Boleh dikatakan, saat ini media jaringan sosial benar-benar booming di Indonesia. Tercatat ada sekitar 35 juta orang Indonesia yang "fesbukan". Mulai dari pejabat, ibu-ibu rumahtangga, sampai anak-anak SD menggunakan facebook. Sementara penetrasi pengguna twitter di Indonesia mencapai 20,8 persen, melampaui rata-rata 7,4 persen dari seluruh pengguna internet. Konon sampai tahun 2009 saja sudah melampaui 1,4 juta pengguna seperti dirilis perusahaan riset. comScore, disamping jumlah pengunjung (unique visitor) mencapai 4,6 juta orang.
Ada beberapa penyebab, mengapa facebook begitu ‘laku’ di Indonesia. Diduga, perilaku sosial dan budaya orang Indonesia memang suka pamer dan narsis.
Banyak yang ingin disampaikan pada orang lain atau teman tentang diri dan keluarga mereka. Orang Indonesia memang suka curhat, berkeluh kesah tentang isi hati, pikiran dan keinginan-keinginan mereka.
Facebook adalah sarana yang pas untuk itu. Dengan penggunaan yang simple, mudah dan fitur-fitur yang mengakomodasi perilaku tersebut, facebook tentu saja sangat cepat mewabah. Bahkan duduga alasan orang membeli blackberry tak lain adalah semata-mata hanya karena ingin fesbukan!
Orang mengupdate status beberapa kali sehari, hampir jarang yang memposting status setiap 5 menit sekali. Mereka berfikir, kebanyakan status kita di beranda orang lain bisa membuat teman menjadi muak dan bosan. Karena itu, di facebook dinamika ‘kiriman’ status, foto, tautan dan lain-lain tidak terlalu dinamis. Bandingkan dengan timeline di twitter dimana status atau twit mengalir seperti air bah.
Menurut saya, perbedaan kedua hal ini ikut memisahkan pengguna facebook dan twitter menjadi dua kelompok kelas di Indonesia.
Rata-rata pengguna twitter adalah mereka yang selalu ingin terus menerus menyuarakan pikiran-pikiran mereka. Karena itu biasanya mereka berasal dari kalangan menengah (politisi, aktivis, seniman dan lain-lain). Bahkan untuk satu topic seorang tweep (sapaan khas pengguna twitter) bisa memposting kicauan mereka berpuluh-puluh kali. Biasanya disebut dengan kultwit alias kuliah twitter.
Yang dipentingkan oleh tweeps adalah pikiran atau opini mereka dibaca orang lain. Mereka tidak terlalu memusingkan “komentar teman” seperti di facebook. Di Facebook, status yang sepi komentar sering membuat si empunya status menjadi patah semangat menulis kembali.
Hal lain yang membuat “kelas menengah” lebih nyaman di twitter adalah karena untuk mengikuti tweet orang lain tidak dibutuhkan add dan confirm seperti facebook. Cukup klik follow, kita sudah bisa ikut kongkow-kongkow.
Terus facebook-nya kelas apa?
BalasHapusya mungkin kelas menengah bawah.
BalasHapus