamka, Soekarno, Yamin, dan Pramoedya

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat



-- Persahabatan, Pertentangan, dan Jalan Panjang Memaafkan

Ada masa ketika Sukarno dan Hamka berdiri di sisi yang sama: sama-sama berbicara tentang Indonesia merdeka, sama-sama berada dalam lingkungan Muhammadiyah, dan sama-sama percaya bahwa bangsa ini harus bergerak menuju masa depan.

Namun sejarah tidak selalu menyediakan jalan yang lurus. Persahabatan dapat berubah menjadi perdebatan. Perbedaan gagasan bisa menjelma menjadi permusuhan politik. Bahkan, dua orang yang pernah berbagi mimpi dapat berakhir dalam posisi yang berseberangan.

Kisah Hamka dengan Sukarno adalah salah satunya.

Hubungan keduanya bermula ketika Sukarno menjalani pengasingan. Setelah sekitar empat tahun dibuang ke Ende, Flores, Sukarno dipindahkan ke Bengkulu pada 28 Maret 1938. Kabar itu diketahui awak redaksi Pedoman Masyarakat, majalah yang banyak dipengaruhi pemikiran Hamka.

Majalah tersebut kemudian dikirim kepada Sukarno di tempat pengasingannya.

Tulisan-tulisan Hamka rupanya menarik perhatian Sukarno. Keduanya belum berjumpa, tetapi sudah saling mengenal melalui gagasan. Hamka sendiri kala itu aktif menulis dan menjadi salah satu intelektual Islam yang diperhitungkan di Sumatra.

Pertemuan pertama mereka baru terjadi beberapa tahun kemudian.

Pada Januari 1941, Hamka datang ke Yogyakarta untuk menghadiri Kongres ke-30 Muhammadiyah. Di sana ia bertemu Oei Tjeng Hien atau Karim Oei, tokoh Muhammadiyah asal Bengkulu yang menyampaikan pesan agar Hamka singgah ke Bengkulu dalam perjalanan pulang ke Medan.

Hamka memenuhi ajakan itu.

Sebulan kemudian, dua tokoh tersebut akhirnya bertatap muka.

Pertemuan Hamka, Sukarno, dan Karim Oei pada masa itu seperti mempertemukan tiga jalur perjuangan. Hamka bergerak melalui pendidikan dan dakwah, Sukarno melalui politik dan gagasan kebangsaan, sementara Karim Oei banyak bergerak di bidang ekonomi serta pembinaan masyarakat.

Mereka pernah berada dalam satu barisan: Indonesia harus merdeka.

Ketika Jepang Datang

Kedatangan tentara Jepang mengubah suasana.

Hamka yang berada di Medan tidak serta-merta menerima kehadiran Jepang sebagai pembebas. Ia justru gelisah melihat langkah politik kekuatan baru tersebut. Pada suatu ketika, Hamka memutuskan pergi ke Jakarta untuk menemui Sukarno.

Di sana keduanya membicarakan sikap terhadap Jepang.

Sukarno memilih jalan kooperatif. Bukan karena menganggap Jepang sebagai tujuan perjuangan, melainkan karena melihat peluang untuk membangun kesadaran politik rakyat.

Bagi Sukarno, kerja sama dengan Jepang hanyalah strategi. Sasaran akhirnya tetap sama: kemerdekaan.

Ia meyakinkan Hamka bahwa sekalipun Jepang kelak kalah, rakyat Indonesia tidak akan kembali menjadi rakyat yang sama. Kesadaran tentang kemerdekaan sudah tumbuh. Dan ketika para pemimpin yang sedang tampil harus menanggung risiko, akan selalu ada generasi lain yang meneruskan perjuangan.

Pada fase itulah persahabatan mereka masih berada dalam satu garis besar: kemerdekaan Indonesia.

Tetapi setelah Indonesia merdeka, garis itu perlahan bercabang.

Nasionalisme, Marxisme, dan Islam

Perbedaan pemikiran semakin tajam ketika Sukarno mengembangkan gagasan sintesis Nasionalisme, Marxisme, dan Islam.

Hamka mempunyai pandangan yang berbeda.

Pada dekade 1950-an, ketika politik Indonesia semakin terpolarisasi, hubungan keduanya memasuki babak yang lebih rumit. Hamka menjadi salah satu suara yang kritis terhadap arah politik Sukarno, terutama ketika gagasan Demokrasi Terpimpin semakin kuat dan pengaruh kelompok komunis membesar.

Dalam sidang Konstituante, Hamka menyampaikan sikap politik yang berseberangan dengan gagasan Sukarno.

Hubungan yang sebelumnya dibangun melalui persahabatan pun mulai disesaki ketegangan politik.

Ironisnya, beberapa tahun sebelumnya mereka masih dapat duduk dalam satu forum dengan suasana yang sangat berbeda.

Pada 3 Januari 1950, misalnya, Hamka menyampaikan ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad di Istana Negara. Sukarno hadir sebagai pendengar.

Di hadapan Presiden, Hamka pernah menggambarkan harapannya terhadap kebangkitan Islam dan peran Indonesia di dalamnya. Ia bahkan berharap Sukarno menjadi salah satu pemimpin dari kebangkitan tersebut.

Tetapi politik kemudian membawa keduanya ke arah berlawanan.

Perbedaan itu tercermin dalam percakapan mereka mengenai konsep Demokrasi Terpimpin. Ketika Sukarno menyebut gagasannya sebagai jalan lurus, Hamka justru melontarkan sindiran keras dengan menyebutnya sebagai jalan menuju kebinasaan.

Hubungan dua sahabat itu tidak lagi sekadar perbedaan pendapat. Politik telah membuat jaraknya semakin lebar.

Dari Istana ke Balik Jeruji

Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap pemerintah.

Ia dituduh terlibat dalam kegiatan subversif, berupaya menghidupkan kembali Partai Masyumi, serta merencanakan pembunuhan terhadap Sukarno. Hamka kemudian mendekam di penjara selama sekitar dua tahun empat bulan tanpa melalui proses persidangan sebagaimana mestinya.

Bagi seorang ulama sekaligus intelektual, penjara semestinya menjadi ruang yang mematahkan langkah.

Namun bagi Hamka, jeruji justru berubah menjadi ruang kerja.

Di dalam tahanan, ia memiliki waktu yang panjang untuk menyelesaikan karya yang kelak dikenal luas sebagai Tafsir Al-Azhar. Pengalaman pahit itu tidak membuatnya berhenti menulis.

Dengan cara yang tidak biasa, penjara justru melahirkan salah satu karya terbesar Hamka.

Dan di sinilah karakter Hamka terlihat: ia mampu memisahkan pertentangan pemikiran dari kebencian pribadi.

Sukarno boleh menjadi lawan politiknya. Tetapi bagi Hamka, Sukarno tetap manusia yang pernah menjadi sahabat.

Ketika Sang Lawan Meminta Satu Hal

Hubungan itu mencapai babak terakhir setelah Sukarno jatuh dari panggung kekuasaan.

Pada Ahad, 21 Juni 1970, seorang ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Suryo, datang menemui Hamka. Ia membawa kabar bahwa Sukarno telah meninggal di RSPAD dan jenazahnya dibawa ke Wisma Yaso.

Ada satu pesan yang membuat suasana berubah.

Sukarno, melalui keluarganya, pernah menyampaikan keinginan agar apabila ia meninggal, Hamka bersedia menjadi imam salat jenazahnya.

Hamka tidak mempersoalkan masa lalu.

Ia berangkat ke Wisma Yaso dan memenuhi permintaan tersebut. Di belakang Hamka, Soeharto turut menjadi makmum.

Adegan itu seperti menutup sebuah lingkaran sejarah yang panjang.

Seorang ulama yang pernah dipenjarakan oleh rezim Sukarno berdiri di depan jenazah orang yang pernah menjadi sahabatnya. Ia tidak datang untuk membalas. Ia datang untuk menunaikan amanah.

Bagi Hamka, permusuhan politik rupanya tidak cukup kuat untuk menghapus kenangan persahabatan.

Bukan Hanya Sukarno

Hamka juga pernah berada dalam hubungan yang penuh ketegangan dengan Mohammad Yamin dan Pramoedya Ananta Toer.

Dalam pergulatan politik dan wacana kebudayaan pada masa itu, nama Hamka menjadi sasaran kritik keras. Sejumlah media yang berada dalam orbit politik kiri ikut menyerang reputasinya.

Namun Hamka tidak mengubah jalannya.

Ia tetap menulis, berdakwah, dan menyampaikan pandangannya tentang amar makruf nahi mungkar.

Ketika akhirnya ia dipenjara, Hamka tidak memilih hidup dalam dendam.

Justru dari penjara ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar, karya yang kemudian menjadi salah satu rujukan penting umat Islam Indonesia.

Pramoedya Datang Membawa Anak

Tahun-tahun berlalu. Ketegangan politik mereda, sementara usia membuat banyak orang meninjau kembali masa lalu.

Pramoedya Ananta Toer, pada usia senjanya, dikisahkan mengirim putrinya, Astuti, bersama calon suaminya, Daniel, yang merupakan seorang mualaf, untuk belajar Islam kepada Hamka.

Hamka tidak menolak.

Ia menerima mereka dengan tangan terbuka. Tidak ada syarat agar kesalahan masa lalu diselesaikan terlebih dahulu. Tidak ada pengadilan terhadap Pramoedya.

Hamka justru mengajarkan agama kepada keduanya.

Astuti disebut terharu melihat sikap Hamka yang tidak menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk menutup pintu. Hamka bahkan menjadi saksi dalam pernikahan Astuti dan Daniel.

Di titik itu, pertentangan lama seperti kehilangan tenaga.

Yang tersisa adalah manusia dengan segala kekurangan dan kebesaran hatinya.

Yamin dan Permintaan Maaf

Kisah dengan Mohammad Yamin juga berakhir dalam suasana serupa.

Ketika Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekat memanggil Hamka. Dalam pertemuan itu, Yamin disebut menyampaikan penyesalan dan meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan terhadap Hamka.

Hamka datang bukan sebagai orang yang hendak menagih masa lalu.

Ia datang sebagai sesama manusia.

Dalam masa-masa terakhir kehidupan Yamin, Hamka membimbingnya mengucapkan kalimat-kalimat tauhid.

Begitulah hubungan Hamka dengan tiga tokoh besar pada zamannya: Sukarno, Mohammad Yamin, dan Pramoedya Ananta Toer.

Mereka pernah berada di kubu yang berseberangan. Pernah saling menyerang melalui gagasan dan politik. Bahkan, dalam kasus Sukarno, pertentangan itu membawa Hamka ke penjara.

Namun Hamka tidak membiarkan luka politik berubah menjadi kebencian seumur hidup.

Memaafkan Tanpa Menghapus Sejarah

Ada hal menarik dari kisah Hamka: ia tidak harus menganggap lawannya benar untuk memaafkannya.

Ia bisa tetap berbeda pandangan dengan Sukarno, tetapi tidak menghapus persahabatan mereka.

Ia bisa pernah diserang oleh Pramoedya, tetapi tetap membuka pintu ketika putri dan calon menantunya datang untuk belajar.

Ia bisa berada dalam posisi yang berseberangan dengan Mohammad Yamin, tetapi tetap datang ketika Yamin membutuhkan seseorang untuk menuntunnya di penghujung hidup.

Di situlah barangkali pelajaran terbesar dari kisah ini.

Politik memiliki umur. Kekuasaan juga memiliki batas. Perdebatan ideologi pada akhirnya berhenti ketika manusia berhadapan dengan kematian.

Yang tersisa kemudian bukan siapa yang menang dalam perdebatan, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika ia memiliki kesempatan untuk membalas.

Hamka memilih tidak membalas.

Ia memilih memaafkan.

Dan ketika jenazah Sukarno terbujur di hadapannya pada Juni 1970, Hamka berdiri sebagai imam. Bukan untuk membenarkan semua keputusan politik sang Proklamator, melainkan untuk memenuhi amanah seorang kawan lama.

Barangkali di situlah sejarah menemukan sisi paling manusiawinya: dua orang dapat berbeda sampai ke akar gagasan, tetapi pada akhirnya tetap dapat saling meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada kemenangan politik—sebuah penghormatan, sebuah pengampunan, dan kenangan tentang persahabatan yang pernah ada. (*)

Oce E Satria

Diolah dari berbagai sumber


Rate this article

Dukung editor dan penulis situsweb ini via Bank Rakyat Indonesia (BRI) No Rek: 109801026985507 - Kontak: 082113030454

Posting Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG TOPIK INI?: