"Aku berangkat seorang diri, tanpa kawan seperjalanan sebagai pelipur lara, tanpa iring-iringan kafilah yang dapat kuikuti, namun didorong oleh hasrat yang menggebu-gebu di dalam diriku, dan impian yang sudah lama terpendam di dalam sanubariku untuk berziarah ke tempat-tempat suci yang mulia ini. Jadi, kubulatkan tekadku untuk meninggalkan orang-orang terkasih, perempuan maupun laki-laki, dan menelantarkan rumahku laksana burung-burung menelantarkan sarang-sarangnya. Alangkah berat rasanya berpisah dari kedua orang tuaku, yang masih hidup kala itu, dan baik beliau berdua maupun diriku sendiri sungguh-sungguh berduka karena harus berpisah" (Catatan Ibnu Batutah)
Dikutip dari Wikipedia, Ibnu Batutah atau Muhammad bin Batutah (bahasa Arab: محمد ابن بطوطة) yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن عبد الله اللواتي الطنجي بن بطوطة) adalah seorang alim (cendekiawan) Maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada Abad Pertengahan.
Dalam jangka waktu tiga puluh tahun, Ibnu Batutah menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok.
Menjelang akhir hayatnya, ia meriwayatkan kembali pengalaman-pengalamannya menjelajahi dunia untuk dibukukan dengan judul Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib (bahasa Arab: تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار, Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār), yang lazim disebut Lawatan (bahasa Arab: الرحلة, Ar-Rihlah). Riwayat perjalanan Ibnu Batutah menyajikan gambaran tentang peradaban Abad Pertengahan yang sampai sekarang masih dijadikan sumber rujukan.
Berikut kronologi perjalanan panjang Ibnu Batutah:
Dikutip dari @limproduction di Instagra, berikut kronologi perjalanannya.
Berhaji
Pada 1325 atau saat usianya baru 21 tahun, Batutah muda hendak menunaikan ibadah haji. Ia berjalan sendirian tanpa ditemani rekan musafir, sekalipun itu rombongan dagang.
Ibnu Battutah memulai perjalanannya hanya dengan mengendarai keledai. Namun, ketika sampai di daerah Afrika Utara, dia bertemu dengan rombongan lain yang juga akan menunaikan Haji.
Dalam perjalanan menuju Mekkah, dia menyempatkan diri singgah sejenak di Mesir untuk mempelajari hukum Islam dan menjelajahi kota Alexandria serta Kairo yang dia sebut sebagai indah dan megah. Singkatnya ia sudah berhaji dan bermukim di Mekkah sementara waktu untuk mendalami ilmu agama.
Mimpi
Nah, di suatu malam ia bermimpi telah dibawa terbang oleh burung yang besar. la ditinggalkan di suatu tempat asing.
Belum pernah ia membayangkan tempat asing seperti itu. Dari mimpi itu akhirnya ia tahu bahwa menjadi penjelajah dunia adalah takdir hidupnya.
Berkeliling
Setelah dari Mekkah, Ibnu Batutah berkunjung ke Persia dan Irak, lalu wilayah yang kini dikenal sebagai Azerbaijan. Dari sana, dia meneruskan perjalanan ke Mogadishu, Kenya, dan Tanzania.
Setelah itu, Ibnu Batutah menuju Turki. Batutah pun berpetualang ke belahan dunia selatan, tepatnya di kota Delhi India selama 7 tahun.
Di India, sempat ia diamanahi menjadi hakim oleh Sultan Muhammad Tughluq. Pada 1341, Sultan mengirimnya ke Tiongkok sebagai delegasi. Perjalanan ke Tiongkok tidaklah mudah.
Belum sempat ke sana, ia dan rombongan terdampar di Maladewa cukup lama akibat badai. Ibnu Batutah kemudian meneruskan perjalanan. Dia singgah sejenak di Sri Lanka, kemudian menumpang kapal dagang melalui kawasan Asia Tenggara.
Nah, di tengah perjalanan menuju Tiongkok, Ibnu Batutah sempat berlabuh beberapa pekan di Samudra Pasai dan membangun relasi dengan Sultan Malik Az-Zahir II.