2 juta rakyat Mesir anti  Mubarak turun ke jalan 
Demonstrasi besar-besaran menentang dan meminta presiden Husni Mubarak turun dari jabatannya makin meluas. Warga Mesir kini mempersenjatai diri mereka. Hal ini menyusul semakin memanasnya situasi di Kota Kairo. Toko-toko dijarah dan mobil dibakar di jalan. Meski Presiden Hosni Mubarak sudah mengerahkan tentara, keadaan masih belum terkendali.

Para pengunjuk rasa mengambil alih pusat ibu kota Mesir, Kairo, pada hari keenam demonstrasi antikekuasaan Presiden Husni Mubarak.

Polisi, yang terlibat bentrokan berdarah dengan para pengunjuk rasa dalam hari-hari belakangan ini, hampir tidak kelihatan di jalan-jalan.

Personel militer dalam jumlah cukup besar mengambil posisi di kota berpenduduk delapan juta jiwa itu, namun tentara tidak melakukan tindakan apa pun.

Wakil KASAU Marsekal Madya TNI Sukirno mengatakan, situasi di Kairo saat ini sudah mulai tidak terkendali. Kendati konflik yang berlangusng masih antara Pemerintah dengan rakyat dan belum mencapai konflik horizontal antara masyarakat dengan sesamanya.

Sebanyak 6.149 warga negara Indonesia (WNI) di Kairo, Mesir terjebak konflik horizontal antara Pemerintah Kairo dengan masyarakatnya. Sebanyak 4.297 warga di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan.

Sementara 1.002 warga lainnya adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, serta 850 staf KBRI dan keluarganya

. KBRI membentuk 20 posko sebagai pusat informasi. Serta, tiga titik evakuasi di Nasser City, KBRI, dan sekolah-sekolah Indonesia yang ada di Kairo.

Dari berbagai sumber