Welcome to Blog Jurnalis! Oce Satria Read and relish!

Puisi untuk Hati yang Tercuri

Sebab bagiku, ketulusan bukan tentang tiadanya luka, tapi tentang bagaimana kita merawat sisa-sisa debar di tengah hiruk-pikuk badai


𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐢𝐭𝐚: 𝐃𝐢 𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐑𝐢𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐧𝐠𝐤𝐢𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐭𝐚𝐤

Barangkali,
cinta hanyalah selembar memoranda personal
yang kita tulis dengan tinta yang nyaris habis,
di atas kertas kusam yang berkali-kali terlipat nasib.

Kita pernah berdiri di bibir kaldera yang maha panas,
menatap harapan yang sempat meranggas,
serupa dahan tua yang rapuh diterjang musim.

Langkah kita sering terhuyung, dipukul riam kesulitan
yang mengarus jauh ke hulu,
menepikan mimpi-mimpi
ke pojok kekalahan yang nelangsa.

Namun, lihatlah.

Di meja kayu yang mulai lapuk dimakan usia,
kita tetap menyeduh keikhlasan dalam gelas alumunium tanpa polesan, meski retak.

Asapnya masih mengepul, menari-nari di antara garis wajah kita
yang mulai digores waktu.

Sebab bagiku,
ketulusan bukan tentang tiadanya luka,
tapi tentang bagaimana kita merawat sisa-sisa debar
di tengah hiruk-pikuk badai yang mempersetankan doa.

Kita tak perlu algoritma untuk saling memahami,
Karena kita bisa mengerti hanya dengan satu tatapan benam yang tak pernah berdusta:
bahwa di antara perih yang kita nikmati,
ada janji yang tak akan pernah lesap dari gunjainya.

Oce ☕ Okt 2026
24 Masa 50 masa

Puisi untuk Hati yang Tercuri

/Oce

Menghela nafas dalam himpitan risau, aku seperti  angin yang menunda badai,
berharap langit benderang
atau malam ditemani gemintang
lalu menangkup kilaunya,
membilas luka yang telah purba 
mengoyak jiwa

Menaburkan netra dalam kelam dan mengabur,
aku seperti musafir yang dikurung awan dan lena tanpa peta,
berhasrat ada pelita senoktah saja
demi menuntun diri yang ringkih
disiksa bayang pesonamu

Memeluk bayang diri dalam nestapa,
aku seperti merasa engkaulah yang melingkarkan tangan di sekujur raga,
lalu menyaksikan matamu meneduh di ruang jiwa, merengkuh hasrat yang telah lama beku, dan mungkin mengabu

Benarkah itu engkau?

Menuliskan lagi imaji pada lembar-lembar daun di rimba raya ini,
aku seperti tengah menuliskan lagi larik-larik puisi ajaibmu yang membuai itu.

Andai aku berkuasa atasmu,
kupinta, berpuisilah hanya untukku saja,
untuk hati ini yang telah engkau curi

Meneroka belukar yang tak berujung ini,
aku seperti tak juga menemukan garis batas antara rimba dan sungai,
di mana aku bisa berenang di kebeningan dan arusnya yang memandikan raga fana ini.

Wahai engkau,
Tuliskan puisi baru untukku
Agar aku tak makin tersesat di kerinduan yang menyiksa ini 

Pku 2021

Hati Gagap

/Oce

Apakah hatimu gelap, 
hingga kunang-kunang pun mengendap-endap menujumu 

apakah hatimu pengap, 
hingga semilir megap-megap meniupmu

apakah hatimu sembab, 
hingga aroma terapi terkesiap saat mengusapmu 

Hai..hati, apakah aku yang gagap?

Pondok Kelapa 18 Okt 2011

Ulu Hati

/Oce

sembilu itu berasal dari hulu hati
sembilu itu mengiris hati
sembilu itu menyayat hati
sembilu itu pilu

mengapa hati mesti sembunyi
mengapa hati mesti mengiri
mengapa hati mesti menyayang

hati itu hulu.

Jkt 2011


Rate this article

Dukung editor dan penulis situsweb ini via Bank Rakyat Indonesia (BRI) No Rek: 109801026985507 - Kontak: 082113030454

Posting Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG TOPIK INI?: