THOMAS AMERICO. Namanya mungkin tak seterkenal Chris John atau Elly Pical. Namun, petinju Indonesia putra Timor Leste ini mencatatkan sejarah penting untuk tinju Indonesia sebelum kedua nama terkenal tersebut maju ke kancah internasional.
Dia adalah Thomas Americo, merupakan petinju Indonesia pertama yang maju sebagai penantang juara dunia.
Thomas Americo berangkat dari petinju amatir asal Timor Timur (kini Timor Leste). Ia dilahirkan oleh seorang perempuan dari suku Tetun, penduduk asli Timor Timur. Ayahnya Mamel Borgis berasal dari Angola. Thomas tidak pernah mengenal ayahya karena semenjak dalam kandungan ayahnya telah kembali ke Angola.
Thomas Americo diangkat anak, dan biasa dipanggil 'Jimmy' oleh Killin Sidabalok, seorang laki-laki kelahiran Pulau Samosir dan berpangkat kapten TNI-AD, kala itu. Ia dibawa ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1976 dan diserahkan ke sasana arek Malang
Setelah lima bulan berlatih di sasana tinju Sucipto Murni di Sasana Arek Malang, Thomas Americo naik ring melawan Key Siong dari sasana Sawunggaling. Jimmy menang dan menerima bayaran Rp 6.000.
Thomas pun sempat bergabung dengan sasana tinju di Jakarta, yaitu Sasana Waringin, Jakarta (1978), tetapi ia tidak betah, Thomas kembali lagi ke Malang. Ia memilih Sasana Gajayana, asuhan Walikota Sugiyono. Satu tahun kemudian, yaitu pada tahun 1979 ia mengalahkan Wongso Suseno. Wongso Suseno adalah petinju Indonesia pertama yang menjadi juara Orien Pacific Boxing Federation (OPBF).
Setelah berkali-kali mendapatkan kemenangan demi kemenangan, Thomas semakin terkenal.
Nama Thomas Americo semakin menjulang setelah ia berhasil merebut gelar juara OPBF, untuk kelas welter ringan di Gedung Go Skate, Surabaya, 15 Agustus 1980, Thomas Americo berhasil memukul KO juara sebelumnya, yakni Sang Mo Koo, seorang petinju yang berasal dari Korea Selatan. Saat itu Thomas menerima Rp 6 juta, sebuah bayaran tertinggi petinju prof Indonesia ketika itu.
Sebelum mengalahkan Sang Mo Koo, Thomas mengalahkan Mike de Guzman, seorang petinju dari Filipina dan Eddi Button petinju dari Australia.
Thomas mendapatkan gelar kampium OPBF, di mana ia memiliki kesempatan terbuka untuk menantang juara dunia kelas Welter Ringan versi WBC, Saoul Mamby dari Amerika Serikat.
Thomas Americo naik ring tanggal 29 Agustus 1981 untuk berusaha merebut gelar juara dunia dari juara bertahan Saoul Mamby. Dengan gemilang Ia berhasil memberikan perlawanan terhadap juara dunia asal Amerika Serikat tersebut.
Setelah bertarung ketat selama 15 ronde di Stadion Bung Karno, Jakarta, Indonesia, pertandingan yang dipimpin oleh wasit Ken Morita dari Jepang
Juri Marcello Bertini dari Italia yang memberi nilai 147-139 untuk kemenangan Saoul Mamby. Rudy Ortega dari Amerika Serikat yang memberi nilai 146-141 untuk kemenangan Saoul Mamby. Dan Takeo Ugo dari Jepang yang memberi nilai sama/draw 146-146.
Pupus sudah harapan Indonesia untuk memiliki juara dunia tinju.
Setelah gagal merebut gelar juara dunia, Thomas Americo melakukan debut dalam menjalani karier di luar negeri. Ia menghadapi petinju tuan rumah, Korea Selatan, Sang Hyun Kim, mantan juara dunia kelas Welter Ringan versi WBC, 20 Desember 1981. Dalam pertandingan tersebut Thomas Americo menderita kekalahan angka.
Thomas Americo kembali naik ring untuk menghadapi petinju veteran tuan rumah, Jeff Malcolm dari Australia. Kembali ia mengalami kekalahan melalui kekalahan angka dalam pertarungan 10 ronde di Sidney Opera House, Sidney, New South Wales, Australia, 2 April 1982
Kekalahan tersebut semakin meredupkan nama Thomas Americo.
Setelah menjalani 8 pertandingan berikutnya, 29 Juni 1987 Thomas Americo mencoba bangkit lagi. Ia menantang juara nasional kelas Welter Ringan, Bongguk Kendy. Kembali ia mengalami kekalahan dalam pertarungan 12 ronde di Jakarta. Kekalahan tersebut membuat Thomas Americo mengundurkan diri.
Setelah beristirahat panjang, delapan tahun kemudian tepatnya tanggal 15 Juli tahun 1995, Thomas Americo di usia 37 kembali naik ring. Ia menghadapi T Tara Singh di Dili, Timor Timur. Pertarungan yang dijadwalkan berlangsung selama 4 ronde tersebut dimenangkan oleh Thomas Americo dengan KO di ronde ke 2.
Pertandingan tersebut merupakan pertandingan terakhir untuk Thomas Americo. Karena empat tahun kemudian, 7 September 1999, Thomas Americo meninggal dunia dalam usia 41 tahun. Thomas tewas di tangan milisi dalam perang saudara di Timor Timur.