Oleh : Eka Satria Taroesmantini

Bersileweran berita di televisi dan koran, ada juga diskusi, debat dan investigasi reporting. Tentang kedaulatan sebagai bangsa yang akhir-akhir ini kurang pandai dijaga oleh para pemimpin kita. Malaysia, dulu memang pantas didefinisikan sebagai bangsa serumpun _istilah yang selalu didengung-dengungkan, tetapi kian hari kian kehilangan makna_ kini sudah menjadi rival.

Kita mungkin juga masih menyimpan kebanggaan jika melongok kembali ke belakang, sekitar tahun 70an. Semangat "bangsa serumpun" rupanya membuat kita bersemangat ikut memajukan Malaysia yang baru mengecap kemerdekaan dan merenda bendera ekonomi mereka. Ribuan guru kita kirim untuk mendidik mereka, terutama dalam ilmu-ilmu dasar. Cara yang hebat yang dipikirkan dan dikerjakan pemimpin Malaysia:investasi sumberdaya manusia. Hasilnya, 30 tahun kemudian kita sudah terperangah mendapati Malaysia yang "sebenar-benarnya Asia" itu.

Rezim kita waktu itu alpa melakukan upaya yang sama: mengirimkan anak-anak muda belajar ke luar negeri. Padahal Soekarno sudah memulai melakukannnya dulu, mengirim pelajar kita ke Eropa timur untuk mengisap ilmu dan teknologi dari sana.

Soal membangun perekonomian pun kita kalah strategi dari kaum melayu tersebut. Pada saat yang sama kita dan Malaysia sama-sama memperoleh pinjaman luar negeri yang sangat bejibun. Tetapi apa yang dilakukan pemerintah Malaysia dan pemerintah Indonesia terhadap objek yang sama_(pinjaman asing) tersebut?

Pemerintah Malaysia menginvestasikan bantuan asing tersebut untuk membangun sumber daya manusianya, bantuan untuk berbagai riset di universitas-universitas, beasiswa dan hanya sedikit membelanjakan uang untuk membangun infrastruktur. Kita sebaliknya, bantuan asing kita gelontorkan untuk membangun jalan, jembatan, gedung-gedung dan hal-hal yang daya tahannya hanya akan berlangsung sekitar sepuluh atau dua puluh tahun saja. Malaysia justru dengan sumber daya yang sudah dipersiapkan mampu membangun infrastruktur saat ini.

Lalu kini dengan segala kemapanan ekonomi, Malaysia merasa diri mereka bukan lagi "anak ingusan" tapi sudah sejajar bahkan sangat mungkin ada perasaan over confident dalam hubungan multilateralnya, apalagi hubungan dengan bangsa serumpun mereka:Indonesia.

Kendati demikian, bukan berarti dalam hubungan kedua negara, Indonesia selalu menempatkan diri dalam banyak kecemasan sehingga berakibat lambannya respon pemerintah terhadap masalah-masalah yang timbul di antara kedua negara. Presiden, sebagai hulu ledak sekali-sekali perlu juga mempertontonkan "moncong senjata" terhadap pemerintah Malaysia. Karena sikap tegas tidak saja menguntungkan dalam menangani persoalan yang ada tetapi sekaligus akan memberi dorongan tumbuh dan mekarnya semangat nasionalisme rakyat yang kita tahu juga sudah berangsur rapun.