Welcome to Blog Jurnalis! Oce Satria Read and relish!

Sinéad O’Connor dan Harga yang Harus Dibayar untuk Sebuah Kebenaran



Sinéad O’Connor dan Harga yang Harus Dibayar untuk Sebuah Kebenaran

Pada 1992, penyanyi asal Irlandia itu menghadapi amuk 20 ribu penonton setelah merobek foto Paus Yohanes Paulus II di televisi. Sepuluh tahun kemudian, dunia mulai menemukan kebenaran yang pernah ia suarakan.

Madison Square Garden, New York, 16 Oktober 1992. Malam itu, Sinéad O’Connor datang ke sebuah konser penghormatan untuk Bob Dylan. Ribuan penonton memenuhi arena. Sejumlah musikus besar hadir, dari Eric Clapton hingga George Harrison. Namun, ketika nama Sinéad disebut, yang terdengar bukan tepuk tangan, melainkan gelombang cemoohan.

Perempuan berusia 25 tahun itu berdiri di tengah raungan penonton. Kepala plontos, pakaian longgar, tubuh kecil. Ia tampak sendirian menghadapi puluhan ribu orang yang telah lebih dulu menjatuhkan vonis kepadanya.

Dua pekan sebelumnya, Sinéad melakukan tindakan yang mengubah perjalanan kariernya. Dalam acara Saturday Night Live, ia menyanyikan “War”, lagu Bob Marley yang liriknya berbicara tentang kesetaraan dan penindasan. Ia mengubah sebagian liriknya untuk menyoroti persoalan pelecehan anak.

Setelah menyelesaikan lagu, ia mengangkat foto Paus Yohanes Paulus II ke arah kamera. Foto itu kemudian ia robek menjadi beberapa bagian.

“Lawan musuh yang sebenarnya,” katanya.

Adegan itu berlangsung singkat. Dampaknya bertahan bertahun-tahun.

Ketika Publik Menolak Mendengar

Sinéad tidak sedang mempromosikan album atau mencari perhatian dengan cara yang lazim dilakukan seorang bintang pop. Ia hendak menyampaikan protes terhadap pelecehan seksual terhadap anak-anak dan apa yang ia yakini sebagai upaya Gereja Katolik menutupi persoalan tersebut.

Namun, publik Amerika saat itu lebih sibuk memperdebatkan tindakannya merobek foto Paus ketimbang mempertimbangkan pesan di baliknya.

Kecaman datang bertubi-tubi. Sejumlah stasiun radio berhenti memutar lagu-lagunya. Tokoh hiburan mengecamnya secara terbuka. Frank Sinatra menyatakan kemarahannya, sementara Joe Pesci, yang menjadi pembawa acara Saturday Night Live pada pekan berikutnya, mengatakan bahwa ia akan menampar Sinéad seandainya berada di sana.

Bagi banyak orang, tindakannya dianggap sebagai penghinaan terhadap agama. Sebagian lain memandangnya sebagai ulah penyanyi yang sengaja mencari sensasi. Pesan tentang anak-anak yang menjadi korban pelecehan tenggelam di bawah amarah publik.

Sinéad berusaha menjelaskan maksudnya. Ia tidak menarik ucapannya, apalagi meminta maaf atas protes tersebut.

Tetapi keberanian menyampaikan sesuatu tidak selalu membuat orang lain bersedia mendengarnya. Ada kalanya, pembawa pesan justru menjadi sasaran kemarahan karena pesannya mengusik keyakinan yang telah lama dianggap tak boleh dipertanyakan.

Dua pekan setelah insiden itu, Sinéad menghadapi akibatnya secara langsung di Madison Square Garden.

Konser tersebut diselenggarakan untuk memperingati 30 tahun perjalanan karier Bob Dylan. Para musikus papan atas datang untuk memberi penghormatan kepada sang legenda. Di antara mereka, Sinéad dijadwalkan membawakan “I Believe in You”, lagu Dylan tentang keyakinan di tengah penolakan.

Kris Kristofferson mendapat tugas memperkenalkannya.

Sebagai penulis lagu dan musikus yang telah lama berkecimpung di industri hiburan, Kristofferson memahami bahwa panggung besar tidak selalu menjadi tempat yang ramah bagi seseorang yang memilih jalan berbeda. Ia juga mengenal risiko ketika seorang seniman menyampaikan sikap yang bertentangan dengan kehendak publik.

Begitu Kristofferson menyebut nama Sinéad, penonton langsung bereaksi. Ejekan membahana. Sorakan terus membesar, bercampur teriakan dan gerakan penghinaan dari sejumlah orang di antara kerumunan.

Sinéad melangkah ke panggung. Suara penonton menyambutnya seperti dinding yang hendak meruntuhkan keberaniannya.

Ia semula hendak menyanyikan lagu Dylan. Namun, dalam situasi yang semakin sulit dikendalikan, rencana itu berubah.

Sinéad memilih menyanyikan “War” milik Bob Marley, lagu yang sama yang ia bawakan di televisi dua pekan sebelumnya. Ia kembali menyuarakan pesan tentang kesetaraan manusia, diskriminasi, dan perdamaian.

Bukan lagi penampilan musik biasa. Malam itu, ia seperti sedang mempertahankan alasan di balik tindakannya, tepat di hadapan orang-orang yang menolaknya.

Penonton terus mencemooh. Suara mereka menenggelamkan nyanyiannya. Sinéad berusaha melanjutkan, tetapi suasana tak memberinya ruang untuk menyelesaikan lagu.

Ia akhirnya menghentikan penampilannya dan meninggalkan panggung.

Di sisi panggung, Kristofferson menunggunya.

Sinéad menangis. Amarah, tekanan, dan rasa terpukul bercampur menjadi satu. Kristofferson merangkulnya, mendekatkan wajah ke telinganya, lalu berbisik, “Jangan biarkan bajingan itu menjatuhkanmu.”

Kalimat itu menjadi salah satu bagian paling dikenang dari peristiwa tersebut. Di tengah ribuan orang yang menolak kehadirannya, setidaknya ada satu orang yang memilih berdiri di sisinya.

Kristofferson tidak harus sepakat dengan setiap tindakan Sinéad untuk memahami bahwa penghinaan massal bukanlah cara yang adil untuk menanggapi sebuah pendapat.

Sepuluh Tahun Kemudian

Waktu bergerak, dan persoalan yang pernah coba disuarakan Sinéad memperoleh perhatian yang jauh lebih besar.

Pada 2002, The Boston Globe menerbitkan laporan investigasi tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh pastor Katolik di Boston dan upaya para pejabat gereja menangani kasus-kasus tersebut. Laporan itu mengungkap bagaimana pemindahan pastor yang dituduh melakukan pelecehan turut memungkinkan persoalan berlanjut, alih-alih melindungi para korban.

Investigasi tersebut menjadi salah satu titik penting dalam terbukanya skandal pelecehan seksual di Gereja Katolik Amerika Serikat. Perhatian publik meluas, para korban mulai memperoleh ruang untuk bersuara, dan lembaga gereja menghadapi tekanan untuk mempertanggungjawabkan penanganan kasus-kasus tersebut.

Apa yang terjadi pada 1992 dan pengungkapan pada 2002 bukanlah satu peristiwa yang sepenuhnya sama. Namun, keduanya bertemu pada persoalan mendasar: bagaimana masyarakat merespons tuduhan pelecehan seksual ketika tuduhan itu menyentuh institusi yang memiliki pengaruh besar.

Sinéad telah berbicara jauh sebelum pengungkapan besar itu mengubah perbincangan publik. Ia memang tidak sendirian mengangkat persoalan tersebut, tetapi tindakannya di televisi menjadi salah satu momen yang memperlihatkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar seseorang ketika menyampaikan tuduhan yang tidak ingin didengar banyak orang.

Pengakuan terhadap keberaniannya datang bertahun-tahun kemudian, ketika kemarahan yang dahulu diarahkan kepadanya mulai bergeser menjadi pertanyaan tentang pihak-pihak yang memiliki kuasa untuk mencegah pelecehan.

Namun, perubahan pandangan publik tidak dapat mengembalikan tahun-tahun yang telah berlalu. Sinéad harus menjalani masa panjang ketika namanya lebih sering dikaitkan dengan kontroversi ketimbang alasan yang mendorongnya melakukan protes.

Pada 2018, ia mengumumkan keputusannya memeluk Islam dan menggunakan nama Shuhada’ Sadaqat. Lima tahun kemudian, pada Juli 2023, ia meninggal dunia dalam usia 56 tahun.

Seusai kematiannya, penghormatan datang dari berbagai penjuru. Banyak orang kembali membicarakan keberaniannya, termasuk sikapnya terhadap pelecehan seksual dalam Gereja Katolik. Sosok yang pernah dicemooh itu mulai dikenang sebagai seniman yang bersedia menanggung konsekuensi atas keyakinannya.

Kristofferson pun menulis lagu berjudul “Sister Sinead” untuk mengenangnya. Lagu tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada seorang perempuan yang pernah ia lihat menghadapi kemarahan ribuan orang, lalu meninggalkan panggung dalam keadaan terpukul.

Harga Sebuah Keberanian

Kisah Sinéad O’Connor memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk kemenangan. Terkadang, keberanian justru tampak ketika seseorang berdiri di hadapan orang banyak, menyampaikan sesuatu yang diyakininya benar, lalu harus menanggung akibatnya sendirian.

Ia kehilangan dukungan, menghadapi kecaman, dan menyaksikan reputasinya berubah menjadi sasaran kemarahan. Sementara itu, persoalan yang ia soroti baru mendapat perhatian luas setelah bertahun-tahun berlalu.

Kita tak perlu menganggap setiap tindakan Sinéad benar untuk memahami arti peristiwa tersebut. Merobek foto seorang pemimpin agama memang dapat memancing kemarahan. Namun, tindakan itu juga semestinya mengundang pertanyaan: mengapa pesan tentang perlindungan anak justru tertutup oleh perdebatan mengenai simbol yang ia rusak?

Di Madison Square Garden, Sinéad gagal menyelesaikan lagunya. Penonton berhasil membungkam suaranya malam itu. Tetapi mereka tidak bisa menghentikan pertanyaan yang telah ia ajukan.

Sejarah sering kali memperlakukan orang secara berbeda setelah bukti-bukti bermunculan dan pandangan masyarakat berubah. Mereka yang dahulu dicap sebagai pembuat masalah bisa dikenang sebagai orang yang berani mengingatkan publik tentang sesuatu yang diabaikan.

Sinéad O’Connor tidak hidup untuk menyaksikan seluruh perubahan itu. Yang tertinggal adalah suaranya, tindakannya, dan sebuah pelajaran yang tak selalu nyaman diterima: kebenaran tidak otomatis dipercaya hanya karena seseorang berani mengatakannya.

Kadang-kadang, masyarakat baru bersedia mendengar setelah orang yang pertama kali berbicara telanjur menanggung akibatnya. (Oce)





Rate this article

Dukung editor dan penulis situsweb ini via Bank Rakyat Indonesia (BRI) No Rek: 109801026985507 - Kontak: 082113030454

Posting Komentar

APA PENDAPAT ANDA TENTANG TOPIK INI?: