𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐢𝐭𝐚: 𝐃𝐢 𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐑𝐢𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐧𝐠𝐤𝐢𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐭𝐚𝐤
Barangkali,
cinta hanyalah selembar memoranda personal
yang kita tulis dengan tinta yang nyaris habis,
di atas kertas kusam yang berkali-kali terlipat nasib.
cinta hanyalah selembar memoranda personal
yang kita tulis dengan tinta yang nyaris habis,
di atas kertas kusam yang berkali-kali terlipat nasib.
Kita pernah berdiri di bibir kaldera yang maha panas,
menatap harapan yang sempat meranggas,
serupa dahan tua yang rapuh diterjang musim.
menatap harapan yang sempat meranggas,
serupa dahan tua yang rapuh diterjang musim.
Langkah kita sering terhuyung, dipukul riam kesulitan
yang mengarus jauh ke hulu,
menepikan mimpi-mimpi
ke pojok kekalahan yang nelangsa.
yang mengarus jauh ke hulu,
menepikan mimpi-mimpi
ke pojok kekalahan yang nelangsa.
Namun, lihatlah.
Di meja kayu yang mulai lapuk dimakan usia,
kita tetap menyeduh keikhlasan dalam gelas alumunium tanpa polesan, meski retak.
kita tetap menyeduh keikhlasan dalam gelas alumunium tanpa polesan, meski retak.
Asapnya masih mengepul, menari-nari di antara garis wajah kita
yang mulai digores waktu.
yang mulai digores waktu.
Sebab bagiku,
ketulusan bukan tentang tiadanya luka,
tapi tentang bagaimana kita merawat sisa-sisa debar
di tengah hiruk-pikuk badai yang mempersetankan doa.
ketulusan bukan tentang tiadanya luka,
tapi tentang bagaimana kita merawat sisa-sisa debar
di tengah hiruk-pikuk badai yang mempersetankan doa.
Kita tak perlu algoritma untuk saling memahami,
Karena kita bisa mengerti hanya dengan satu tatapan benam yang tak pernah berdusta:
bahwa di antara perih yang kita nikmati,
ada janji yang tak akan pernah lesap dari gunjainya.
Karena kita bisa mengerti hanya dengan satu tatapan benam yang tak pernah berdusta:
bahwa di antara perih yang kita nikmati,
ada janji yang tak akan pernah lesap dari gunjainya.
Oce ☕ Okt 2026
24 Masa 50 masa
24 Masa 50 masa
Puisi untuk Hati yang Tercuri
/Oce
Menghela nafas dalam himpitan risau, aku seperti angin yang menunda badai,
berharap langit benderang
atau malam ditemani gemintang
lalu menangkup kilaunya,
membilas luka yang telah purba
mengoyak jiwa
Menaburkan netra dalam kelam dan mengabur,
aku seperti musafir yang dikurung awan dan lena tanpa peta,
berhasrat ada pelita senoktah saja
demi menuntun diri yang ringkih
disiksa bayang pesonamu
Memeluk bayang diri dalam nestapa,
aku seperti merasa engkaulah yang melingkarkan tangan di sekujur raga,
lalu menyaksikan matamu meneduh di ruang jiwa, merengkuh hasrat yang telah lama beku, dan mungkin mengabu
Benarkah itu engkau?
Menuliskan lagi imaji pada lembar-lembar daun di rimba raya ini,
aku seperti tengah menuliskan lagi larik-larik puisi ajaibmu yang membuai itu.
Andai aku berkuasa atasmu,
kupinta, berpuisilah hanya untukku saja,
untuk hati ini yang telah engkau curi
Meneroka belukar yang tak berujung ini,
aku seperti tak juga menemukan garis batas antara rimba dan sungai,
di mana aku bisa berenang di kebeningan dan arusnya yang memandikan raga fana ini.
Wahai engkau,
Tuliskan puisi baru untukku
Agar aku tak makin tersesat di kerinduan yang menyiksa ini
Pku 2021
Hati Gagap
/Oce
Apakah hatimu gelap,
hingga kunang-kunang pun mengendap-endap menujumu
apakah hatimu pengap,
hingga semilir megap-megap meniupmu
apakah hatimu sembab,
hingga aroma terapi terkesiap saat mengusapmu
Hai..hati, apakah aku yang gagap?
Pondok Kelapa 18 Okt 2011
Ulu Hati
/Oce
sembilu itu berasal dari hulu hati
sembilu itu mengiris hati
sembilu itu menyayat hati
sembilu itu pilu
mengapa hati mesti sembunyi
mengapa hati mesti mengiri
mengapa hati mesti menyayang
hati itu hulu.
Jkt 2011
