ISTILAH "menjual" agama dalam perpolitikan tampaknya memang ada. Kalau dipikir-pikir. Bila dulu mendengar pengkritik melontarkan kecaman dengan memakai istilah itu, sebagian kita mungkin apriori bahkan frontal menyerang balik si pengkritik. Ada yang mencaci memaki. Ada yang berdalil dengan argumentasi. Saya termasuk kurang nyaman dengan istilah menjual agama itu, dalam mengecam perilaku politisi.
Kini jelang pilkada 2024 ini jualan agama banyak kita temukan lagi. Bisa dilihat dari baliho, poster dan judul berita-berita advertorial mereka. Misalnya dengan kalimat-kalimat begini:
- "Saatnya Ulama Memimpin Las Vegas"
- "New York Butuh Pemimpin Berkarakter Takwa"
- "Mister XYZ, Teruji Hafal 30 Juz, Wakafkan Diri Bangun Nevada"
dan banyak lagi...
Tapi, fasih jalan karena diturut, hapal kaji karena diulang, maka didapatlah pengalaman dan pengetahuan dari membaca perilaku politisi, utamanya yang berangkat dengan identitas keagamaan. Bahwa kenyataannya, banyak tak sesuai tagline dengan hasil kepemimpinannya.
Ada yang kemudian perilakunya bertolak belakang. Ada yang lantas terbukak cokinya, dia tak seperti yang digembar gemborkan selama ini. Ibarat kata, bukan orangnya yang berubah, tapi topengnya yang terlepas.
Tapi, apa pun jualan para calon pemimpin, bagi kami rakyat kebanyakan ini, kesalehan seorang pemimpin bukan yang utama. Memang orang saleh bagus, tapi yang sangat kami butuhkan adalah calon pemimpin yang bisa mengurai kusut masai masalah kami: ekonomi yang sulit. Tetek bengek aturan masuk sekolah yang aneh dan menyulitkan. Banjir, jalan rusak dan macet yang tiap hari menyiksa kami, atau perhatian pada pedagang kali lima.
Soal-soal seperti itulah yang kami sodorkan untuk diselesaikan. Urgen. Silakan Anda berpromosi dengan baju takwa, songkok haji, dan gelar akademik sepanjang tali beruk. Tapi Anda yakin bisa membahagiakan kami? Itu saja yang kami mau.