/oce satria



Langit berisik
sejak bung memahat ikrar di awang-awang,
melukiskan panorama di ruang maya,
membedong bayi-bayi dengan nina bobo usang.

Cuit armada burung-burung yang menciutkan nyali,
menirai langit 
hingga kami tak tahu lagi malam dan siang di sebelah mana,
Armada itu, burung-burung itu, kini telah buncit, 
tak kuat lagi terbang, 
tersebab pipa nafas mereka tersumbat aroma seribu tart bersusun tiara.

Langit tak berkutik,
sejak bung menisab nasib mereka-mereka yang hendak memperingatkan bung tentang bahaya yang mengancam di gerbang kota.
Dan lalu mereka satu persatu dibariskan pada pintu bernama pro justisia,

Langit bergidik,
sejak bung bersulang dengan mereka-mereka yang kami tak tahu entah siapa, yang memasang papan nama sebagai pejuang tapi melemparkan mereka-mereka yang berpapan nama marginal,
ke jurang paling dasar.

Langit memekik,
sejak bung menginspirasi orang-orang untuk menyempitkan jalan akal sehat mereka, dan lalu berbondong-bondong serupa orang bodoh menganggukkan keganjilan-keganjilan sebagai kehebatan.

Sajak ini kutulis 
demi memintas sebelum hanyut, 
melantai sebelum lapuk.
Mari segarkan kepalamu.

*Pekanbaru 1912019