Cerpen Oce Satria 


Harini merapal nasibnya sendiri, jauh di dasar jurang gelap, tempat di mana ia merasakan tubuhnya bergulung-gulung melewati tajamnya batu-batu dan lalu meringkuk kesakitan di sekujur tubuh mungilnya. Menunggu sahutan dari erangan bahkan teriakan yang senantiasa ia lakukan. Adakah kalian di atas sana tidak merasa jurang ini telah memakan korban? Mengapa tak ada yang mencoba menjulurkan kepala, sekedar memastikan bahwa di dasar jurang ini tidak terjadi apa-apa? Andai saja…

“Aku senantiasa ingin memastikan, aku berjodoh denganmu, Indra…” Ia menyampaikan kecamuk hati hanya separuh jari kelingking dari telinga lelaki gagah itu. Begitu lirih suaranya, tertatih bagai dihimpit Singgalang yang selalu berkabut. Meski ia yakin, tali cinta yang terbuhul cukup untuk membuat lelaki yang dipanggilnya Indra itu memahami maksudnya.

“Bukan sekarang, Rini.” si gagah memutar kepala memperhadapkan matanya ke wajah Harini.

Masygul hati Harini, “Kau tak mendengarku? Adakah hal lain yang menggamit pikiranmu?”

“Bila saatnya tiba, di situlah kita boleh memastikan. Jodoh hanyalah soal siapa dipersatukan dengan siapa, dan itu hanya hak Tuhan. Kau dan aku hanya boleh mencari dan menanti.”

“Berharap tidak boleh?”

“Boleh. Tapi jangan memperturutkan hati, Rini. Jika kau temukan kenyataan yang berbeda dari harapan, siapa bakal kau persalahkan?”

Ya, dan hanya karena tidak mau memperturutkan hati, Indra menurut pada kemauan ayah-ibunya dan kaum kerabatnya: menerima pinangan si jelita lain, dalam semayam istana terpandang. Calon dokter pula. Wahai, apakah sudah ketentuan kalau calon dokter mesti berjodoh dengan calon dokter juga?

Alangkah nistanya derajat Harini manakala mendengar gunjingan orang-orang tentang alasan keluarga Indra menolak keberadaannya sebagai calon istri anak lelaki mereka. Ia didakwa sebagai perempuan yang tak pandai mengukur diri. Calon dokter tak mungkin dipersandingkan dengan gadis yang hanya lulusan tsanawiyah. Sampai kapanpun tak bakal bersua ruas dengan buku. Hanya akan jadi bahan gunjingan orang. Bagai tak ada lagi perempuan yang bisa dipersunting putera kebanggaan mereka. Lagi pula menurut mereka, bagaimana kelak Harini bakal melayani sang suami hanya berbekal pendidikan serendah itu!?

Sesudut hati Harini mengeluh, kenapa perempuan hanya boleh melayani laki-laki, bukan sebaliknya atau setidak-tidaknya saling memberi dan menerima?

Tetapi luka disayat pisau bernama martabat tidak sesakit ketika tahu cumbu rayu berbungkus haru biru ternyata bagai semilir angin, membelai sesaat lalu lenyap. Harini tak menangkap secuil pun sesal dan kecewa dari lelaki yang selama ini begitu sempurna di matanya. Ia lenyap di tengah kilauan pesta perkawinannnya yang megah.
Sementara Harini tinggal melewati hari-harinya dengan kecamuk sesal. Betapa ia hanyalah perempuan naif yang tak paham bagaimana memagar diri. Ia bahkan lupa bahwa mereka tak memiliki secuil pun hak untuk saling bersentuhan tanpa izin syar’i.

Setelah dirinya hangus dijilati api angkara, dan lelaki itu berdecak meracik keringat nan jumawa, Harini dicampakkan hanya lantaran dianggap tak mungkin wawasannya mampu menggapai intelektualitas sang durjana! Kadang ia menerawang jauh tanpa batas, membayangkan dirinya berada ratusan kilometer di kota propinsi, dibalut jaket mahasiswa. Ohoi...!

Dan sejak itu Harini harus hidup meringkuk dalam pasungan. Ayah dan saudara-saudara laki-lakinya bahkan sampai mengorbankan pohon surian satu-satunya yang belum sempurna umurnya hanya demi membuat pasungan untuk Harini. Keluarganya menganggap pasungan itu cukup untuk menghentikan racauan Harini. Ia ingin kuliah, ingin gelar dokter! Dan ketika Harini mengutarakan keinginannya, seluruh isi rumah menganggapnya sedang bermimpi. Mimpi itu sudah diluar batas akal sehat mereka, itu bukan lagi mimpi tetapi hasutan jin yang telah bersarang di seluruh urat syaraf anak gadis mereka. Harini pun mulai berlaku aneh. Ia memotong rambutnya lebih pendek dan lebih sering mematut-matut diri di depan cermin. Ia memotong sisa tali jemuran, lalu menjadikannya stetoskop!

“Aku tidak gila, Ayah! Aku hanya ingin sekolah, seperti Indra dan seperti perempuan yang telah merebut Indra dariku.” ronta Harini ketika seluruh tubuhnya lemas dibekap Ayah dan Rusman, kakaknya. “ Mereka salah menilai aku!”

Ayah Harini masygul mendengar teriakan anak gadisnya itu. Ia memastikan permintaan itu tidak berasal dari Harini. Bukan kebiasaan anaknya berlaku seperti itu. Ia sangat mengenal anaknya yang lugu dan selalu berkata lemah lembut. Tapi pasungan sudah disiapkan. Dibelainya kepala Harini sementara Rusman mengunci kedua kaki putih mulus itu pada pasungan.

“Rini, mereka tidak salah menilai. Mereka benar bahwa keluarga kita tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka. Jadi, bukan hanya engkau Rini, tapi juga Ayah, kakak-kakakmu, keluarga kita tak sebanding dengan martabat mereka.”

“Tapi aku tidak gila hanya karena bercita-cita seperti mereka, Ayah. Kenapa aku dipasung?” Harini berteriak meronta.

“Siapa mengatakan kamu gila? Kamu hanya kena pengaruh hasutan jin. Kamu mesti diobati. Ayah hanya memasung jin jahat yang telah bersarang dalam dirimu. Bukan kau yang kami pasung. Tak mungkin Ayah akan memasung darah daging Ayah sendiri.”

“Tapi, kenapa? Mempersalahkan jin dan mengurung kakiku dalam pasungan ini?”
“Keinginanmu tidak masuk akal, Rini.”

“Tidak masuk akal bagaimana, Ayah?”

“Meracau mau menjadi dokter, kau tak berkaca bercermin diri, Rini. Kamu hanya merasa tersaingi oleh perempuan itu. Dan kamu merasa dikalahkan. Tapi, sudahlah. Mengapa menyiksa dirimu dengan sesuatu yang lepas dari kita. Mungkin memang kau tak berjodoh dengan Indra!”

“Ayah hanya putus asa karena keluarga kita miskin. Lalu menganggap segala hal mustahil buat kita?”

“Kita harus bisa mengukur diri.”

“Dan menuduh jin pula!”

“Mengucaplah Rini! Istighfar!”

“Ayahlah yang mesti mengucap istighfar, bukan aku!”

“Sudahlah, Nak! Malu kita. Tak baik meracau sesal. Orang kampung akan makin merendahkan kita jika kau terus menyebut-nyebut mimpi doktermu itu.”

“Ayah buka saja pasungan ini. Aku buktikan aku bisa melanjutkan sekolah. Tak usah Ayah berpikir biayanya. Bagaimana?”

Sang Ayah tak menjawab, tidak pula bereaksi. Hanya ia sudah memastikan bahwa yang baru didengarnya dari mulut Rini hanya bualan jin penggoda. Ia sangat percaya bahwa apabila otak tak mampu memahami tak bertemunya harapan dengan kenyataan, maka jin akan mengambil alih. Itulah yang terjadi pada anak gadisnya ini. Meski hatinya berdetak juga manakala mendengar omongan Harini yang selalu banyak benarnya. Rasanya tak pantas gadis sejelita dan secerdas Harini menerima tudingan sakit ingatan dari dirinya.
Galau menggelayut di benak laki-laki limapuluhan itu. Tetapi ia memang tak sanggup melihat kesedihan hampir tak pernah lenyap dari wajah anaknya itu. Wajah yang merusuh hati. Ditambah omongannya yang tak pernah putus menyoal gelar dokter yang menurutnya bisa diraih. Kepala tuanya nyaris pecah dan memang tak sanggup memahami apakah ceracauan anaknya waras atau tidak.

Dan Harini lelah berteriak dan memelas menyatakan kewarasannya.

Seluruh keluarganya memang sudah menganggap Harini benar-benar gila, hilang ingatan atau kemasukan jin. Tingkahnya dan permintaannya mulai sering aneh. Lagi pula bukan tabiat Harini suka meminta sesuatu pada saudara-suadaranya. Tetapi sekarang ia mulai meminta yang aneh-aneh. Kepada Rusman, kakak tertuanya, Rini minta dibelikan radio ukuran saku. Bulan lalu Mulyadi, kakaknya yang lain memborong seikat besar majalah bekas di Pasar Lereng, Bukittinggi. Permintaan yang aneh karena mereka bukanlah keluarga yang biasa melahap bacaan. Tapi demi menyetop ceracau Harini, Mulyadi tak tahan juga. Toh, majalah bekas memang murah. Cukup dengan tiga hari bekerja di sawah Haji Jami, ia sudah membawa pulang puluhan majalah bekas. Sementara dua orang kakaknya yang lain tak luput dari ceracau Harini.

Ayah Harini sudah putus asa berobat ke ‘orang pintar’. Dua orang dukun yang coba mengobati menyerah. Yang pertama menyimpulkan bahwa Harini telah diguna-gunai seseorang yang pernah menaruh hati padanya. Sang dukun mengakui kehebatan jin yang dikirim mengurung hampir seluruh simpul syaraf Rini. Tak mungkin dilawan, katanya.

Sementara dukun kedua menawarkan alternatif, menyerahkan sesaji ke Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang, tempat di mana Rini pernah bermalam tahun baru bersama Indra. Jika tak sanggup, sang dukun bersedia mewakili tetapi dengan syarat yang teramat berat: ia mesti dibekali beberapa keping rupiah emas. Alamak! Itu sama luasnya dengan dua belas piring sawah. Tapi masih beruntung anak gadis mereka tidak dilarikan inyiak sibunian, penghuni rimba.

“Siapa lagi dukun yang hendak ayah panggil?” Harini bersungut-sungut ketika ayahnya muncul mengantarkan makan siangnya.

“Ayah tidak memanggil dukun, Rini.”

“Jangan perlakukan aku bagai orang gila! Aku tahu Ayah sudah mendatangi dukun-dukun itu. Ingat laknat Allah, Ayahlah yang telah bersekutu dengan syetan!”

“Ayah hanya ingin kamu kembali sembuh, Rini. Tapi Ayah tak sanggup lagi . Dengan apa membayar mereka? Kau ‘kan tahu, semakin tinggi tuahnya semakin tinggi pula permintaannya. Dari mana kita dapat uang?”

“Dokter juga begitu. Semakin tinggi sekolahnya, makin mahal pula bayarannya!” Harini mendengus kesal.

“Itu benar. Tapi penyakit kau ini karena ulah jin, bukan penyakit kebanyakan. Dokter tidak mempelajari jin.”

“Bila Ayah izinkan aku melanjutkan sekolah, tentu aku bisa jadi dokter. Dan tak semalang ini nasib keluarga kita.”

“Kau meracau lagi.”

Harini menahan geram. Nasi bercampur sepotong goreng tempe dan beberapa pucuk daun lobak itu tak disentuhnya. Dadanya hendak pecah membendung badai kemarahan. Mengapa Ayah dan saudara-saudaranya tak bisa membedakan orang waras dengan orang gila?

“Aku tidak meracau! Kenapa kalian tidak percaya pada keyakinanku? Aku hanya ingin melanjutkan sekolahku. Kenapa aku dipasung?” Suaranya serak, memelas.

“Sebab itu tidak mungkin! Mustahil!” tukas ayahnya dengan suara ditekan seperti enggan kedengaran ke luar rumah. “Kita ini orang miskin, Rini. Kita tidak punya apa-apa. Kita tidak punya sawah untuk digadaikan. Rumah lapuk ini pun bukan milik kita, tapi milik keluarga alrmarhumah ibumu. Sadarlah, Nak!”

“Aku sadar, Ayah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku ini sadar. Aku tidak gila seperti yang Ayah tuduhkan !” Suara Harini memelas bercampur ratap.

“Tidak ada yang mengatakan kau gila. Hanya jin sudah mempengaruhi pikiranmu. Mimpimu sudah kemana-mana, tak masuk di akal! Jadi dokter itu, Rini, tak cukup ratusan ribu, tapi jutaan rupiah. Kita? Jangankan ratusan ribu, mencari duapuluh ribu sehari saja sudah tunggang-tunggik. Lalu kau hendak mencari sendiri biayanya? Dengan apa? Kau perempuan! Astaghfirullah, Rini! Tak mampu Ayah membayangkan!”

“Ayah membayangkan apa? Membayangkan aku menjual tubuhku? Ataghfirullah..., akulah yang pantas mengucap itu untuk Ayah.”

“Maafkan Ayah, Rini. Ayah tak sanggup mencari biaya, tapi juga takut kau tersesat.”

“Jadi karena itu aku dipasung?”

Sabak mata Harini. Tak bertahan lama, ia terisak menyadari betapa kepahitan telah membuat ayahnya hilang ingatan dan memendamnya dengan memasung kedua kakinya. Dan karena ia perempuan, ayahnya mengurung dirinya di bilik pengap ini?

Tiba-tiba Harini terbahak, menganggap betapa naif dan bodohnya ayah dan saudara-saudaranya. Bukankah di rumah ini hanya dia seorang perempuan? Kenapa harus dipasung? Tak sanggupkah lima laki-laki mengatasi satu perempuan?

Gelak Harini bertambah-tambah. Lantas berubah jadi tawa terkekeh. Tinjunya terkepal mengacung tinggi. Lalu secepat kilat menghunjam turun.

“Iyyyeeesss....!!!”

(Jakarta, April 2006)