Fakta Al Qur'an Surah Az-Zariyat 47 dan Apa Kata Sains Modern?

(Foto: Space Science)


Hanya 5% Alam Semesta yang Terlihat — 95% Sisanya Masih Menjadi Salah Satu Misteri Terbesar Sains

Segala sesuatu yang pernah diamati manusia—setiap planet, bintang, galaksi, nebula, lubang hitam, dan bahkan Bima Sakti kita sendiri—hanya mencakup sekitar 5% dari total alam semesta. Menurut model kosmologi standar saat ini, 95% sisanya terdiri dari dua komponen misterius: materi gelap (sekitar 27%) dan energi gelap (sekitar 68%). Meskipun telah dilakukan penelitian selama beberapa dekade, para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti apa itu keduanya.

Materi gelap tidak terlihat karena tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan cahaya, sehingga tidak dapat dideteksi oleh teleskop biasa. Namun, para astronom mengetahui keberadaannya karena efek gravitasinya yang kuat. Salah satu bukti terkuat berasal dari cara galaksi berputar.

Di Tata Surya kita, planet-planet yang lebih jauh dari Matahari bergerak lebih lambat karena gravitasi melemah seiring bertambahnya jarak. Bumi mengorbit Matahari dengan kecepatan sekitar 30 km/detik, sementara Neptunus yang jauh mengorbit dengan kecepatan sekitar 5,4 km/detik. Jika galaksi berperilaku sama hanya berdasarkan materi yang terlihat di dalamnya, bintang-bintang di dekat tepi luarnya seharusnya mengorbit jauh lebih lambat daripada bintang-bintang di dekat pusatnya.

Sebaliknya, pengamatan menunjukkan bahwa bintang-bintang di wilayah luar galaksi bergerak jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan, namun tetap terikat secara gravitasi alih-alih terbang ke ruang angkasa. Gerakan yang tidak terduga ini menunjukkan bahwa galaksi dikelilingi oleh halo massa tak terlihat yang sangat besar. Para ilmuwan menyebut zat tak terlihat ini sebagai materi gelap, yang menyediakan gravitasi tambahan yang dibutuhkan untuk menyatukan galaksi.

Yang lebih misterius lagi adalah energi gelap, sebuah fenomena yang diyakini bertanggung jawab atas percepatan ekspansi alam semesta. Pada tahun 1998, para astronom menemukan bahwa ekspansi kosmos tidak melambat karena gravitasi seperti yang diperkirakan sebelumnya—melainkan justru meningkat. Energi gelap adalah nama yang diberikan kepada gaya tak dikenal yang mendorong percepatan ini, tetapi sifat sebenarnya tetap menjadi salah satu pertanyaan terbesar yang belum terjawab dalam fisika modern.




Pengamatan terkini dari misi-misi seperti satelit Planck milik Badan Antariksa Eropa (ESA), bersama dengan data dari Teleskop Luar Angkasa Hubble, Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), dan berbagai observatorium berbasis darat, terus menyempurnakan pemahaman kita tentang alam semesta. Namun, terlepas dari kemajuan luar biasa dalam astronomi, sebagian besar kosmos tetap tak terlihat dan tak terjelaskan.

Alam semesta mengingatkan kita bahwa apa yang dapat kita lihat hanyalah sebagian kecil dari realitas. Setiap penemuan baru membawa kita lebih dekat untuk memahami 95% yang tersembunyi, tetapi banyak misteri kosmik terbesar masih menunggu untuk dipecahkan. 

Apa itu Ekspansi Kosmos?

Ekspansi kosmos, atau ekspansi alam semesta, adalah fenomena di mana ruang itu sendiri meregang dan meluas dari waktu ke waktu. Akibatnya, jarak antara benda-benda langit yang tidak terikat oleh gravitasi lokal—seperti galaksi-galaksi yang jauh—terus bertambah. (www.npr.org)

1. Bukti Pengamatan dan Penemuan

Pada tahun 1929, astronom Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi di luar Bima Sakti bergerak menjauh satu sama lain. Dia mengamati bahwa cahaya dari galaksi yang lebih jauh mengalami redshift (pergeseran merah), yang berarti gelombang cahayanya merenggang akibat ruang yang membesar saat cahaya tersebut melakukan perjalanan menuju Bumi.

2. Bukan Bergerak di Luar Angkasa, Melainkan Ruangnya yang Memuai

Galaksi-galaksi tidak bergerak melalui ruang yang statis; melainkan ruang di antara galaksi-galaksilah yang memuai. Analogi yang sering digunakan adalah adonan roti kismis yang mengembang di dalam oven. Saat adonan (ruang) mengembang, kismis-kismis (galaksi) di dalamnya akan saling menjauh satu sama lain.

3. Teori Big Bang

Fenomena ekspansi ini menjadi dasar bagi Teori Big Bang. Jika saat ini alam semesta terus mengembang, maka di masa lalu alam semesta memiliki ukuran yang jauh lebih padat dan lebih kecil. Berdasarkan kecepatan ekspansi saat ini, para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta bermula dari titik singularitas yang sangat panas dan padat sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu.

4. Materi Gelap dan Energi Gelap

Selama miliaran tahun, para ilmuwan mengira bahwa gravitasi akan memperlambat laju ekspansi ini. Namun, pada tahun 1998, pengamatan menemukan bahwa ekspansi kosmos justru semakin cepat. Fenomena percepatan ini didorong oleh misteri kosmik yang disebut energi gelap (dark energy). Energi misterius ini bertindak sebagai "anti-gravitasi" yang mendorong ruang untuk meregang lebih cepat. (www.ebsco.com)

Kata Al Qur'an

Allah sendiri melalui firmanNya Al Quran kepada Nabi Muhammad 1.400 tahun lalu sudah memberitahu kita tentang fakta yang baru disadari ilmuwan abad modern. Surat Az-Zariyat ayat 47, yang menegaskan bahwa Allah membangun langit dengan kekuasaan dan Dia benar-benar terus meluaskannya.

Surah Az-Zariyat ayat 47 berbunyi: ÙˆَالسَّÙ…َاۤØ¡َ بَÙ†َÙŠْÙ†ٰÙ‡َا بِاَÙŠْىدٍ ÙˆَّاِÙ†َّا Ù„َÙ…ُÙˆْسِعُÙˆْÙ†َ (Wa as-samaa'a banainaha bi-aidin wa inna lamousi'oun).
Artinya: 
"Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya."

Dalam artikel di laman npr.org berjudul
What Does An Expanding Universe Really Mean?
(Apa Sebenarnya Arti dari Alam Semesta yang Mengembang?), diterangkan begini;

Bagaimana mungkin sesuatu yang sangat besar dapat mengembang? Pertanyaan lanjutan yang biasa muncul (terinspirasi oleh gambar balon yang mengembang) adalah: "Mengembang menjadi apa?" Pertanyaan yang bagus. Jawaban sederhananya adalah alam semesta tidak mengembang menjadi apa pun. Tidak ada ruang "di luar sana" untuk dimasukinya. Yang dilakukan oleh ekspansi kosmik adalah meregangkan ruang itu sendiri, seolah-olah ruang terbuat dari semacam bahan karet yang elastis. Tidak ada batas fisik di luar sana, hanya ruang yang meregang.

Pada tahun 1929, astronom Amerika Edwin Hubble mengukur ekspansi dan menunjukkan bahwa ekspansi tersebut mematuhi hukum yang sangat sederhana, di mana galaksi-galaksi bergerak menjauh satu sama lain dengan kecepatan yang meningkat sebanding dengan jaraknya. Jadi, seorang pengamat melihat galaksi yang dua kali lebih jauh dari galaksi yang lebih dekat bergerak menjauh (atau menyusut) dua kali lebih cepat. (Oce)

Sumber: 
Space Scope
NASA, ESA (Misi Planck), Teleskop Luar Angkasa Hubble, Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), dan model kosmologi Lambda Cold Dark Matter (ΛCDM).
Al Quran.



Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Below Post Ad